Efek Jamahan Rindu

Source: heymissawesome.tumblr.com

 

 

Siapa yang tidak pernah mau mengingat lagi satu momen yang terlalu lama kamu tunggu dan terjadi sesuai yang kamu mau, namun kamu harus meninggalkannya lagi.

Lebih buruk lagi, melupakannya.

Hal paling indah bagiku adalah perkenalan. Perkenalan, pertama kalinya kamu memulai ikatan sosial terhadap seseorang yang dapat membuatmu menjadi dua pilihan: menjadi lebih dekat atau malah akan menjauh seakan terbukanya sifat – sifat dia. Perkenalan, pertama kalinya kamu akan menjadi bagian cerita dari hidupnya nanti, yang menjadi indah karena mempunyai tempat sendiri di hatinya, menjadi kebanggaan cerita kepada lingkar sosial lain, atau malah mempunyai tempat sendiri di hatinya nanti, dengan segel yang rapat, agar tidak ada pemicu apapun yang dapat menyebabkan kamu membuka kenangan yang tidak menyenangkan dengan sosok sosial ini.

Aku tidak pernah menyangka akhirnya bisa memulai perkenalan denganmu. Lelah hanya menempa anganku di dalam mimpi, hingga aku memberanikan diri mendekatimu, mengenalkan diriku padamu. Aku masih ingat senyummu kala itu, senyum tanggung. Bagaimana seorang perempuan yang hanya berani menanggung semu pipinya yang merah saat berpapasan dengan sosok impiannya, mendatangi lalu menyodorkan tangannya, menghampirimu? Bagaimana seseorang perempuan yang keberaniannya hanya sebatas berbisik – bisik kepada temannya saat kamu lewat, dan sekarang mampu menghadapimu dengan senyumnya yang dipaksakan? Memaksakan diri agar tidak memejamkan mata karena malu, dan mendorong keberaniannya sekali lagi, beriringan dengan rasa penasarannya yang tidak tanggung – tanggung menabuh genderang di jantungnya, sehingga tidak ada cara lain selain menyelesaikan misinya: memulai perkenalan.

Kamu harus mulai siap saat ini, menempatkan namaku ke satu petak di relung hatimu, karena mungkin ceritaku akan lebih panjang daripada penantianku saat aku memulai perkenalan denganmu. Petak itu, silakan kamu putuskan, apakah akan kamu biarkan tumbuh benih yang aku titipkan kepadamu, atau kamu biarkan mati nanti, seiring dengan harapanku saat ini terhadapmu, dimulai dari perkenalan pertamaku itu.

Hal paling indah bagiku adalah perkenalan, saat itu.

Karena saat kedua tangan kita tergenggam erat, dan lirih menyebut nama kita masing – masing, aku sudah harus siap nanti.

Dipertemukan lagi denganmu, menumbuh-suburkan bibit pengharapanku untuk bisa menjalin terus cerita yang masih ada terusannya nanti.

Atau dipisahkan denganmu, mematikan-paksa bibit yang kutitipkan di petak namaku di hatimu.

 

 

 

Jakarta, 3 Desember 2013

2 Comments Add yours

  1. Febrian Gandamiharja says:

    nice “Hal paling indah bagiku adalah perkenalan, saat itu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s