Ilmu itu Ora Uwis – uwis

Lima kali.

Iya, setelah lima kali mesin mati, akhirnya Seraphina (baru nemu nama bagusnya kemarin) masuk ke garasi.

Sedih, aku membelai badannya yang masih terlihat anggun dari luar, namun rapuh di dalam.

Kenapa sih?

Kejadian empat hari lalu dialami olehku, yang membuat aku panik setengah mati. Gimana ngga? Mobil lagi jalan tiba – tiba mogok, lucky me,saat mesin mati mobil tersebut masih bisa diarahkan ke pinggir jalan dan mepet sama trotoar, sehingga terlihat seperti mobil yang mau parkir, yang pastinya tidak mengganggu jalan. Jarak hanya 10 menit sampai rumah, namun tantangannya berat, risiko mogok di tengah jalan dan mengesalkan orang membuatku ketakutan sendiri.

Kondisi aki semakin parah sepertinya, sudah mencapai titik soaknya, sehingga harus diganti. Kedatangan sahabat (sekali lagi, I won’t ask more to God for having another best friend like you, Bi. Thank you so much!!!) yang jauh dari Perum HANYA untuk bantu dorong mobil sangat membantuku. Tidak hanya mendorong, tapi mengawasi sampai rumah, di belakang mobilku, in case mogok lagi, tenaga sukarela sudah siaga dengan Freednya.

Cepat sembuh ,Seraphina.. 😦

(Disclaimer: Gambar bener – bener murni kebangetan rekayasanya. Tampilan mobil aslinya tidak seperti ini. Sumber foto: dari sini)

 

Serah terima jabatan tidak resmi dari Eik ke aku membuatku harus mulai mengulik banyak ilmu, terutama otomotif. Apa aja yang harus dikontrol dan dimonitor. Simpel aja, air radiator yang harus rutin ditambah, air wiper yang harus menggunakan cairan yang proper (karena mendapat pengakuan dari Mama kalau beliau cuma nambahin air biasa xD esok harinya aku langsung banci belanja semua perkakas mobil), minyak rem, dan sebagainya. Ngga ada lagi tuh yang terima jadi cuma nyetir – buka pager – tutup pager – nyetir. Sekarang ini, perawatan luar dalam mobil, menjadi tanggung jawabku.

Kali ini, aki.

Aki ini ternyata sudah berumur 3 tahun, dan akinya tipe yang Hybrid pula (entahlah bedanya apa, tapi katanya ngga bisa distroom). Sertijab ini meninggalkan banyak hal yang harus diurus, dicek lagi, didata, semacam ada log book, apa saja yang harus sudah diganti atau belum. Akhirnya aku juga harus belajar cara kerja dan jenis – jenis aki, idealnya ganti aki berapa lama, maintenance bagaimana. Sampai akhirnya aki sudah ganti, ternyata mobil masih bermasalah, seperti layaknya penyelidik atau dokter yang diagnosis, aku juga ikut belajar bagaimana si montir mulai analisa kenapa aki sudah ganti baru tapi mobil belum bisa berkerja semestinya.

Ternyata kelistrikannnya.

Masalah di listriknya, sehingga aki tidak mendapat suplai tenaga cukup untuk menyalakan dan menghidupkan mesin mobil.

(sampai berita ini diturunkan, mobil masih mogok, di tanjakan parkiran pula. Jadi masalah lain bertambah. Bukan aki, bukan kelistrikan, bukan busi yang aus, apa lagi ya?)

Jadi sebenarnya..

Ilmu itu ra uwis – uwis

Dan artinya kamu sedang berkembang, tidak stagnan hidupmu.

Selalu ada ilmu baru yang bisa kamu pelajari dan kamu dapatkan saat hari berganti hari, dan waktu bergulir maju, bukan mundur.

Kalau kamu merasa ilmumu cukup dan tidak perlu banyak belajar.

Entahlah, aku merasa itulah statement yang keluar dari orang bodoh.

 

Cepet sembuh ya, Seraphina. Rindu melaju kencang bersamamu.. 😦

 

 

 

 

Tangerang, 21 Desember 2013

yang bersyukur setengah mati bisa bawa mobilnya yang sedang sekarat dan rawan mogok sampai garasi rumah dengan selamat.

Kuncinya: tidak panik 🙂

 

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s