Perempuan – perempuan MKKB (Masa Kecil Keterlaluan Bahagia)

Versi pemanasannya bisa dilihat di link ini –> Akuilah kalau kamu senang bertingkah kekanakkan daripada sok dewasa

 

Ini bukan perempuan – perempuan dengan MKKB yang biasanya, namun mereka adalah perempuan – perempuan dengan MKKB (Masa Kecil Keterlaluan Bahagia).

 Bermainlah. Jangan gengsi sama wibawamu.

Aku pikir dua hari perjalanan terjal dan berat cukup membuatku kapok untuk berjalan dan lebih memilih pulang. Ternyata keesokan harinya aku memilih untuk melenggangkan kaki ke banyak tempat, banyak kota, banyak langkah lagi. Tidak ada lelahnya. Entahlah.

Aku kesakitan bahkan, bukan hanya kelelahan. Namun aku yakin bahwa waktu begitu sedikit untuk kamu gunakan beristirahat atau mengeluh sakit, jadi sekalian saja katarsis kaki dengan terus berjalan dan mengelilingi kota kecil ini. (puk.. puk.. kaki, kamu kan udah diurut di Longkrang sore kemarin, tahan – tahan ya… :3 )

Pagi sudah kubuka hari dengan menyusuri Jalan Gubreg, sekedar melatih kaki agar jangan terlalu lemah, karena hari ini dia akan kupacu berjalan panjang. Banyakan jajanan di sekitar RS Margono, tapi berkunjung ke Gramedia satu – satunya di kota tersebut adalah salah satu tujuan utama. Gramedia tersebut berlokasi di Sri Ratu. Menggunakan angkot saya berhenti tepat di seberangnya, dan memasuki Plaza Tamara tersebut dan menikmati beberapa menit di dalam Gramedia, membeli beberapa stationary dan menuju ke tempat berikutnya, Sokaraja.

Urusan perut, urusan jalan, dan urusan untuk kurusan menjadi hal penting saat sedang explore kota tersebut. Walau hanya berjarak berpuluh kilometer dari Wonosobo, namun ini kali pertamaku di Purwokerto dalam waktu cukup lama dan tidak hanya sekadar bertandang untuk beli oleh – oleh. Maka beberapa hari di sini harus dimanfaatan secara baik – baik.

Mengajak partner – gagal – mendaki untuk kembali ke Pos Bambangan ternyata gagal, karena nyasar. Alih – alih kembali ke Purbalingga, malah kami menuju tempat di mana kita harus pasrah untuk ikut terus menuju jalan tersebut, mulai dari Baturaden yang sudah mulai tutup – pengunjung sudah mulai keluar, sampai ke tempat yang mendaki, menembus kabut dan terlihat sinar matahari dari kejauhan menyinari dataran bawah Purwokerto, sedangkan kami berdua diterpa hujan (terima kasih jaket ungu windbreaker dan  waterproofku, akan kujaga dirimu sepenuh hati #okesip ). Mengikuti jalanan tersebut dari atas sampai akhirnya kembali ke desa Sumbing.

 

Kami tahu sudah saatnya menyerah mencari jalan untuk kembali ke Pos Bambangan – Gunung Slamet.

 

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Taman Andhang Pangrenan Purwa Kerta, public space yang belum lama dibuka dan menjadi pilihan warga di sana untuk bermain atau berwisata kuliner. Tidak terlalu lama kami di sini, karena tidak ada yang dilakukan juga. Setelahnya kami menuju Alun – alun, karena setiap kota yang kukunjungi adalah kewajiban untuk melewati dan singgah di alun – alunnya.

 

Suasana alun – alun di kota lain memang selalu lebih menyenangkan daripada kota sendiri. Walau rata – rata luasnya sama, alun – alun di Kota Tangerang laksana kuburan luas tanpa nisan jika malam hari, weekday pula. Sepi, dengan penerangan yang ala kadarnya. Kalau beruntung ya hanya beberapa orang yang jogging. Ah berbeda pokoknya.

