Perjalanan Pertama, Pertanyaan yang Sama

 

Source: flick river

Mungkin sudah gunung ke sekian dan pantai yang ke berapa puluh yang aku jejaki.

Namun ini perjalanan pertamaku bersama dirimu, yang akhirnya aku kalahkan egoku untuk menghindarimu.

***

Aku sebenarnya tidak merasa terganggu dengan siapa aku berjalan, namun aku merasa harus mempersiapkan banyak hal saat aku memutuskan untuk menyertakan dirimu di perjalanan ini. Aku tidak mau terlihat kepayahan, tidak ingin terlihat jelek bahkan – padahal aku selalu berat hati meninggalkan make up kit di basecamp karena yakin itu benda terakhir yang ingin aku kenakan.

Lucunya, aku membawa 1-2 alat kosmetik saat tahu kamu turut di perjalanan ini bersamaku. Terpakai pun tidak padahal.

“Apa ini kejutan bagimu?” Tanya dirimu, sambil sesekali mengutak – atik GPS yang selalu kamu bawa. Instrumen yang sumpah mati aku masih bingung cara menggunakannya, inilah salah satu keunggulan lelaki dalam melihat peta, aku mengaku kalah.

Aku menggelengkan kepala, “tidak, di tempat ini aku bisa bertemu siapa saja yang pernah kutemui di perjalanan sebelumnya..”

“… apalagi kamu,” tambahku, sambil tersenyum tipis, menahan senyum lebar yang hanya berani kubentangkan dalam hati.

Perjalanan ini begitu mudah untuk dilewati, pos demi pos terasa mudah, walau harus rela menahan langkah cepat yang biasa kulakukan kala mendaki, karena aku membujuk salah satu sahabat untuk jadikan aku sweeper. Jangan jadikan aku yang paling depan, toh aku percaya lelaki tetap harus menjadi imam di perjalanan ini, jadi aku lebih senang menjadi makmum di belakang, mengawasi, dan menikmati vegetasi sekitar yang selalu aku lewatkan kala perjalanan dengan rombongan senior mapala yang tega memberikan tenggat waktu setiap posnya.

Aku melihatmu, menatap ke belakang sesekali, mencoba mengajakku berbicara namun aku selalu sibuk dengan hal lainnya sehingga kamu urungkan niatmu lalu berjalan paling depan sambil sesekali menyomot cokelat yang selalu kamu letakkan di tas pinggang yang kamu sampirkan di samping kanan. Perjalanan pertamaku denganmu, namun aku tahu isi tas pinggang itu; GPS, Cokelat, kamera, dan beberapa carik kertas yang selalu kamu gunakan untuk mencatat beberapa hal unik yang kamu temui di setiap perjalanan yang kamu lakukan.

Sejak kapan kamu jadi medan magnetku? Sehingga aku bisa tahu hal detail dari dirimu bahkan di perjalanan pertama denganmu ini.

***

Malam pertama dalam total empat hari perjalanan ini. Tenda sudah digelar, beberapa lelaki lebih senang di luar, menikmati dingin yang menggigit tanpa takut terkena hipotermia. Tempat ini begitu sempurna, dilindungi pepohonan  yang rindang, sehingga angin tidak mampu menembus tempat ini, yang menjadikannya lebih hangat. Tenda yang berdekatan, tawa dan ejekan yang bersahutan, menimbulkan kehangatan.

Yah, terlebih lagi, kehangatan itu bertambah saat aku semakin yakin masih ada tiga hari lagi cerita perjalanan yang terangkai dengan kamu sebagai obyek utamanya.

Beberapa orang nyaman meringkuk di dalam tenda, lagi – lagi aku menurut pada kebiasaanku, menggelar matras lalu tiduran di dekat api unggun. Padahal sudah berapa kali rambut panjangku terbakar ujungnya karena terlalu dekat dengan api, dan jawabanku saat dibodoh – bodohi temanku selalu sama, “api membakar, namun tidak selalu menyakiti, kok!”

