Finish Line

“Salah ngga sih kalau gue cari pelarian?” Likha membuka percakapan setelah mengunci tatapan kosongnya ke satu gedung di arah Selatan yang menjulang tinggi. Sepertinya Likha mencoba menancapkan semua masalahnya ke penangkal petir di ujung gedung tersebut.

“Ngga, asal tahu aja garis finish yang dituju.” Jawabku, sekenanya, sambil menyesap batang rokok terakhirku, ini sudah yang keempat dalam sehari ini, aku berjanji akan membatasi konsumsi rokokku yang semakin lama mengalami kemajuan, dari satu lusin batang rokok menjadi empat batang sehari.

Likha menggedikkan bahunya, “ngga ada finishnya sih. Maunya ya.. situ – situ aja.”

“Kalau begitu ya rasakan aja lelahnya.”

Sepertinya aku terlalu spontan menjawabnya, air mukanya langsung berubah, sendu.

“Ahh.. ”

“Raya ini.. analoginya, sempurna.” Tatapnya, sinis ke arahku, mencabut perhatiannya ke gedung tinggi tersebut dan beralih ke mataku.

I’m a writer, in case you forgot.”

Likha menghela napas panjang, entah karena jawabanku yang lagi – lagi sekenanya atau masalah yang dia hadapi saat ini, yang pasti aku tidak bisa memberikan saran terbijakku di usiaku yang mempunyai jarak yang cukup jauh dengan Likha.

Namun aku yakin, Likha sebenarnya sudah menemukan garis finishnya.

Dia hanya butuh mundur beberapa langkah lagi untuk kembali melihat garis tersebut.

Karena aku melihatnya dengan jelas dari sini, sebagai penonton.

Dan Likha, sebagai atletnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s