Aku Pembaca yang Teliti, Karena Kamu Buku Milikku

Teras rumah, sofa panjang hijau toska dengan empat bantal yang diletakkan rapi, tempat sempurna untuk bermalas – malasan kala lelah setelah berkerja lebih dari sepertiga hari, oh ya satu lagi, segelas besar teh Twinnings spearmint, kesukaan kita berdua juga.

Saat ini aku sedang sendirian menunggumu, tidak ada kabar lagi mulai menjadi kebiasaanmu.

Jam dua belas malam, kamu membuka pagar dan memasukkan motormu, jelas wajah lelah bersemayam di wajahmu. Ah, kasihan.

Namun sebelum aku terbawa emosi, aku harus membacamu.

Kemeja biru slimfitmu sudah tidak rapi lagi, rambutmu kacau, aku ingin sekali menarikmu ke kamar mandi dan sekalian saja memandikanmu, biar aku bisa mencium wangimu dan tidur berpelukan, tidak mau lepas dari rengkuhanmu.

“Kamu lembur lagi?”

Ting.. ting.. ting.. bunyi sendok kecil yang beradu dengan gelas besar terdengar kasar memecah sunyi. Aku menunggu jawabanmu.

“Yah.. begitulah. Aku lelah sekali”

Kamu duduk di sebelahku, setelah mengucapkan terima kasih kamu menghabiskan teh tersebut hanya dalam beberapa tegukan. Tidak ada lagi  kegiatan mengobrol panjang sampai tengah malam (well ini sudah tengah malam memang), kami masing – masing menghabiskan minuman dengan caranya sendiri – sendiri. Aku memijit pundakmu, meringankan lelahmu.

“Apa yang terjadi dengan motormu?” Aku menunjuk ke bagian depan motormu yang penyok dalam.

Bahkan aku tidak tahu kalau kamu habis kecelakaan.

“Aku menabrak mobil di depanku yang berhenti mendadak di jalur busway, tidak apa – apa, pemilik mobilnya juga tidak minta ganti.”

Aku tidak sengaja membacamu.

“Di daerah mana kamu tabrakan emang? Kasihan…” Aku membelai rambutmu, lebih dekat denganmu.

Namun sebenarnya aku sedang membacamu.

“Hmm..”

“Sekitar.. Mampang gitu deh, lupa halte mana.” Lalu kamu memeriksa ponselmu, beberapa bunyi notifikasi bersahutan dari beberapa menit lalu, dan membalas beberapa pesan kepada si pengirim, lalu kembali menaruh ponsel tersebut di kantung kemejamu.

Tidak ada kontak mata.

“Mobil apa yang kamu tabrak tadi memangnya?”

“Sedan merah, sepertinya sedan merah, kira – kira begitulah.”

Aku mencium pipimu agar bisa menenangkanmu, “aku cek dulu kondisi motornya.”

“Tidak usah, tidak apa – apa, serius.” Kamu memegang tanganku erat, mencegahku ke sana. “Cuma sebentar.” Aku melepaskan genggamanmu dengan kesusahan.

***

“Tidak apa – apa dengan motormu, kok.”

“Apa kubilang.”

Lalu aku membacamu lagi.

Matamu membelalak, terkejut, namun langsung diredam oleh pengalihan, cara lama, membuka ponsel dan melihat pesan.

“Tidak ada notifikasi apa – apa di ponselmu, Sayang.”

“Iya, aku lagi cek sesuatu dulu, sebentar.” Kamu mengetikkan sesuatu di ponselmu, aku tidak peduli untuk siapa, namun hal ini yang harus diselesaikan.

“Hei, motor kamu bisa diperbaiki, kok.”

“Jadi.. intinya.. kecelakaan tadi tidak apa – apa yah.. Aku tidak tahu.”

Kamu memegang tanganku dan menggenggam tanganku, “aku tidak mau kamu panik.”

“Haha.. bisa aja kamu. Coba aku tantang kamu, ya.”

“Menantang apa?” Kamu mulai beradu pandang lagi denganku, tetapi menjaga tatapan, entah apa yang sedang kamu sembunyikan, atau belum siap dengan tantanganku.

“Kamu ceritakan kronologi kecelakaanmu …. dari belakang.” Aku mengedip nakal, tapi aku tidak melepaskan pandanganku ke dirimu.

“Maksudnya?” Kamu memberikan isyarat tidak mengerti, tapi kamu berada di pilihan sulit, kamu sudah masuk ke permainanku.

“Ceritakan secara terbalik kronologi kecelakaanmu, dari kamu pulang, menabrak Mobil, apa yang kamu lakukan sebelum menabrak Mobil, apa yang kamu lakukan sebelum masuk ke jalur busway, kamu habis dari mana sebelum menyalakan mesinmu. Yah, sesederhana itu,” aku mulai merasakan euforia aneh di dalam dadaku, mengetes kejujuran seseorang memang sangat menyenangkan, apalagi kalau itu pasangan sendiri.

“Permainanmu tidak lucu.” Rahangmu mengeras, menahan marah, menyesel telah masuk ke dalam permainanku.

“Itu hanya kata – kata, kok, apa salahnya? Aku hanya memintamu untuk menceritakan kejadian tadi secara terbalik?” Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku, semangatku saat berbicara padamu.

“Muak aku sama kamu. Kamu memperlakukanku seperti buku.” Nada suaramu merendah, indikasi bahwa kamu mulai marah besar. Marah karena malu.

Setidaknya aku tahu apa yang menyebabkan dirimu berubah, aku membacanya sendiri dari wajahmu. Saat aku ke motormu, aku melihat serpihan tembok di motormu, mobil atau dinding rumah yang kamu tabrak, Sayang?

Saat aku mencium pipimu, aku mencium aroma sekunder di badanmu, wangi parfum wanita yang sudah pudar, yang jelas itu bukan parfumku. Siapa yang memelukmu erat sebelum aku tadi, Sayang?

“Well yeah, because you’re my favorite book, Dear..And women are truly a natural liar detector”

 

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s