Surat Terbuka untuk Gramedia Express Tang City

Sebuah mall tidak lengkap tanpa beberapa tenant, toko buku salah satunya. Saya adalah termasuk kutu buku yang bisa berkunjung ke mal yang terjauh di daerah Tangerang, untuk membeli satu – dua buku atau majalah. Minimal, saat iseng masuk ke toko buku tanpa tujuan, tiba – tiba saja saat keluar saya sudah memborong banyak buku seakan sebelumnya tujuan saya masuk ke toko buku itu adalah untuk membeli, bukan melihat – lihat.

Kedatangan Gramedia Express di mal Tang City yang hanya sebrang – sebrangan dengan komplek rumah saya membuat saya antusias, baik sebagai pengunjung yang menunggu diskonan buku atau membayangkan betapa mudahnya memuaskan rasa lapar untuk membuka sampul plastik dan membaca setiap aksaranya.

Pada bulan Juli 2013, Gramedia Express resmi dibuka di Tang City, karena Express, tempatnya tanpa pintu, hanya menempati area terbuka di salah satu lapak. Tidak ada penitipan barang, benar – benar ekspres. Karena masih baru, penataan bukunya masih acak – acakan, jadi dimaklumi. Tapi yang pasti adalah buku yang berdiskon terletak di depan.

Hampir setengah tahun, ternyata hampir tidak ada perubahan di Gramedia Express. Pertama adalah dari para karyawan Gramedianya. Berbeda dengan para karyawan di Gramedia lokasi lain, saya merasa para karyawan tidak memperlakukan buku – buku tersebut dengan semestinya. Buku tersebut berantakan, tumpuk – tumpukan, seperti tidak pernah dirapikan.

Ini baru komplain pertama.

Kedua, karena penataan yang acak, sehingga penempatan buku hampir tidak sesuai dengan genre buku tersebut. Saya bisa menemukan novel remaja di rak biografi, atau buku tips dan trik di rak buku anak. Karyawannya seakan tidak memperhatikan hal itu, tak acuh dan membiarkannya begitu saja.

Ini komplain kedua.

Selanjutnya, walau pun Gramedia Express, tapi di Tang City tidak disediakan komputer pencari judul buku. Karena penataan yang berantakan, saya kesusahan mencari judul buku tertentu, sehingga dibutuhkan komputer pencari, setidaknya untuk tahu apakah buku tersebut masih ada atau memang sudah habis stoknya.Karena tidak menemukan buku yang saya cari, saya tanyakan ke petugasnya, dan mereka minta maaf karena tidak ada mesin pencari tersedia di sana. Saya memaklumi, namun saat saya bertanya ke beberapa karyawan mereka tidak mengenali buku tersebut.

Mereka – seakan – hanya – bertugas untuk membereskan buku – buku tersebut tanpa harus tahu satu judul buku itu masuk ke klasifikasi mana yang seharunya.

Dan mungkin inilah puncaknya.

Kejadiannya satu minggu yang lalu (satu minggu sebelum Natal), saya mencari satu buku. Saya tahu persis, walau penataannya acak – acakan, tapi koleksi buku baru Gramedia Express di sini lengkap. Jadi saya yakin, buku yang saya cari pasti ada.

Lalu saya menemukan buku tersebut dalam keadaan tanpa sampul. Lalu saya menanyakan ke petugas lelaki (shift maghrib saat itu) apakah tersedia buku tersebut yang masih disampul, dan petugas tersebut langsung menyebut tidak ada. Karena saya membutuhkan buku tersebut, saya tetap  membeli yang tidak terbungkus plastik.

