Tidak Semua Orang Bisa Mendengar-kan

Listen to many, speak to few. – William Shakespeare

 

Rute Kalideres – Muncul memang sepertinya termasuk rute angkot paling terpanjang di Tangerang/Tangerang Selatan. Bahkan saking panjangnya, dalam satu rute tersebut, sopir bisa berganti sampai tiga kali, bagaimana penumpangnya, ya? Haha..

Hal ini yang menyebabkan angkot dari Muncul harus mengangkut penumpangnya secara penuh 4+6+2 (bangku tambahan)+2 (bangku depan) sebelum menjalankan perjalanan menuju Kalideres.

Tetapi untungnya, walau harus ngetem sampai penuh dulu, angkot tersebut mempunyai keuntungan, yaitu tidak melewati jalur macet di Stasiun Serpong, tapi membelah Griya Tekno (dan memang memotong waktu menjadi hampir 30 menit lebih singkat, jauh banget kan?). Begini kira – kira ilustrasinya.

Brush fuchsia adalah jalur angkot yang ‘cepat.’ Sedangkan brush ungu adalah jalur seharusnya. Karena ada beberapa orang yang memang menuju ke arah Serpong, maka ada 2 jenis angkot, yaitu Roda Niaga 1 yang lewat stasiun Serpong (tidak ngetem), dan Roda Niaga 2 yang memotong ke Griya Tekno tapi ngetem.

Dari hal kecil seperti inilah aku tahu artinya menunggu, mendengarkan, dan menghargai.

Banyak penumpang yang memilih naik Roda Niaga 2 padahal tujuannya mau kea rah Stasiun Serpong, hal ini banyak karena ketidak tahuan dari penumpangnya. Makanya, seringkali sopir menanyakan ke penumpangnya saat sudah penuh, “ngga ada yang ke Stasiun kan ini?” Dan memang, banyak penumpang yang tidak mendengarkan/tidak mengacuhkan.

Dan inilah efeknya, saat Roda Niaga 2 berjalan dan mulai belok kanan alih – alih lurus, PASTI ada 1 penumpang protes kenapa belok kanan, dan sopir pun menjelaskan ‘kan tadi udah ditanya,’ dan penumpang kebanyakan defensive alasan ini – itu dan minta diturunkan di situ, membayar 2000 rupiah saja.

Duh, hargailah mereka, para penumpang..

Karena harus ngetem, artinya setoran yang dibutuhkan harus lebih besar, dengan naik Roda Niaga, penumpang memang membayar minimal 4.000 rupiah untuk jarak terdekat, tapi dapat cepatnya (walau ngetem, tapi angkotnya cepet penuh), kalau naik Roda Niaga 1, 2.000 tapi macet banget.

Sopir angkot pun harus mangkel dan menahan kesal karena kelakuan penumpangnya, seperti yang aku saksikan kemarin, ibu – ibu yang ngotot bilang “yaaa kan tulisannya ke Serpong,” padahal dia duduk di belakang sopirnya, harusnya mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan sopir Roda Niaga 2 tersebut, turun pun hanya bayar 2.000. Haha.. aku yang menyaksikan saja kesal.

Pelajaran yang aku tangkap adalah, ya memang tidak semua orang bisa (dan mau) mendengarkan, apalagi yang berbicara ‘hanya’ sopir.

Satu pelajaran dari kejadian Minggu kemarin: Belajar Mendengarlah.

 

 

 

 

 

 

Kantor, 20 Januari 2014

4 Comments Add yours

  1. Moudy says:

    Kalo di Bandung, kadang pas ga di kejar waktu sih cukup menikmati naik angkot. Mau angkotnya ngetem atau ngebut.
    Kalo pas angkotnya ngetem sedangkan kitanya diburu waktu malas jg bayarnya full hahaha….

    1. hihi.. itu pengalaman berangkot ya, Mba. Kalau aku pribadi sih intinya mendengarkan, kadang karena dia ‘cuma’ sopir, omongannya suka ‘diacuhkan’, tapi sering disalahkan 😦

  2. Tomi Aribowo says:

    Harus dimulai dari sisi sebelah mana ya sudut pandang antara hierarki profesi dan status sosial yang kamu tulis Ray? Sepertinya semua berawal dari terpisahnya komunikasi & informasi deh antara penumpang & penyedia jasa angkutan. Aku suka banget naik angkutan umum, always and everywhere, sbg penumpang kita mestinya toleran dibarengin sisi angkutan yg harusnya pro-aktif. Tapi sepertinya masing-masing punya kepentingan. Menurut aku, kurang bijak kalau penumpang dibilang kurang mendengar, sementara disatu sisi supir angkot hanya 1X berkomunikasi. Daya tanggap (nalar) tiap orang berbeda. Disini aku pikir supir yg terlalu meninggikan diri, sedangkan penumpang bagaimana pun pasti punya ego comfortable. So…its up to situation.

    1. Seperti membaca kata vikinisasi di sini xD Tinggi banget kata – katanya.

      Sebenarnya inti dari cerita ini bukan mengulik dalam bagaimana hubungan antara penumpang dan pengemudinya, tapi bagaimana susahnya kita ‘mendengar’ dan lebih mau ‘didengarkan’.
      Karena kalau menurutku dari opini ini, kalau penumpang memang menuntut kenyamanan (dan pasti keselamatan), sopir pun juga menuntut para penumpang agar “taat” pada aturan yang ada (RoNi 1 kalo mau cepat dan RoNi 2 kalau mau lamban), jadi ada aksi – reaksi dengan penumpang. Toh stratanya sopir dengan penumpang kurang lebih sama, menurutku kalau masalah mendengarkan, tidak berlaku lagi strata.

      Semua orang harus mendengarkan, bukan hanya menuntut untuk didengarkan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s