Satu Pencarian (Kembali) Titik Temu

Ashza

Ini tentang satu cerita panjang dari sahabatku yang telah menemukan tokoh utama yang dia cari selama ini pada draft novelnya yang menghilang beberapa bulan lalu.

Ini benar – benar cerita seru dari sahabatku yang juga  menemukan tokoh utama dalam hidupnya.

***

Ashza

“Kamu mau cerita apa lagi?” Spontan aku bertanya, karena baru saja melihat mulut Inka, sahabatku, yang mulutnya terbuka secara tiba – tiba, namun menutup lagi, seakan ada sesuatu yang kasat mata membungkam mulutnya, melarang satu kata pun keluar dari mulutnya. Aku tidak terima, aku tidak bisa dibuat penasaran.

“Harusnya ini dulu yang kamu tahu.” Inka mulai membuka laptopnya, jemarinya terburu mencari – cari sesuatu. Inka menggeserkan laptopnya dan mengarahkan layarnya ke diriku.

Tidak butuh waktu lama, dari judul yang berada di paling atas dokumen tersebut, aku tahu isinya apa. Tidak perlu sampai baris pertama, aku hanya melihat ‘total words’ yang ada di kiri bawah layar.

“Inka… Selesai jugaaaa!!!” Kami berpelukan erat. Aku tidak pernah sesenang ini. Inka membalas pelukanku erat, “kamu tahu, ada cerita panjang di balik ini semua. Kamu harusnya tahu, ini alasanku menghilang lama.”

“Eh sebentar, aku ke kamar dulu ya, Sza.” Inka menuju kamarnya, memberikanku waktu untuk membaca secara pelan – pelan.

Surat – surat Tersembunyi untuk sang Petualang

Hari pertama

Kita bukan kutub. Kita tidak perlu memperdulikan ada di kutub mana saat ini, utara atau selatan. Bagiku, tidak ada pembedanya, kutub hanya sebagai penunjuk saja. Kalau kamu saja sudah menjadi penunjuk yang baik untukku. Buat apa sih menyoal kita harus ke arah mana dan ke arah mana? Aku tinggal mengikutimu. Titik.

Ini pendakianku denganmu. Aku amatir dengan kegiatan ini, sungguh.

Tahu yang pertama aku ingat dari kamu? Saat kamu tertawa keras sekali gara – gara aku membawa jaket musim dinginku yang terbuat dari bulu angsa, dengan bulu – bulu yang melingkari leherku. Dan tawamu semakin keras saat aku tertangkap basah menggunakan sepatu boot tinggi sebagai penjejak di pendakian ini.

Mengapa kamu harus tertawa sekeras itu?

***

Inka

Aku menatap sahabat yang masih duduk tenang bersender di gelondongan kayu vertikal tersebut, pembawaannya yang tenang terlihat seperti tidak siap dengan serbuan kata – kata tanpa sela dan tanpa napas dariku. Namun aku percaya bahwa sahabatku ini akan mendengarkan semua ceritaku.

Aku menarik napas panjang, sebelum cerita panjang ini dimulai, “lima bulan lalu, aku benar – benar kehilangan semangat, yeah..  kamu tahu. Saat dua puluh halaman naskah novelku hilang begitu saja, karena virus.”

“Iya, karena kamu teledor,” sambernya, singkat.

“Iyaaa.. pendakian ini aku lakukan, semata mencari lagi inspirasi tokoh utama yang menghilang tersebut. Aku sebenarnya bingung, Shza, kenapa harus pendakian tujuanku? Aku cuma ikuti kata hati saja, kalau mau mengulang kembali menulis, tokoh utama seorang dokter bukan pilihan lagi. Harus cari yang lain.”

Aku melihat Ashza tersenyum kecut, “karena sosok itu mantan kamu. Kamu mencoba menguburnya, iya?”

Aku mengangguk cepat, “itu dia alasan pertama. Alasan kedua, tidak ada.”

Ashza menggedikkan bahunya, acuh tak acuh, “ayo dilanjut aja.”

“Aku mendaftar satu komunitas pendaki untuk pendakian massal ke Gunung Papandayan, dilaksanakan 3 hari 2 malam. Tim sudah dibentuk, aku bersama lima orang lagi. Dan.. mereka terlihat sudah expert!! Jadi aku tidak mau kalah! Aku persiapkan semuanya dengan baik. Pinjem keril* Arnold, menyusunnya dengan baik dan resik seperti yang Arnold sarankan. Mengingat suhu di puncak sangat dingin, dan berkali – kali ketua pelaksananya bilang harus mendaki secara safety, maka jangan salahin aku dong kalau aku benar – benar mempersiapkan pendakian ini dengan cermat, membawa jaket bulu dan sepatu boot kulit kualitas bagus, misalnya. Aku ngga salah, kan?”

