Senyum Samar di Ufuk Barat

“Apa aku masih kurang mendekat?”

Lelaki tampan di depanku saat ini menggeleng pelan, “cukup kok.” Senyumnya tersamarkan oleh semburat jingga di ufuk Barat yang menyinari sisi kanan wajahnya, kehangatannya sinar tersebut ikut menyinari sisi kiri wajahku.

Kita berhadapan, dan saling berpegangan tangan. Erat.

Aku menatapnya lagi, begitu pun dirinya. Aku sempat berpikir bahwa dia sedang berusaha memfokuskan tatapannya hanya pada cuping hidungku, tidak sepenuhnya terhadap mataku. Entah kenapa, padahal melihat bola matanya yang cokelat mengarah ke diriku adalah kejadian langka paling menghipnotis yang selalu aku rasakan. Saat itu, sampai sekarang.

Mungkin dia takut aku kembali menggali kebenaran ceritanya, melalui bola matanya tersebut.

“Kok aku lelah ya berdiri seperti ini terus?”

“Hihi.. sama,” aku menambahkan, namun menikmati genggamannya yang semakin erat.

Tapi dia masih melihat cuping hidungku,  bukan mataku. Senyumnya sama, selalu samar.

“Betapa amatirnya dia. Masa’ harus berkali – kali pengambilan fotonya.” Senyumnya jahil, sambil menunjuk ke seseorang yang jaraknya sekitar lima meter dari tempat kami berada.

“Tidak apa, modelnya cuma kita. Kasihan.”

“Kamu menengadah lagi, dong. Kurang jadi siluet sepertinya kalau kamu menatap sejajar seperti itu.”

Aku mendengus, “makanya kamu jangan terlalu tinggi.” Aku melihat satu batu datar lebar, dan memindahkan di depanku, menaikinya. Kita hampir sejajar.

“Kamu juga jangan kependekan,” tambahnya, tidak mau kalah.

“Rambut kamu jadi pendek banget,” aku spontan menyentuh rambutnya, sudah tidak perlu berjinjit karena bantuan batu lebar tersebut, “biasanya rambutmu panjang.”

Dia hanya tersenyum, salah tingkah. Bingung mencari alasan, matanya tidak bisa berbohong.

Termasuk perempuan itu? Mungkin memang perempuan itu suka dengan lelaki yang rapi.

Dia menyentuh kedua pipiku lembut. Pelan – pelan udara semakin dingin dan angin mulai berhembus cukup kencang, mengacak rambutku. Aku kurang mengerti apakah dingin ini karena sinar matahari yang mulai tenggelam berganti malah atau karena ada sentuhan lembut itu.

“Kamu makin chubby.” Bisiknya, lembut. Tatapan matanya menyejukkan.

Namun dia masih menatap cuping hidungku.

Dan aku berharap ini semua lekas selesai.

***

Boi, beneran ngga ketawan kan itu foto gue?” Aku menyenggol sahabatku yang fotografer, Attar, yang telah berhasil memaksa kami berdua menjadi model foto sunsetnya.

“Tenang aja. Elo semakin menggendut dan dia terlihat semakin rapi. Ngga akan ada yang nyangka ini foto kalian berdua.”

Aku menghembuskan napas panjang, lega. Setidaknya, aku tidak melukai kekasihku dan kekasih dia karena foto tersebut.

Dia sudah berjalan duluan, aku menatap punggungnya dan berharap dia mengajakku jalan bersejajaran dengan dia.

Namun dia pasti tidak mau. Dia takut aku menatap matanya, mencari kebenaran atas alasan harus diakhirinya hubungan ini.

Tapi, pasti dia hanya menatap cuping hidungku lagi. Lagi, dengan senyum yang samar.

 

IMG-20130727-WA0022.jpg

Photo by @mutantitan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s