Book Review: Perempuan – Perempuan Harem

Identitas buku

Judul: Perempuan – Perempuan Harem (Dreams of Tresspass: Tales of a Harem Girlhood)

Author: Fatima Mernissi

Genre: Non – Fiksi

Terbitan: Adisson Wesley – Publishing Company

Tahun: 1994

Penerbit di Indonesia: Qanita

Tebal Halaman: 336 halaman

ISBN: 978-979-3269-81-8

Achievement: The Winner of Prince of Asturias Award

Harga: Lupa, pokoke murah, di kumpulan buku murah TM Bookstore

 

“… was when there was a balance between what you gave and what you took”

 

Apa yang kamu tahu tentang harem? Apakah benar hanya bangunan yang sangat besar, tempat di mana seluruh wanita dan gadis – gadis terkungkung pada sebuah bangunan megah yang tidak dapat membebaskan mereka dari dunia luar?

“Istana megah dikelilingi tembok dengan lantai marmer dan air mancur, makanan yang baik dan buah – buahan segar, perempuan – perempuan cantik gemulai berbusana sutra mewah bertabur permata bermalas – malasan di atas dipan, para budak dan pelayan bergelesotan di lantai mendampingi, dan para kasim penjaga pintu gerbang.”

Citra tersebut sering dideskripsikan secara mentah mengenai harem, namun bagi Fatema Mernissi yang tinggal ke harem keluarga, tinggal di tempat ini yang membatasi kebebasan para wanita mampu mengukir mimpinya untuk menjadi sosok pembebasan wanita.

Fatema Mernissi lahir pada tahun 1940 di Maroko, dibesarkan di Kota Fez dan di harem. Segala aktifitas di dalam harem dijalankan secara teratur, tidak boleh keluar halaman dan waktu sarapan, makan siang dan makan malam yang diatur, dan semua larangan untuk tidak bernyanyi, tidak menari, tidak boleh berisik dan jutaan aturan tidak tertulis lainnya atas nama tradisi turun – temurun.

Fatema kecil pada saat itu tinggal bersama Nenek, Paman, dan sepupu – sepupunya. Di harem tersebut ia tinggal bersama Nenek dari Ayahnya yang bernama Lalla Mani (Lalla adalah panggilan untuk yang dituakan), Paman dan tujuh anaknya, Ayah dan Ibunya, dan saudara – saudara lainnya. Masa kecil Fatema dihabiskan dengan bermain dan belajar Quran oleh Lalla Tam bersama saudara – saudaranya. Berbeda dengan anak perempuan, anak lelaki dan remaja yang tinggal di harem boleh mengecap pendidikan di sekolah internasional.

Fatema kecil diajarkan untuk bisa berpikiran terbuka, sang Ibu menentang keras para perempuan yang terkungkung oleh bangunan besar, sang Ibu yakin bahwa derajat lelaki dan perempuan sama di mata ALLAH, dan Fatema harus keluar dari harem ini nanti saat dewasa..

 

tempat di mana Fatema mampu membuat perubahan besar bagi kesetaraan wanita.

 

Definisi harem sebenarnya mempunyai banyak makna, jika dilihat dari perspektif lain. Lalla Mani dan Lalla Radia contohnya, meyakini pendapatnya bahwa harem haruslah bangunan dengan tembok tinggi yang mencegah para wanita melihat ke arah jalanan atau terlihat oleh para lelaki. Sedangkan bagi Yasmina – nenek dari Ibunya Fatema yang tinggal bersama madunya di peternakan, harem tidak butuh tembok. Karena harem itu “tertulis di kening dan di bawah kulit.”

Kenyang dengan asupan makna dan sejarah harem, maka di peternakan Lalla Yasmina, Fatema mendapat jawaban yang menyenangkan tentang harem tersebut, “kamu akan kehilangan kebahagiaan kalau kamu terlalu banyak  berpikir tentang batasan dan aturan. Tujuan tertinggi dalam kehidupan perempuan adalah kebahagiaam. Jadi, jangan habiskan waktumu untuk mencari batas – batas yang begitu tegas dengan kepalamu.”