Ashza terkikik, lalu menggelengkan kepala, “tidak kok, ayo teruskan.” Namun dari nadanya aku yakin dia mengatakan itu sambil menahan tawa.

Bodo amat, aku tetap akan cerita.

***

Ashza

Namanya Rawangga, nama itu yang membuat Inka menahan ceritanya, pipinya bersemu merah, lalu menyebut namanya dengan tempo lambat.

Aku mencerna dengan baik kalimat yang begitu cepat keluar dari bibir dia. Rawangga adalah pemimpin pendakian di tim Inka. Lelaki ini adalah orang pertama yang tertawa keras melihat penampilan Inka yang seperti ingin pergi bermain ski. Aku bahkan dapat membayangkan wajah Inka yang merah padam menahan malu, untungnya teman yang lain tidak ikut menertawakan. Mereka siap membantu Inka yang menjadi satu – satunya wanita, dan juga satu – satunya pemula di pendakian ini.

Perjalanan dimulai di Pos Parkiran. Seperti yang Inka ceritakan, medan berbatu dengan bau belerang yang menusuk, dan kecerobohan Inka adalah tidak membawa slayer, baklava, masker, atau sejenisnya, “Rawangga meminjamkan slayernya ke aku. Tanpa kata, tanpa ledekan.”

Aku belum pernah mendaki, berkegiatan alam atau apa pun, tapi dari cerita Inka, aku seperti mampu membuat cerita tersebut berputar bagai film saat aku menutup mata. Medan berbatu, bau sulfur, nafas terengah – engah, dan Rawangga yang mulai menunjukkan kepemimpinannya dibanding kejahilannya. Rawangga yang tidak bosan mengingatkan timnya agar tidak malu untuk memberitahu dia bila ada yang mau istirahat.

“Bagaimana rupa Rawangga? Aku mau tahu.” Aku terpaksa memotong cerita Inka, ini hal yang membuat aku penasaran. Berkulit cokelat, tinggi dan tegap berisi badannya, rahang keras seakan sedang menahan marah, dan tatapan matanya tajam, galak.

Bukan tipe Inka, jadi aku yakin bukan karena penampilan fisik yang membuatnya seperti ini.

Perjalanan mulai di titik menyerah saat melewati satu tempat bernama Tanjakan Mamang. Inka menjelaskan bahwa medan di sini jauh berbeda dengan awal mula langkahnya yang berbatu. Tanjakan Mamang ini sangat melelahkan, kemiringannya membuat napas tersengal, tanahnya licin, berwarna cokelat susu. Dan sepatu Inka yang gripnya tidak memadai dan sangat tidak bersahabat di medan tersebut.

“Aku sudah di titik itu, Shza. Di titik ada panggilan kuat untuk kembali ke bawah, jaga tenda, dan menunggu. Sampai, timku memberikan suntikan semangat, dan Rawangga menggandeng tanganku sampai Tanjakan Mamang aku lalui. Gotong – royong mereka juga membantuku, menahan bebanku, membawa tasku.”

Namun aku tahu, yang paling terkenang adalah bantuan genggaman tangan dari Rawangga.

***

Aku menahan kalimat. Menceritakan ke Ashza sama saja dengan mengulang sensasi itu lagi. Lalu, selain bibirku yang sibuk mengoceh, saat terdiam otakku membeku, memberikan waktu bagi jantung untuk berdegup kencang. Sial, pasti Ashza melihat semu merahku, aku melihatnya tersenyum jahil saat masih bersandar dia menunggu ceritaku.

Saat kami bermalam di Pondok Saladah, aku malu sama diriku sendiri, tidak bisa memasak, tidak membawa peralatan makan. Aku begitu merepotkan orang lain. Namun tidak ada ekspresi kesal dari timku, mereka sabar dan tetap tersenyum, “tidak apa, namanya juga pemula.”

Aku memperhatikan Rawangga yang sedang berkunjung ke tenda lain dan asyik mengobrol dengan pendaki lain. Di malam itu aku merasa setiap orang akan menjadi sahabat jika di gunung. Mataku tidak lepas dari sosoknya, rahang kerasnya tidak terlihat saat dia tergelak bersama teman lainnya, sorot matanya menjadi hangat.

“Aku yakin, tanggung jawabnya sangat besar untuk keselamatan tim kalian, sehingga tidak ada obrolan saat pendakian tersebut,” hibur Ashza.

Jam 9, saatnya tidur. Tidak boleh ada yang bergadang, aku ingat saat Rawangga menghampiriku, memberi tahu kami agenda besok, summit attack dan langsung turun ke Pos Parkiran, energi akan banyak terkuras, terutama karena turunan lebih membebani kaki daripada mendaki. Lalu Rawangga menghampiriku, “Ashza, jangan pernah lagi mudah menyerah seperti tadi.” Dan pergi begitu saja.

