City Never Sleeps Hunter

 ImageSource : Here

 

 

 

“Bagaimana menurutmu kota yang ideal itu?” Aku membuka pertanyaan duluan, mencari jawaban yang sudah aku terka nanti, bersemangat.

“Aku harus mulai dari mana ya?” Membalik tanya dengan senyum tipismu.

Kamu menenggak air mineral, tanpa sedotan, seperti kebiasaan kamu. Dan menghabiskan seluruh isinya. Seperti biasa, aku hanya tenang di depanmu, menikmati kebiasaanmu.

“Kamu harus mulai dari memindahkan backpack dari punggungmu itu.”

“Ah ya, kamu jenius,” sambungmu cepat, lalu memindahkan ransel hijau mudamu, ransel segar, katamu.

Selagi kamu sibuk mengobrak – abrik isi ranselmu, entahlah apa yang sedang kamu cari, aku seperti biasa, tenang di depanmu, menikmati kericuhan yang kamu lakukan di depanku.

***

Awan kelabu masih menggantung berat sore ini, menghalangi senja yang seharusnya bisa aku nikmati bersamamu. Batas dengan kaca menjaga kita dari angin yang berhembus kencang sebelum air hujan menyerah jatuh ke Bumi, melepaskan diri dari awan yang sejak tadi mengikatnya.

“Aku tidak pernah merasa sejatuh cinta ini terhadap kota tersebut, Kal,” kamu membuka topik, akhirnya memulai menjawab pertanyaanku, menerobos bidang kasat mata yang membuat kita kaku di awal – awal.

“Tapi akhirnya kamu tetap kembali, aku senang itu.” Aku berterus terang, mengakui kepulangannya merupakan hal yang membahagiakan bagiku.

“Karena kamu meminta sebenarnya,” senyum sekilasmu memudar, aku hanya menikmatinya sekejap saja. Rindumu sudah kepalang besar, menumpuk di dalam dada, yang tidak akan bertahan lama.

Kamu akan kembali ke sana.

Meninggalkanku lagi.

***

Satu, dua, tiga menit. Kita begitu asik dengan urusan masing – masing. Kamu menatap ke luar, mengira – ngira kapan hujan akan berhenti, sambil bersiul – siul pelan, grogi. Iya, karena saat kamu menatap ke luar, aku menatapmu seksama.

“Aku selalu jatuh cinta dengan kota yang tidak pernah sepi, city never sleeps, membuatku tidak pernah merasa sepi walau ke mana- mana sendiri. Iya Kal, tidak ada jam malam. Aku aman berjalan sendiri, bahkan tengah malam, karena keramaian pedestrian membuatku merasa nyaman. Biarlah orang – orang itu tidak mengacuhkanku, tetapi aku merasa nyaman dengan keberadaan mereka..”

Kamu meneguk lagi air mineral kedua, menghabiskan setengahnya.

Bola matamu mengarah ke kiri, memvisualisasikan sesuatu yang pernah kamu alami sebelumnya, dan ingin terulang lagi.

“Di satu sisi, aku mencintai kota yang lekat dengan budaya dan alam. Semuanya bisa kucapai dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Lagi, aku tidak pernah merasa sendiri, apalagi   berinteraksi dengan warga lokal, membuatku lekas ingin menjadi bagian dari mereka.”

Aku menatap lagi perempuan berkuncir kuda di depanku, warna kulitnya terakhir tidak segelap ini, hasil berpetualangnya sendiri semakin mendewasakan pemikirannya, dan menggelapkan kulitnya, tetapi senyumnya yang khas masih tersemat di bibirnya, senyum yang selalu memperlihatkan barisan rapi gigi putihnya, membuat siapa pun yang tertawa bersamanya tidak ingin waktu lekas menyudahi percakapan mereka. Perempuan yang menyenangkan.

“Kalau kamu gimana, anak rumahan?”

Kamu menutup mulutmu, terkikik pelan di baliknya. Siapa pun tidak senang dipanggil Anak Rumahan, terlebih karena memang aku lebih senang di rumah.

“For those who are lost, there will always be cities that feel like home*.” Kamu mengutip lagi sebarisan kalimat yang selalu kamu ulang.

“Sepertinya, aku butuh seseorang yang bisa membantuku menemukan rumah di satu kota,” aku menahan lagi kalimat selanjutnya yang mengiringi tujuanku mengajakmu ke sini.

Aku menggenggam tanganmu, erat, “setiap perjalanan akan terasa seperti di rumah bila selalu bersamamu. Would you mind to be my life-mate, travel-mate, a crucial reason why I should leave my house and go around the world with you? Marry me, please.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta kala hujan, 4 November 2013

Lalu matahari bersinar terik saat sang perempuan menjawab “Yes, I do”

 

 * = quotes from Simon Van Booy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s