“Kalau saja..”

Source: desura.com

 

“Kalau saja..”

Kata ini selalu saja sering terdengar dari banyak orang. Mungkin aku bukan mempelajari langsung dari kedua orangtuaku agar tidak menyesal sampai mengatakan dua kata tersebut. Namun semakin dewasa, ternyata orang – orang di sekitarku menunjukkan dan menjadi pengajar hidup yang baik.

“Kalau saja..”

Entah dari kalimat tersebut yang terlontar, atau dari gestur yang mulai tidak menyenangkan, contoh kecilnya berdecak. Seringkali aku mendengar orang berdecak, kesal dengan pilihannya. Aku anggap sebagai perwakilan dari “Kalau saja tadi saya..”

Berkaca dari banyak orang – orang yang terlalu kentara memperlihatkan rasa penyesalannya  – yang lucunya atas keputusan mereka sendiri – , aku mulai paham bahwa keputusan apa pun ternyata muncul dari dua atau lebih pilihan, dan memang kita yang harus paham betul risikonya, salah satunya ya jangan menyalahkan orang lain kalau pilihan kita salah. Terlebih lagi kalau kamu ternyata memang mengambil andil 100% dalam pengambilan keputusan tersebut.

Jangan nyeletuk, “Kalau saja..” saat kamu..

Menyesal lewat jembatan Antasari yang macet kiloan meter dan ternyata di Antasari bawah tidak macet sama sekali (ini kamu yang memutuskan menyusuh sopir taksi untuk lewat atas).

Menyesal lupa bawa payung, yang sudah ada di depan matamu (kamu yang yakin loh kalau hari ini ngga akan hujan).

Menyesal dengan posisi pekerjaan kamu sebagai admin, padahal latar belakang kamu adalah Teknik (ingat kalau orangtua kamu sudah berusaha mengingatkan, tapi kamu bilang yang kamu butuh adalah batu loncatan dan pengalaman dahulu).

Menyesal masuk fakultas sastra, biar ngga ketemu matematika (ini murni pilihanmu karena kamu yakin masa depanmu ada di ranah bahasa,  bukan sains).

 

Beberapa waktu ke belakang, “Kalau saja gue..” dan sejenisnya mulai kutahan dalam – dalam, lebih baik menggigit lidah sendiri hingga kesakitan daripada harus mengatakannya, terlebih lagi cobaan untuk mengatakan itu saat salah pilih alternatif tujuan satu tempat dan menyesal terjebak macet keparat tersebut, kalimat luhur tersebut ingin sekali terucap. Namun lebih baik tertahan daripada berdecak bikin kesal orang (serius, jangan terlalu sering berdecak jika kamu sadar bahwa pilihanmu salah kala itu, satu decakan dapat menurunkan beberapa menit energi positif orang – orang di sekitarmu).

Namun kadang kala, seperti kentut yang tetiba keluar sebelum sempat tertahan, atau sendawa yang terlanjur keluar, kalimat tersebut suka meluncur begitu saja dari mulutku. Sesal ada, lain kali harus kupindahkan kalimat itu menjadi motoris daripada sensoris.

Jarang sekali aku mendengarkan keduaorangtuaku mengatakan kalimat tersebut, mungkin lebih sering menahannya, kecuali memang aku yang salah memilih keputusan, mungkin saja mereka ingin mengatakan, “apa saya bilang..” namun mereka menahannya.

Jadi, kalimat “kalau saja..” cukup mengajariku sesuatu. Bahwa minimalisasikan penggunaan kalimat tersebut ada bijaknya. Iya, tindakan preventifnya adalah, kamu tahu risikonya, dan kamu siap dengan pilihanmu.

 

 

 

-Anila Tavisha

Inspirasi muncul dari gerbang Pos Bambangan, 16 8 2013

 

 

3 Comments Add yours

  1. Tomi Aribowo says:

    Ray, kalau saja atau What If ada formulanya. Smoga kamu bisa browse (bukan di internet ya..) lebih dalam lagi.

    1. aaaak.. hehe, nda ngerti. Maksudnya apa ya, Mas?
      Do I have to dig more about this quotes based on my daily activities?

      1. Tomi Aribowo says:

        Pernah baca “Secret” & turunannya kan? bookers sejati pasti tau. Apalagi kamu novelis. J.K. Rowling juga nulis pake What If. Find the formula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s