Perjalanan ke puncak benar – benar menyenangkan dan menenangkan, terlebih lagi saat melihat hamparan Edelweiss yang sangat luas, tapi tidak sampai hati aku ingin memetiknya. Di puncak sana, aku menangis, menyebut namaNya, atas keberhasilanku, dan Rawangga yang akhirnya membawaku titik tertinggi di Gunung Papandayan.

***

Ashza

“Energiku seperti membuncah saat bisa melihat sesuatu yang biasanya besar menjadi mengecil dari atas sana, aku menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Dan, aku benar – benar menuruni gunung tersebut semangat. Sampai ankel kakiku terkilir karena turun berlari.”

Aku tidak bisa menahan tawa, terutama kalimat terakhir yang dilontarkan sahabatku tadi. Bibir Inka manyun beberapa sentimeter, tidak terima reaksi dariku malah seperti itu.

“Kamu harus tahu apa yang Rawangga perbuat. Kepalanya menggeleng dan berdecak sekali, dia memutar kakiku dan membaluri dengan gel otot, tahu apa yang dia katakan? ‘Semangat sih semangat, tapi jangan sampai gini amat kali.’ “ Inka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mungkin merasa malu atas kelakuannya saat itu.

Dan bagian akhir cerita sahabatku ini tidak terlalu menyenangkan, karena raut mukanya langsung sendu.

***

Inka

Aku sedih menceritakan bagian perpisahan itu. Di bus dari Terminal Garut menuju Kampung Rambutan, aku duduk di bangku dua dan sendiri. Aku melihat Rawangga yang duduk paling depan di bangku tiga, sendiri.

Di perjalanan selama lima jam tersebut, aku tidak bisa tidur. Aku melihat ujung rambutnya yang dia. Kita hanya berjarak tiga baris, aku bisa melihat sosok itu, tertidur lelah. Aku hanya ingin membutuhkan beberapa menit saja untuk bisa berdua. Mengobrol, menceritakan perjalanan yang telah dilalui, mengulang dan tertawa dengan kejadian lucu yang dialami – kebanyakan aku memang pelakunya, dan hal lain yang mampu membuatku bisa mengenalnya lebih jauh.

Namun saat sampai di Terminal Kampung Rambutan, kita hanya bersalaman, saling mengucapkan terima kasih, dengan pesan klise, “jangan jera jalan lagi, ya.”

Selesai cerita. Kita pulang ke rumah masing – masing.

***

Ashza

Aku melihat raut sedih sahabatku, “kamu menemukan sosok tokoh sempurna untuk novelmu yang baru.”

Inka mengangguk, tertahan, tatapannya kosong, “yah.. aku menemukan semuanya di dirinya. Sang petualang, pendaki yang aku kira adalah orang yang akan meremehkan perjalananku, ternyata dia yang paling banyak membantuku. Diamnya adalah ketegasan atas tanggung jawabnya sebagai pemimpin tim, dan dia..”

“… bisa menjadi sahabat yang nyaman dan hangat bagi para pendaki lain.”

“Serius Shza, ini sudah lebih dari pencarian tokoh utama novelku,” Inka menghela napas panjang, resah.

Aku tertegun, kalimat terakhirnya sungguh membungkam diriku.

“Kamu ingin bertemu lagi dengannya.”

“Hmm.. bagaimana dengan dokumentasi pendakian tersebut? Pasti lewat web atau tag di Facebook jadi kamu bisa mencari tahu tentang Rawangga.”

“Sudah, tidak ada nama dia di tag tersebut,” senyumnya kecut.

“Sepertinya aku terlalu jauh ya menyelami makna pendakian lalu, aku terlalu larut dalam perjalanan. Melenceng dari tujuan awal.”

Kita pun diam selama beberapa menit. Aku kehabisan kata, dan Inka pun merasa seperti itu.

***

Ini sudah lebih dari tujuan awalku berada di perjalanan ini. Alasannya? Ada degup yang tidak biasa saat aku melafalkan namamu. Ada doa yang lebih keras terucap saat aku melihat bintang jatuh. Ada senyum tersungging saat mata kita sekilas berpapasan. Dan, ada satu dorongan di dalam diriku untuk mengulang kembali titik temu tersebut. Titik pisah kemarin cukup menyakitkan. Maaf, kamu sudah lebih dari tokoh utama di novelku, kamu berhasil menjadi tokoh utama di hidupku.

Tapi setidaknya, novelku sudah selesai.

Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

Anila Tavisha, 31 08 2013

Ket:
*Keril = carrier bag, tas yang biasa digunakan untuk mendaki gunung

//

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s