Saat ke kasir, petugas perempuannya heran kenapa saya tidak mengambil buku yang masih terbungkus plastik, dia juga kebingungan karena tidak ada barcode yang harus di-scan untuk mengetahui harga buku tersebut. Saya langsung mengatakan bahwa petugas yang lelaki berkata bahwa buku tersebut sudah tidak ada, hanya yang tidak terbungkus satu – satunya. Saat kasir mencoba mencari, ternyata masih ada 10 eksemplar buku tersebut yang tidak tahu diletakkan di mana. Jujur saja saya kecewa berat, tapi saya tahu komplain langsung di sana tidak akan menyelesaikan masalah, karena saya tidak melihat manajer di sana, dan hanya menjadi ajang marah – marah saja. Makanya saya prefer menuliskan di sini. Saya kecewa dengan  cara kerja para karyawan di Gramedia Express Tang City, bukan hanya satu, tapi hampir semua.

Dan semua hal yang saya temukan ini merambat ke segala hal, dari para karyawan yang sering duduk – duduk saja di bagian aksesoris, tidak mengawasi para pengunjungnya, meja kasir yang sering kali ditinggal dan saat ada pengunjung mau bayar baru mereka datang tergopoh – gopoh.

Hal seperti ini sungguh menjelekkan nama Gramedia di mata para pecinta buku, apalagi mereka yang sudah terbiasa datang dan percaya membeli buku – buku di Gramedia.

Surat terbuka ini sudah saya tuliskan juga di blog saya, akun Kompasiana, akun kaskus, dan Surat Pembaca di Koran Kompas, in case, tidak ada respon yang baik dari pihak Gramedia atas masalah ini.

Terima kasih,

Farah Soraya

 

 

 

 

Updated Reply from Gramedia Bookstore

(karena saya memberikan link blog ini ke twitter Gramedia, saya mendapatkan Reply ini)

Gramedia Bookstore@gramediabooks

@rayfarahsoraya mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan terima kasih atas masukannya, akan segera kami komunikasikan dgn pihak terkait.

-tidak berharap banyak email akan dibalas namun semoga lekas diperbaiki semuanya 🙂

//

5 Comments Add yours

  1. Raf says:

    Baru minggu kemaren saya kesini, gramedia paling berantakan yg pernah saya kunjungin.

    1. yeah, fully agree with you. harusnya kualitas bisa sama dengan Gramedia yang biasanya, tidak perlu segalanya jadi Express dan apa adanya.

  2. Tia says:

    Pertama, apakah sudah komplain ke site manager?
    Jika tidak direspon, apakah sudah melayangkan surat keluhan ke Gramedia Pusat?
    Jika masih tidak direspon, apakah sudah melayangkan keluhan ke pihak yang concern seperti YLKI?
    Jika sudah dilakukan, maka tindakan anda untuk nulis di blog, kaskus, dll. Adalah tindakan yang super dan hebat.
    (jangan lupa ceritakan kepada kami, usaha2 anda dalam menyampaikan komplain secara bertahap, berikut kronolgisnya, kalau perlu buktinya) 😀

    Tapi, kalau belum dilakukan,
    Tindakan ini, tidak ubahnya membeberkan aib seseorang di depan khalayak umum, tanpa berusaha untuk menasehati secara personal, ataupun sesuai hirarki yang ada. Padahal tujuannya mulia (untuk perbaikan kinerja), tapi caranya kurang elegan.
    Seperti memberikan berlian, dengan cara dilempar ke arah kepala. Yang dirasa penerima, bukan indahnnya berlian, tapi malah sakitnya lemparan itu. 😦

    Mohon maaf bila ada salah kata
    Terimakasih

    1. Halo Mba Tia, terima kasih sudah berkunjung ke sini.
      Iya, saya sendiri sudah bertanya ke pada karyawan di sana, apakah ada Store Manager di sana tetapi tidak banyak membantu, mereka bilang ada, tapi kenapa tiap ke sana selalu ngga ada ya? 😀

      Karena komplain berkali – kali itu aku yakin tidak akan selesai hanya dengan karyawannya, maka dikirimlah copy-paste blog ini ke surat dan email (tapi belum ada tanggapan dari email, mudah – mudahan Senin besok ada)
      Kalau YLKI tidak terpikir sama sekali sampai Mba Tia mengingatkan, kurang tahu harus seperti apa langkah – langkahnya, kalau Mba Tia tahu bagaimana langkahnya that’d be great.

      Overall, terima kasih masukannya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s