Petikan Kelopak Bunga Pertama

“Apa harus sekonyol ini caranya?” Orosh menatap sahabatnya tidak percaya, dan dibalas hanya dengan menggedikkan bahunya, “coba saja, cara lama.”

Leo lalu mulai menyulut rokoknya, menawarkan ke Orosh, basa – basi, bagaimana sebagai sahabat pun Leo sudah tahu bahwa Orosh tidak merokok. Namun, melakukan perjalanan panjang menuju puncak dan minum dan merokok tidak terasa seru.

Apalagi ditambah dengan kebimbangan hati, semakin kacaulah perjalanan panjang ini.

“Bagaimana bisa gue mencapai puncak tertinggi dan menyelam ke laut terdalam kalau hati wanita aja belum bisa gue jelajahi?” Orosh berbicara pada dirinya sendiri, setengah berbisik, sambil tetap mempertimbangkan saran aneh dari Leo yang tidak kunjung dia lakukan.

“Mana gue tahu? Gue udah pacaran lama soalnya, sama dia..” Leo menunjuk ke selatan, puncak yang masih harus dicapai dalam hitungan hari. Bagi Leo pacar itu hanya satu, alam. Istri itu baru wanita, yang belum dia coba selami juga hatinya.

Bukan pemberi saran yang baik, cemoh Orosh dalam hati, merutuk pada dirinya terlalu banyak mempunyai teman lelaki sehingga tidak bisa bercerita kepada satu – dua teman wanitanya tentang masalah wanita. Karena masalah wanita ya hanya wanita yang mengerti, bukan Leo.

Orosh menghembuskan napas panjang, mengingat kembali akan seseorang yang berada di ribuan kilometer dari jaraknya sekarang, sosok yang berhasil membuatnya bimbang seperti ini. Udara dingin pegunungan dan kebimbangan hati, sempurna. Orosh memejamkan matanya, membuat konstruksi wajah sosok tersebut, manis, dengan mata binar yang polos, hidung yang mungil, senyum kecil yang kekanakan, rambut panjang lurus yang selalu dibiarkan tergerai.

Orosh melihat satu bunga kecil tersebut – yang sepertinya sengaja dipetik oleh Leo,  “jatoh pas gue lewat tadi,” timpal Leo asal, berbohong. “Tapi udah terlanjur juga mati bunganya, jadi sekalian aja lo pake buat jalanin saran gue itu,” lanjut Leo, tanpa merasa bersalah. Bunga dengan kelopak yang banyak, kecil sekali, berwarna putih gading dengan putik berwarna kuning,  indah. Dalam hati Orosh mengutuk Leo habis – habisan, bagaimana sahabatnya itu bisa melarang Orosh dan teman – temannya untuk jangan sama sekali memetik Edelweiss namun bunga seindah ini dia dengan cuek saja memetiknya. “Lamar.. “ Orosh mulai mencopot satu kelopak bunga tersebut, “Tidak..” Lalu dilanjutkan lagi mencopot satu kelopak lainnya. Orosh menghentikan kegiatan copot – mencopot kelopak bunga tersebut, selain tidak tega dengan perlakuannya terhadap tumbuhan, cara ini benar –  benar semakin terlihat konyol karena yang melakukannya adalah seorang lelaki.

“Cara lo aneh, udahan ah! Gue tanya Methi aja,” Orosh gusar, menaruh  bunga ke dalam jaket polar merahnya, meninggalkan Leo dan berjalan menuju tenda pendaki wanita yang cukup dekat dengan Orosh.

“Haha… Lagian yang konyol tuh elo, mau lamar anak umur dua belas tahun!!” Teriak Leo, sambil tertawa lalu terbatuk – batuk, tertelan asap rokoknya sendiri.

Orosh mendengus kesal, pasti ujung- ujungnya kalimat itu lagi yang keluar.

“Tobat woi!! Jangan suka sama anak kecil!!”

“Apa harus sekonyol ini caranya?” Orosh menatap sahabatnya tidak percaya, dan dibalas hanya dengan menggedikkan bahunya, “coba saja, cara lama.”

Leo lalu mulai menyulut rokoknya, menawarkan ke Orosh, basa – basi, bagaimana sebagai sahabat pun Leo sudah tahu bahwa Orosh tidak merokok. Namun, melakukan perjalanan panjang menuju puncak dan minum dan merokok tidak terasa seru.

Apalagi ditambah dengan kebimbangan hati, semakin kacaulah perjalanan panjang ini.

“Bagaimana bisa gue mencapai puncak tertinggi dan menyelam ke laut terdalam kalau hati wanita aja belum bisa gue jelajahi?” Orosh berbicara pada dirinya sendiri, setengah berbisik, sambil tetap mempertimbangkan saran aneh dari Leo yang tidak kunjung dia lakukan.

“Mana gue tahu? Gue udah pacaran lama soalnya, sama dia..” Leo menunjuk ke selatan, puncak yang masih harus dicapai dalam hitungan hari. Bagi Leo pacar itu hanya satu, alam. Istri itu baru wanita, yang belum dia coba selami juga hatinya.

Bukan pemberi saran yang baik, cemoh Orosh dalam hati, merutuk pada dirinya terlalu banyak mempunyai teman lelaki sehingga tidak bisa bercerita kepada satu – dua teman wanitanya tentang masalah wanita. Karena masalah wanita ya hanya wanita yang mengerti, bukan Leo.

Orosh menghembuskan napas panjang, mengingat kembali akan seseorang yang berada di ribuan kilometer dari jaraknya sekarang, sosok yang berhasil membuatnya bimbang seperti ini. Udara dingin pegunungan dan kebimbangan hati, sempurna.

Orosh melihat satu bunga kecil tersebut – yang sepertinya sengaja dipetik oleh Leo,  “jatoh pas gue lewat tadi,” timpal Leo asal, berbohong. “Tapi udah terlanjur juga mati bunganya, jadi sekalian aja lo pake buat jalanin saran gue itu,” lanjut Leo, tanpa merasa bersalah. Bunga dengan kelopak yang banyak, kecil sekali, berwarna putih gading dengan putik berwarna kuning,  indah. Dalam hati Orosh mengutuk Leo habis – habisan, bagaimana sahabatnya itu bisa melarang Orosh dan teman – temannya untuk jangan sama sekali memetik Edelweiss namun bunga seindah ini dia dengan cuek saja memetiknya. “Lamar.. “ Orosh mulai mencopot satu kelopak bunga tersebut, “Tidak..” Lalu dilanjutkan lagi mencopot satu kelopak lainnya. Orosh menghentikan kegiatan copot – mencopot kelopak bunga tersebut, selain tidak tega dengan perlakuannya terhadap tumbuhan, cara ini benar –  benar semakin terlihat konyol karena yang melakukannya adalah seorang lelaki.

“Cara lo aneh, udahan ah! Gue tanya Methi aja,” Orosh gusar, menaruh  bunga ke dalam jaket polar merahnya, meninggalkan Leo dan berjalan menuju tenda pendaki wanita yang cukup dekat dengan Orosh.

“Haha… Lagian yang konyol tuh elo, mau lamar anak umur dua belas tahun!!” Teriak Leo, sambil tertawa lalu terbatuk – batuk, tertelan asap rokoknya sendiri.

Orosh mendengus kesal, pasti ujung- ujungnya kalimat itu lagi yang keluar.

“Tobat woi!! Jangan suka sama anak kecil!!”

Owned by @mutantitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s