 

Maka, di sinilah aku dan sang partner Risti, duduk manis di alun – alun, melihat anak – anak yang bermain baling – baling yang sudah dimodifikasi ditambahkan lampu LED dan cairan balon yang warnanya semakin mencolok. Tidak puas menonton, maka aku ikut membeli kedua mainan seru itu, 7000 saja. Cukup murah karena cairan balon tersebut bisa habis dalam waktu berhari – hari dan baling – baling LED tersebut bertahan selama beberapa hari juga.

Dan aku  manfaatkan malam itu untuk kembali recall masa kecil, walau pasrah dikalahkan ketinggian baling – baling yang diterbangkan anak kecil kaus putih tersebut (dan beberapa anak kecil lainnya), dan pasrah juga ditertawai oleh Risti yang melihatku sangat menikmati permainan konvensional yang sudah dimodifikasi tersebut. Aku tidak peduli.

Maka, inilah yang kami lakukan saat di alun – alun saat itu:

– Memesan wedang ronde seharga 5000 saja dan melahap mumpung hangat,slurup…

– Aku membeli baling – baling LED dan balon sabun seharga total 7000. Meminta Risti untuk memeragakan cara memainkan baling  – baling tersebut.

-Lalu mulai bermain, memilih kompetitor (yang rata – rata anak kecil), biar terpacu agar dapat menarik karetnya lebih ke bawah agar dapat lentingan sempurna saat baling – baling tersebut meluncur ke atas dan menimbulkan nyala indah merah – biru – merah – biru. Berlarian sampai tengah alun – alun merasa sebaya dengan yang sedang melakukan aktifitas yang sama.

– Gantian memainkan balon sabun dan Risti mulai asik sendiri lari  menangkap baling – baling karena lentingannya serong.

– Meniup balon sabun semonyong – monyongnya, dan meminta Risti mengabadikannya secara pas.

– Mencoba mengabadikan Risti yang sedang bermain baling – baling dan selalu gagal (dan menyerah).

– Risti menemukan cara meniup balon sabun tanpa harus memonyongkan mulutnya, dan aku menyesal kenapa tadi tidak melakukan itu saja.

– Aku kembali berlarian di alun – alun Purwokerto, mencoba metode baru, meluncurkan baling – baling tersebut secara menyerong.

– Meniru gaya Risti membuat gelembung balon sabun, kali ini tidak minta dipoto.

– Beristirahat, lalu lanjut bermain lagi. Lupa kondisi kaki.

– Menuju ke tujuan berikutnya, Mozzarella Pizza.

– Pulang, maunya lanjut tapi apa daya, kota kecil ini menyuruhku untuk lekas beristirahat. Sepi..

 

Berlarian, tertawa dan memainkan mainan anak – anak, aku bukan menyebutnya sebagai Masa Kecil Kurang Bahagia. Masa kecilku keterlaluan bahagia, hingga aku dan Risti ingin mengulang kembali kenangan masa kecil, dan tanpa gengsi dan malu tetap berloncatan dan bersuka – ria di alun – alun Purwokerto.

 

Kami adalah MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia)?

Tentu saja bukan. Kami adalah dua orang dewasa yang ingin mengenang semua mainan kecil kami saat itu, lalu menikmatinya kembali.

Kami adalah dua orang dewasa yang sangat merindukan dan tidak  malu untuk kembali bermain dan berlari, walau dengan tubuh yang sudah menjulang tinggi, suara yang sudah berintonasi dewasa, jalan yang sudah tegap dengan langkah pelan menjaga wibawa.

Tapi kita masih sama, dua orang dewasa yang tidak malu kembali berlari dan bermain dengan mainan kecil kami.

 

I’ll miss this moment. Di alun – alun mana lagi aku akan bertingkah seperti ini?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s