Mungkin ini semacam tanggung jawab moral..

… saya sebagai reviewer atas postingan lalu saya tentang ini —> Review Sruput Sendok, Fatmawati

Mengapa? Karena beberapa kali saya cek banyak reader yang mendapatkan post ini dengan kata kunci “Wedangan Sruput Sendok Review”, yang berarti cukup banyak orang yang penasaran dengan tempat makan semi-angkringan yang berada di pinggir jalan ini (entah penasaran karena ‘kok sepi mulu sih?’ atau ‘kok sepertinya ngga laku’?).

Jadi ini, review kedua saya, sebagai pengunjung yang sama di kunjungan selanjutnya. Sesuai janji saya di kalimat ini —> Will back to this place soon, especially at 6 p.m, will try Kopi Jozz (6k), Jaddah (9k something), Wedhang (10k), Beras Kencur, etc.

Tapi sayangnya, dengan penilaian yang berbeda, maafkan saya, saya kecewa berat dengan tempat yang sudah berumur 6 bulan ini.

Tanggal 8 Juli 2013, hari yang disinyalir sebagai hari terakhir makan siang sebelum puasa, beberapa dari kami memutuskan untuk makan siang di luar karena beberapa kantin di sekitar kantor sudah memutuskan untuk tidak berjualan. Pekerjaan yang menuntut saya harus menuju tempat makan – yang pasti sudah penuh – di atas jam 12:30, keterlambatan, risiko besar tidak mendapatkan makan siang saya.

Forget about my 6-small-portions-program, I just want to eat. Maka saya memutuskan menyusul beberapa teman saya ke Ganto Minang, namun sayang, penuh sekali dan banyak pengunjung egois yang muka tembok ngobrol padahal hidangannya sudah habis bermenit – menit lalu. Perut lapar, kesal, saya menuju ke sebelah, yaitu Wedhangan Sruput Sendok. Beberapa teman saya sudah ke sana duluan, dan benar, bahkan mereka sudah menyelesaikan ritual makan siang mereka, namun mereka mau menunggu.

“Tempat ini cabang dari Solo, kalau di Solo Pak Jokowi suka main kemari, makanya pas dia jadi Gubernur disini, dia nanya kapan buka di Jakarta, jadi kami buka disini juga”, the owner said. —. from my old post

Awal saya kesini, notabene tempat makan ini baru berumur hari, banyak pembicaraan yang saya lakukan dengan sang pemilik tempat makan tersebut. Mungkin saya masih hitungan pengunjung ke sekian (satuan, bukan belasan atau puluhan), dan si pemilik berusaha mempromosikan dengan gencar tentang tempat makan ini. Very nice impression from the owner.

Maka salah kalau saya berpikir akan kembali bisa berbicara hangat dengan si pemiliknya di kunjungan kedua saya ini?

Saat mau memesan makan di tempat biasa ini

Yummy

si Ibu seakan sedang melakukan hal lain, saya memesan nasi liwet karena kelewat lapar (dan ngga lihat harganya yang bikin saya kaget) dan si Ibu tidak memberikan reaksi apa – apa, tatapannya dingin lalu berlalu meninggalkan saya. Saya bingung tapi saya yakin pesanan saya sudah tercetak di ingatannya sehingga saya kembali ke bangku saya bersama teman – teman saya, “Ray, kamu yakin mau pesan nasi liwet?” Teman saya menunjuk ke dinding atas, tempat harga tercantum di sana, dan ternyata beberapa harganya sudah naik sampai 50% dalam waktu 6 bulan ini. Kaget dengan harga nasi liwetnya seharga 25 ribu (ini bukan mahal, tapi mahal banget untuk standar kuliner Solo di pinggir jalan), maka saya membatalkan dan mengatakannya ke ibu yang satu lagi yang jauh lebih ramah. Lagi, ternyata pesanan awal pun belum dibuat sama ibu ramah ini karena tidak ada perintah apa – apa dari si pemilik (tadi saya pesan nasi liwet loh, Bu. Damn!).

Lapar bikin emosi. Emosi bikin lapar. Cocok.

Nasi rames (dulu 9rb sekarang heboh jadi 15 rb) pun habis, hopeless saya memilih menu yang kurang saya sukai, yang penting makan, tidak ada 1 mL asam lambung yang berlomba – lomba naik ke rongga kerongkongan. Dongkol. Si Ibu pemilik melirik saya saja tidak, padahal lewat berkali – kali di depan kami. Keramahannya 6 bulan lalu benar – benar hilang, acuh tak acuh kepada para pembelinya. Padahal pengunjung di tempat makan tersebut sangat sedikit.

Saat saya menyelesaikan makanan setengah – setengah saya, ada seorang bapak yang (terpaksa) harus dilayani oleh pemilik tersebut. Tanpa senyum, pemilik tersebut menjawab sekenanya makanan apa yang masih ada. Lalu sepertinya si Bapak memesan nasi liwet.

Beberapa kali suapan, si pemilik dipanggil oleh Bapak tersebut, dengan tenang, tanpa komplain berlebihan (akan berbeda tentunya kalau itu saya, saya lebih senang satu atau dua meja di sekitar saya mendengar), si Bapak menunjukkan satu-helai-rambut-putih ke si pemilik. Satu helai rambut tersebut dikeluarkan dari mulut Bapak tersebut. Tanpa kata maaf, tanpa satu kata apa pun yang terucap dari mulut si pemilik, Ibu tersebut menarik piring si Bapak dan beberapa saat kemudian menggantinya. Tanpa kata maaf. Kami yang sebelahan dengan si Bapak mengamati diam – diam.

Apa benar Jokowi minta secara pribadi tempat makan ini harus ada di Jakarta? Apa pernah Jokowi ke sini dan menikmati pelayannya setidaknya satu bulan terakhir ini?

Kecewa.

Tidak cuma seseorang, bahkan tempat makan pun harus menampakkan impression yang baik di awal.

Namun juga di awal.

Berjalannya waktu, seperti manusia, akan terlihat aslinya.

So, I highly recommend you, not to visit here.

Maaf

 

7 Comments Add yours

  1. Tomi Aribowo says:

    Lagi coba wisata kuliner ya? udah coba ke jalan Kemang Utara blom? di Legipait. ya cuma buat nongkrong sama ngopi2 sih.

    1. biasa mas tom, kalo ada bu elly mah kemana – mana dijabanin sama dia. haha. Jauh ya kalo Kemang mah sama rumah aku, macet pula, heuheu

  2. duniaely says:

    wah … kebayang andai saya ada disana pasti sdh meledak lihat sikap si ibu itu

    1. Tapi kalau mau dicoba silahkan ke sana mbak, mungkin dua kali belakangan saya lagi sial, hehe.

  3. desywu says:

    heh? sempet ada insiden ‘rambut putih’ ya? aku ga tauuuu. parah banget tu warung. aku juga cukup dua kali ke sana ray. ga mau yg ke tiga kali. masih jauh lebih baik di samping citos.

    1. wahahhaa.. iyaaaa, ngga sangka yah? aku kaget dan lihat wajah ownernya ya ampun, aku ngga yakin dia bisa bertahan dua tahun ke depan loh kalau servicenya seperti itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s