Perempuan yang Tidak Pernah Kamu Genggam Tangannya

Namanya Riskan.

Kamu tidak perlu tertawa mendengar namanya, karena menurutku orangtuanya memberikan nama yang cocok dengan perilaku dia saat ini, riskan.

Aku sudah bersahabat dengannya selama lima tahun, dan selama lima tahun pula aku sudah hapal tabiatnya.

Dia riskan jatuh cinta. Riskan yang mudah jatuh cinta.

Dan aku, yang tidak pernah mendapatkan keberkahan itu dari Riskan, Riskan yang tidak pernah jatuh cinta padaku.

***

Seperti kebiasaan sehari – hari, kami pulang kantor bersama. Lantai dua, dan Riskan di lantai lima di gedung perkantoran dengan total dua puluh lantai ini. Masih seperti hobinya, naik – turun tangga, Riskan sering pulang tepat waktu, dan aku kebanyakan terlambat waktu, tapi Riskan masih mau menungguku, untuk pulang bareng denganku. Jam lima sore pas, Riskan sudah duduk di bangku ruang resepsionis, melahap semua koran harian di kantorku, membaca satu per satu berita secara detail, lalu membahasnya panjang lebar saat di perjalanan.

Tapi aku tahu, kalau Riskan sudah datang, sebenarnya dia lebih banyak menikmati para wanita yang seliweran keluar masuk gedung, “abis cantik – cantik banget karyawan lo, Nes. Gimana ngga betah coba.”

Respon ucapan Riskan mending tidak kuacuhkan, padahal dalam hati sudah terasa panas, lalu mendidih. Risiko jadi manajer dengan masa kerja yang lama, tetapi mempunyai anak buah yang fresh graduation semua, dan perempuan semua.

Sore itu aku pulang cepat, yah.. secepat – cepatnya jam enam sore, dan Riskan sudah duduk dengan membaca “Ensiklopedi Pertambangan” yang baru hari ini berada di tempat buku. Aku yang sengaja meletakkan, karena aku tahu Riskan lapar bacaan, dan cara bacanya cepat sekali. Memang aneh, sebenarnya tidak ada divisi Tambang di kantorku, biarlah.

“Tumben udah keluar kantor,” Riskan menutup ensiklopedi tersebut, aku melihatnya dia melipat ujung kertasnya, untuk dibaca lagi esok hari. Kaos polo hitam, celana jins warna senada, sepatu keds biru tua yang diincar dari sepuluh tahun lalu (mencari ke negara lain dan ditemukan secondnya di Poncol, fiuhhh), khas Riskan. Tidak lupa dengan kacamata bingkai tebal yang berlensa lebar dan rambut pendek rapinya. Riskan menarik (makanya aku jatuh cinta padanya), tapi daya tariknya sering dipergunakan dengan salah dibanding benar.

“Sesekali pulang cepat, deh. Masa’ anak buah doang yang pulangnya cepat.” Aku mengehampaskan badanku di sampingnya, walau sudah pulang cepat, namun aku merasa lelah sekali. Namun wangi tubuh Riskan dapat meredam rasa pusingku, wanginya menenangkan. Masih sama seperti lima tahun yang lalu.

“Nes, gue izin ya, besok gue ke sini tapi…” Kebiasaan Riskan, yang menggantungkan kalimat untuk bisa kutebak kelanjutannya. Aku tahu.

“Sama yang mana?” Aku menghela napas panjang, ini bukan pertama kalinya.

Bukan pertama kalinya di kantorku.

“Riessa, Procurement.“ Senyumnya tertahan, matanya mengerling iseng ke arahku.

“Itu anak baruuu!!” Aku memukul – mukul lengan Riskan, sungguh keterlaluan dia, anak baru aja bisa digebet sama dia!! Yang dipukul hanya tertawa puas.

Jahat kamu, Riskan.

“Dia duduk di sini,” Riskan menunjuk bangku kecil di seberang tempat kami duduk, yang hanya dibatasi oleh meja kecil.

“Elo ngga bisa apa diemin anak orang yang cantik sekali aja?” Aku mendengus kesal, semakin kesal Riskan malah semakin bangga, itu yang membuat aku lebih kesal lagi.

“Ya udah makan, yuk. Jadi panjang urusan. Tadi gue baca di Koran ada berita aneh banget, masa’…” ujarnya tanpa henti sambil menggamit pergelangan tanganku dengan paksa, menyuruhku lekas berdiri.

Satu patah hati lagi dan harus segera kucari lemnya.

