Kopie Katze

Source: here

Aku selalu ingin seperti Mbak Bitari.

Setiap wanita ingin seperti dia, baik fisik maupun kepribadian. Aku ingin melenggang dengan kepercayaan diri dan senyum tipisnya melewati tiga perempat area kantor yang memanjang, mengenakan long dress pink dan heels 15 cm berwarna hijau toska, membuat semua orang kagum, membuatku kagum.

Dan semakin ingin menjadi seperti dia.

Aku tidak bisa melepaskan pandanganku saat melewati kubikelnya, caranya mengucapkan terima kasih kepadaku dengan lembutnya. Lalu, Mba Bitari berdiri membawa gelas kopinya, berjalan sedikit terburu menuju ruang rapat yang berada di tengah ruangan. Kali ini dia mengenakan blus hitam dan celana sewarna yang membuatnya terlihat semakin jenjang, cantik. Kali ini, flat shoes merah dikenakan olehnya.

Pink, toska, merah, warna – warna yang membuatku merinding. Mengenakan warna itu membuatku rendah hati, tapi melihat kepercayaan diri Mba Bitari membuatku yakin bahwa tidak hanya fisik saja yang bisa membuat warna – warna tersebut cocok ketika dikenakan, namun rasa percaya diri kita turut memperkuat perasaan itu.

Keesokan harinya, Mbak Bitari terlihat cantik lagi, seperti biasanya. Rambut sepundak yang digerai dan dandanan tipis, dress pastel yang sangat pas di badannya yang kurus, dan satu lagi, senyumnya.

Pastel dan senyum, untuk hari ini.

Aku akan menjadi seperti Mba Bitari.

***

Aku mengenakan rok peplum selutut (kata Ibu Diah ini modelnya peplum) berwarna pink yang baru diberi kemarin, lalu aku padu padankan dengan blus berwarna kuning.

Pede dan senyum, itu yang Mbak Bitari ajarkan padaku. Kalau dua modal dasar tersebut ditanam kuat, aku yakin bisa secantik dia.

“Terima kasih.. Kamu berbeda ya hari ini,Nah.” ujar Mbak Bitari saat aku menghampiri mejanya, senyumku lebar mendengar ucapannya.

Bukan hanya Mbak Bitari yang kubuat pangling, rekan sekantor juga berkali – kali menatapku dengan lama.

Aku akhirnya tahu bagaimana rasanya percaya diri itu.

***

“Apa kamu lihat – lihat?” Tanyaku galak, kepada seorang bapak di depanku, dia masuk ke ruanganku yang terbuka bebas.

“Kamu Nah, ada – ada aja.” Bapak tersebut menggelengkan – gelengkan kepalanya, menahan tawa. Aku menyodorkan setoples gula dengan kasar.

“Kenapa, Pak?”

Office girl aja gaya – gayaan kayak anak kantoran kamu, Naaah.. Onah..”

Aku meletakkan nampan di meja depanku, lalu duduk bersungut. Jadi satu kantor pada heboh karena aku office girl yang mencoba bergaya seperti orang kantoran? Seperti Mbak Bitari?

Telepon di pantry berdering, dari resepsionis “iya, Bu?”

“Satu kopi tanpa gula ya Nah, buat klien di ruangannya Pak Aga.”

“Baik, Bu.”

“Nah, ada salam nih,” suara resepsionis  di sana seperti menahan tawa.

“dari kurirnya klien buat kamu. Hahaha.” Telepon pun langsung ditutup.

Dan seketika aku menyesal kenapa mengenakan pakaian aneh ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s