Transfer Virus di Senja

Sore itu, jalan tol JORR dipenuhi oleh kendaraan roda empat ke atas yang menuju ke arah Bandung, Sabtu ternyata menjadi hari sempurna untuk melakukan perjalanan panjang, dengan asumsi menghindari kemacetan pada Jumat malam. Namun ternyata ada ratusan pengendara yang mempunyai asumsi tersebut, sehingga kemacetan tetap harus dinikmati dengan pasrah oleh pengendara maupun penumpangnya. Tidak hanya pengendara dan penumpangnya, keluarga, teman – teman atau pengendara yang menyetir sendirian tanpa teman, truk tronton mulai ikut tumpah ruah ke jalan tol tersebut, karena Jumat lalu terlalu banyak menghabiskan bensin karena kemacetan yang tidak lumrah.

Begitu juga Alika dan Ata di jalur JORR yang menuju Bandung, walau pun mereka sebenarnya hanya menuju ke daerah Depok, mereka harus melewati jalan tol JORR dari daerah di Tangerang Selatan.

“Aku lagi sakit, jadi siap – siap minum vitamin C aja kamu,” Ata tidak melepas pandangan dari  jalanan, dibesarkan volume radio dari setirnya, menikmati lagu kesukaannya, lagu kesukaan mereka berdua. Batuk – batuknya masih terdengar, lebih sering dari di kelas tadi. Mungkin Ata menahan keras agar tidak terlalu sering terbatuk, sedangkan di sini cuma ada Alika, yang harus pasrah berbagi virus dengan Ata.

Alika melihat sekilas Ata, menganggukkan kepalanya pelan, “ya, kamu menularkan virus ke seluruh kelas, dan dosis terbesar virus tersebut ke aku.” Alika mendengus sebal, virus yang sudah berhasil tertidur lelap beberapa minggu lalu harus terbangun kembali karena teman – teman virusnya berkunjung kembali ke tubuhnya, membangunkan dan mengaktifkannya. Alika akan tertular sakit hanya dalam hitungan jam saja.

Ata tergelak sebentar, “kamu dengar sendiri kata dosen kita tadi. Kalau sistemnya AC Sentral, virus tidak akan menyebar, tapi ini bukan AC sentral jadi..”

“jadi.. sirkulasi udaranya berputar – putar saja begitu juga dengan virusnya.” Potong Alika, yang menyenderkan kepalanya ke kaca, menatap mobil yang semakin bertambah volumenya, Ata sampai kesulitan memotong jalur agar bisa keluar ke arah Pasar Minggu lalu berputar balik lewat Rancho menuju Depok.

Ata kembali terbatuk – batuk dan mengusap hidungnya yang dipenuhi lendir, beberapa kali bersin – bersin sampai matanya berair. Alika merasa kasihan lalu lekas mengambil tisu di tasnya dan memberikan ke Ata, “kamu berhenti dulu, keluarin tuh ingus kamu.” Alika membelai rambut Ata, “kasihan pacarku ini, udah sakit, bagi – bagi gratis virus pula sama pacarnya.”

“Tanggung, udah mau sampai ke rumah kamu, kok.” Ata menolak, namun di dashboardnya sudah ada sekotak tisu sebagai persediaan dia mengusap hidungnya.

Ata membelokkan mobilnya ke komplek perumahan besar di Depok 2, berhenti di depan rumah Alika.

“Kamu bener langsung pulang aja? Istirahat dulu aja di dalam rumah.” Alika merasa khawatir karena kondisi Ata tidak baik untuk melanjutkan perjalanan ke rumahnya, “setidaknya kamu tidur dulu sejam – dua jam.”

Ata tersenyum,”ngga usah, hanya butuh satu jam kurang , kok. Jangan terlalu khawatir.”

“Hmm..” Alika masih keberatan, namun pacarnya lebih keras lagi wataknya. Alika mengalah, lalu mendekat ke arah Ata, menempelkan bibirnya ke bibir Ata, lama dan lembut.

“Aku rugi kalau virus itu datang menghampiri aku hanya karena kita semobil. Kalau karena begini caranya aku ikhlas sakit ketularan kamu.” Alika mengedipkan matanya, lalu keluar dari mobil sebelum Ata menahannya untuk mengacak – acak rambutnya.

“Hati – hati, Sayang.” Alika menutup pintunya, dan tersenyum manis dari luar, memberikan semangat terbarukan buat Ata untuk sedikit melupakan rasa sakitnya dan menikmati perpisahan yang mengejutkan tadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s