***

Seharusnya sebagai pimpinan aku mampu meredam emosiku, namun untuk saat ini aku tidak bisa fokus ke pekerjaanku secara total, berkali – kali aku mencuri pandang ke area Procurement, melirik yang bernama Riessa. Ya Tuhan, memang keterlaluan cantiknya perempuan ini, bahkan bukan rasa cemburu yang memburu dadaku, tetapi rasa kagum yang menyelimutiku. Tidak perlu polesan tebal untuk menegaskan kecantikannya, entah kemarin dia sedang sial atau memang beruntung, duduk di depan Riskan membawanya ke jebakan Riskan yang riskan jatuh cinta.

Untuk gadis ini, aku berdoa semoga Riskan tidak main – main lagi.

Dan aku sudah memulai membayangkan mimpi terburukku lagi yang akan jadi kenyataan, saat Riskan akhirnya ke kantor ini bukan untuk menghampiriku, tetapi untuk menunggu pacar barunya  nanti.

Tahan airmatamu, Nes, meja anak buahmu mengarah ke kamu semua. Minimal tutup dulu pintunya kalau mau menangis.

***

“Gue lembur,” jawabku singkat, menjawab telepon dari Riskan. Suara di seberang sana memaklumi, dan minta didoakan agar kencannya sukses. Aku melirik lagi ke arah gadis itu, yang sedang tertangkap basah sedang menatapku, mungkin sudah lama. Tertangkap basah, gadis itu pura – pura kembali menatap layar komputernya, aku tidak berhenti menatapnya, melihat reaksinya. Lalu, dia kembali lagi melirikku.

Aneh.

Beberapa waktu kemudian aku melihat gadis tersebut bersiap pulang, dan aku memilih untuk menutup pintu, tidak melihatnya beranjak. Dan.. oh yah, aku menonaktifkan ponselku, sepertinya tidak perlu Riskan pamit ke aku untuk acara romantisnya ini.

Setidaknya aku lebih konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk, dari pagi sampai jam lima sore tadi such a waste, aku sama sekali tidak bisa berpikir saat gadis tersebut masih terlihat dari ruanganku.

***

Hampir jam sebelas malam. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan taksi. Masih ada segelintir orang gila kerja di area ini. Sampai aku sadar ada seseorang yang asing sedang menyeduh kopi di pantry, serasa kantor sendiri. Cowo gila!

“Ngapain lo di sini?” Tanyaku, alih – alih terkejut mungkin nadaku malah terdengar ketus.

“Ketus banget, sih. Baru selesai gue.”

Ruangan yang sepi membuat suara kita lebih menggema, maka aku memberi tanda, menunjuk area lobi depan, dan Riskan pun mengikutiku.

“Mau cerita apa?”

“Kencan gue dipenuhi oleh elo, Nes. Haha..” Tawanya lepas, sepertinya aku juga salah mengajaknya berbicara di sini, suaranya tetap keras, nge-bass.

Aku hanya menggedikkan bahu, tidak mengerti.

“Dia menceritakan kekagumannya terhadap elo, Nes. Dia malah banyak tanya tentang elo, lucu deh.”

“Jadi, kencan kalian..” Aku mengikuti caranya, menggantungkan kalimat.

“Gagal, gue malah melihatnya sebagai adik kecil, kekanakan sekali tingkahnya. Tapi..”

Riskan menunduk, seakan menimang sesuatu, tapi senyum tipisnya muncul dari bibirnya, wangi tubuhnya malah semakin tajam.

“gue jadi belajar sesuatu sama dia. Cara dia menceritakan kekaguman kepada elo, gue langsung merasa bodoh.”

“Bodoh?” Aku tidak lepas menatapnya, menunggu Riskan mengangkat kepalanya.

“Iya, sumpah gue ngerasa.. bodoh banget, Nes. Setiap orang mengagumi elo dan gue mudah banget tidak mengacuhkan elo, ‘ngentengin’ elo, dan suka ngga ngehargain elo, Nes.”

“Riessa membuka mata gue dengan caranya yang cukup bikin gue kaget, dan anehnya, bukannya semakin suka sama dia, gue malah..” Lanjutnya, tepat sasaran.

Riskan menggenggam tanganku, semakin erat genggamannya semakin keras jantungku berdegup, “…semakin merasa bersalah. Maafin gue ya, Nes. Gue ngerasa kerdil banget tahu segala kebaikan dan kelebihan lo dari orang lain, betapa lo sabarnya ngadepin tingkah aneh gue terhadap cewe – cewe dan lo tetap sabar.”

Tidak ada yang bisa aku lakukan selain memeluknya, dan tentu saja memaafkan, karena Riskan memang mudah kumaafkan.

Mengaku masalah perasaan? Itu bisa nanti.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kantor, 17 Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s