Fatema kecil begitu penasaran dengan masa depannya, “Apa menurutmu aku akan jadi perempuan yang bahagia?”

“Tentu saja kamu akan bahagia! Kamu akan menjadi seorang gadis modern dan terpelajar. Kamu akan mewujudkan mimpi kaum nasionalis. Kamu akan belajar bahasa – bahasa asing, punya paspor, membaca banyak buku, dan berbicara layaknya pakar agama. Dan akhirnya, kamu pasti lebih baik dari ibumu. Ingatlah bahwa aku, orang yang buta huruf terikat tradisi seperti sekarang ini, mencoba merasakan sekelumit kebahagiaan di balik kehidupan yang menyedihkan ini. Itulah sebabnya aku tidak mau berpikir tentang batasan dan kendala sepanjang waktuku.”

 

Opini Pribadi:

4 of 5

Kelebihan: Fatema Mernisi menjelaskan secara detail kehidupan – kehidupan yang berjalan di dalam harem dan adat istiadat yang dipertahankan atas qaidah Islam. Namun, di dalamnya ternyata terbentu dua kubu di cara pandang wanitanya. Ibunya, Chama, dan beberapa saudara perempuannya berpikir bahwa harem adalah tradisi kuno yang harus ditinggalkan, dan saatnya untuk memulai prinsip tete-a-tete (tinggal berdua, memisahkan diri dari harem). Kubu lainnya seperti Lalla Mani, Lalla Radia meyakini bahwa wanita yang tinggal di harem mampu mengendalikan tatapan dan hawa nafsu para lelaki yang berkerja di luar.

Salah satu adegan yang saya suka adalah saat Fatema mengetahui dari sepupunya yang bernama Malika bahwa Hitler sangat membenci ras dengan rambut dan warna mata gelap. Mengetahui rencana jangka panjang Jerman atas pembunuhan ras tersebut, Fatema kecil ketakutan lalu menutup rambutnya dengan scarf, namun sang Ibu marah dan melepaskan scarf Fatima secara paksa.

“Bahkan, kalau Hitler, raja diraja itu mengejarmu,kamu harus menghadapinya dengan kepala terbuka. Menutup dan menyembunyikan kepala tidak membantu apa – apa. Itu malah membuat perempuan menjadi  sasaran empuk. Nenek dan Ibumu ini telah cukup menderita akibat urusan tutup kepala ini. Aku ingin anak perempuanku berdiri dengan kepala tegak, dan berjalan di bumi ALLAH dengan mata menatap bintang – bintang.”

Setelah berkhutbah begitu, dia melepas scarf itu, dan membiarkan aku tanpa perlindungan apa pun, menghadapi tentara – tentara tak nampak yang mengejar orang – orang berambut gelap.

 

Kekurangan: Saya sebenarnya penasaran tentang eksistensi harem di negara Arab saat Fatema Mernisi beranjak dewasa. Dan saya mau tahu bagaimana cara dia akhirnya berhasil keluar dari harem tersebut, sayangnya di cerita ini hanya dipaparkan cerita Fatema kecil yang akhirnya diperbolehkan mengecap pendidikan di luar harem, yaitu sekolah internasional Perancis.

Yang paling bikin saya tertarik baca buku sejenis ini karena konsep harem ini masih diterapkan di keluarga besar saya yang notabene mempunyai keturunan Arab. 🙂

 

2 Comments Add yours

  1. mbk, aq mau meneliti novel ini utk skripsiku, kira2 mbk bisa kasih masukan gk judul yg cocok? kalau boleh dan mbk tdk keberatan bolehkah saya meminta no.hp?

    1. Hi Mbak, wah sebenernya novel itu udah aku baca sekitar taun yang lalu hihi.. mungkin harus baca lagi biar ngerti. Kira – kira tentang apa emangnya? atau bisa jelasin ke email aja dulu ya farah.alatas@gmail.com Trims 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s