Aku melihatmu melakukan hal yang sama, pamit dengan mereka yang sedang asik membicarakan pendaki wanita yang kepalang cantik di pos sebelumnya, dan sibuk bermusyawarah bagaimana dapat melemparkan modus selama masih berada di atas, namun tanpa harus merasa terlupakan saat berada di bawah. Mereka lupa, bahwa berbicara dengan alam dan mengenal diri sendiri adalah hal yang paling membuat nyaman selama berada di sini daripada membicarakan lawan jenis.

Kamu menggelar matras dan terlentang, kita berdua hanya dipisahkan oleh api unggun yang mulai mengecil apinya, kecilnya api membuatku yakin bahwa tidak akan ada lagi bau rambut gosong terbakar karena ulahku sendiri.

“Bulan ini terlalu indah untuk kulewati dan meringkuk nyaman di dalam tenda,” aku membuka percakapan, yang rasanya aneh kalau aku mendiamkanmu begitu saja.

“Tetap saja aku masih buta dengan konstelasi.” Kamu melirik ke arahku, lalu ke atas lagi, seperti berusaha keras menentukan rasi bintang apa saja yang sedang berada di atas sana.

“Katanya kakeknya nelayaaan…” Aku meledekmu, dan itu senjatanya. Kamu membalikkan badan, bertumpu dengan sikutmu, mengarah ke diriku, “iya, aneh memang. Malu aku sebenarnya.”

Lalu kita tertawa bersama, melepaskan kekakuan yang sebenarnya aku buat dari awal.

“Aku senang, paling tidak aku bisa menikmati tiga malam lagi dengan taburan jutaan bintang dan bulan yang begitu indah.”

Beberapa pendaki malam melewati kami, permisi dan senyumnya, mereka tidak menggunakan penerangan apa pun, walau pohon rindang namun sinarnya menerangi jelas jalur – jalur yang akan dilewati. Benar – benar timing perjalanan yang tepat.

“Semoga aku bisa hapal minimal tiga rasi yang di sekitar bulan itu,” kamu menunjuk satu arah, sebenarnya bentuknya sudah jelas, namun aku tahu kamu kurang detail terhadap sesuatu, sehingga rasi Pisces yang sangat dekat dengan Bulan luput dari perhatianmu.

Aku memejamkan mata, bukan karena mengantuk, namun semakin malam, indera perasamu menjadi cukup tajam, untuk bisa mendengar segalanya, termasuk degup jantungku sendiri. Aku semakin dapat mencium aroma tubuhmu walau berjarak.

“Hei, jangan tidur.” Kamu membuyarkan lamunan terpejamku.

“Aku harus tidur sebenarnya, aku mau masuk tenda ya.” Namun aku tetap bergeming, menunggu reaksimu sebenarnya.

“Kenapa kamu tidak pernah mau melakukan perjalanan denganku?” Tembakmu dengan pertanyaan itu, mungkin itu yang sedari tadi ingin kamu tanyakan dari awal bertemu.

Aku terbangun, mengeluarkan badanku dari nyamannya sleeping bag, menggulung matras, lalu tersenyum padamu, “kamu harusnya tahu alasannya, kan?”

Aku tidak pernah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi, namun pertanyaanmu membuatku kebingungan dan salah tingkah. Sebenarnya memang semua yang aku lakukan kepadamu tidak masuk akal, aku hanya teringat satu pernyataanmu beberapa bulan lalu kepadaku dan pasti masih kamu lakukan sampai sekarang.

“Apa saja yang kamu tanggalkan ketika menuju ke atas sana?”

“Segala kenyamanan yang kunikmati di bawah, kamu?”

“Sama, tapi juga satu hal.”

“Hati maksudmu? Haha..”

“Iya, biar kutinggalkan di bawah, sehingga di atas sana tidak ada yang berani mengambilnya.Biar itu jadi miliknya.”

“Oh..”

Karena alasan itulah, aku merasa tidak perlu melakukan perjalanan denganmu, tidak ada yang bisa aku curi darimu, perhatian, perasaan, apa pun.

Aku memasuki tenda, memejamkan mata, sambil mulai mengarang jawaban selama tiga malam berikutnya, jaga – jaga kalau kamu menanyakan hal itu lagi. (AnTav)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di siklus insomnia 02:05

23 Agustus 2013

 

 

//

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s