Surat untuk Sahabat dari Negeri Seberang

Dear Onye (biarlah aku memanggilmu onye karena Risti terlalu formal),

 

Apa kabar kamu di Banyumas sana? Jadwal stase dan segudang jadwal praktik yang seakan tidak ada liburnya, praktis kamu akan jadi fakir liburan nanti.

Aku sempatkan menuliskan surat ini untukmu dari negeri singa, setelah aku pulang dari negeri gajah putih, setidaknya sinyal wi-fi di sini jauh lebih bersahabat daripada di sana.

Ada cerita seru selama perjalananku sebulan ini menjelajahi negara – negara Asia, dan tidak jauh – jauh dari satu benda yang selama ini menemaniku: buku.

Bahwa di perjalanan panjang inilah aku semakin percaya kalau buku itu adalah benar sebagai jendela dunia, gerbang awal dari kamu bisa mengenal dunia secara luas.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Buku, gerbang awal mengenal dunia. Photo by: Anila Tavisha

Bagaimana bisa?

Di setiap perjalanan, aku selalu membawa buku panduan travel ke negeri yang aku datangi, rekomendasiku adalah buku – buku terbitan “Lonely Planet.” Kamu penasaran bagaimana dunia menuliskan keindahan negaramu sendiri, Lonely Planet ini rekomendasiku. Kamu bisa membacanya di sela waktu luangmu.

Seperti musik yang bersifat universal, buku bisa membuat kita dekat dengan seseorang walau kita tidak sepaham bahasa dan tidak mengerti bahasa satu sama lain. Seperti pendakianku ke Gunung Hallasan bersama lima kakek – kakek yang masih bugar, walau mereka tidak bisa bahasa Inggris, mereka sangat passionate bertanya apakah lagu Indonesia yang bagus dan melihat – lihat buku yang kebetulan aku  bawa saat berkunjung ke sana. Ini foto kakek – kakek bugar nan baik itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selalu bertanya, “the book, the book, Indonesia music, music!!” xD Photo by: Anila Tavisha

Buku juga menurutku bisa menjadi bahan perbincangan awal bahkan senyuman pertama masyarakat lokal untuk bisa berinteraksi denganku sebagai turis. Aku punya cerita saat aku memperhatikan seorang wanita yang asik sedang membaca buku dengan cover bertulisan Hangeul, aku tertarik dengan gradasi warnanya, hanya warna dasar dan tulisan saja yang berderet secara horizontal. Lalu dia sadar aku memerhatikan bukunya dan aku tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolku dengan semangat (aku tidak tahu apa artinya ‘saya suka bukumu’), dan sayangnya dia tidak bisa berbahasa Inggris jadi dia hanya tersenyum lalu melanjutkan bacaan.

Tapi satu hal yang kamu harus tahu, Nyet. Bahwa buku bisa membuatmu berinteraksi dengan seseorang, walau terkendala bahasa.

Jadi saranku, saat kamu bertualang nanti, bawalah buku. Kenalkanlah buku pada dunia, dan percayalah bahwa buku tersebut mampu menemani di setiap petualang terliarmu. Kunjungi toko buku lokal yang menyajikan banyak buku, walau dengan bahasa yang tidak kamu mengerti, nikmatilah suasananya. Mereka yang sedang membaca- baca, atau kamu hanya meraba – raba tekstur buku tersebut, atau bahkan membelinya untuk koleksi.

Mungkin suatu saat nanti kalau aku kembali berpetualang ke luar negeri, akan ku bawa beberapa buku kecil tentang travel di Indonesia, dan aku akan berikan kepada orang lokal yang sangat ingin mengenal Indonesia.

Jadi kamu menemukan lagi salah satu fungsi buku apa? Merekatkan pertemanan lintas negara. 🙂

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Setapak menuju dunia dengan bukumu. Photo by: Anila Tavisha

“Never trust anyone who has not brought a book with them.” – Lemony Snicket

 

Aku tunggu balasanmu, ya, Nyet.

Salam Lonetraveler,

Anila Tavisha

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s