Kunjungan Singkat di Hari Kerja

Disclaimer: Tulisan ini dibuat sebagai syarat untuk mengikuti kompetisi LBBK di grup Love Books a Lot ID, semua foto bersumber pada tautan terkait. Isi artikel masih menggunakan nama – nama yang ada pada cerita penulis yang asli. Bila penulis asli merasa keberatan dengan proses revisi tulisan pada artikel yang saya pilih, silakan hubungi saya. 🙂

Rabu, 25 Februari 2009 kami ber-empatbelas (saya,pak Gatut sbg Ka UPT Museum Bahari,serta rekan-rekan: Pak Mahdi,Bang Torus,Bang Jayadi,Pak Tukiman,Bu Rini,Bu Dewi,Bu Kris,Novi,Bang Kasmadi,Bu Rukmini,Dwi Sudiyanti melakukan kunjungan singkat ke Onrust,Kelor dan Bidadari serta P.Cipir(meski dari kejauhan krn terbatas waktu). Alih-alih mengobati kerinduan krn hampir sebulan tak dapat berkunjung ke Onrust karena terkendala cuaca dan geolombang besar yang tak bersahabat yang selalu memupuskan beberapa kali niat kami untuk berkunjung. Berangkat jam 10.00 pg dari Kamal dengan kapal nelayan Fajar Bone yang dinahkodai Pak Taryana,kami merayap menuju Pulau Kelor untuk melihat kondisi terkini Pulau serta sisa benteng Martelo. 35 menit perjalanan laut kami tiba di P.Kelor dengan pasir putihnya yang indah serta sisa benteng yang masih terlihat kokoh namun mengalami kerusakan di hampir semua sisinya.Dermaga yang rusak sulit untuk merapat perahu, namun masih tetap menyimpan pesona bila dimake-up dengan baik.30 menit kemudian kami kembali ke-dermaga dan melanjutkan perjalanan ke Bidadari untuk melihat keindahannya dan tentu Bangunan Cagar Budaya “sisa benteng Martelo”. Melihat P.Kelor yg merana dan P.Bidadari yang sangat bahagia,sempat membuat hati kecil ini iri dan bermimpi, kapan Onrust,Kelor dan Cipir dapat dipercantik?. Beberapa saat menyusuri sudut-sudut P.Bidadari terasa sangat mengesankan, karena kondisinya yang sangat siap melayani pengunjung dengan berbagai jenis “atraksi alam maupun buatan”. Ada pohon2 besar,hutan bakau buatan,fasilitas outbond,kolam lumba2,biawak-biawak liar dan tentu kamar terapung untuk menginap.30 menit kemudian kami kembali ke-dermaga untuk meneruskan kunjungan ke Onrust untuk melihat kondisi terkini P.Onrust. Beberapa menit kemudian “Fajar Bone” sandar di dermaga Onrust, berjajar dengan belasan perahu nelayan yang sandar untuk persiapan melaut di malam hari. Kedatangan kami disambut Mr Damin (sesepuh/jurukunci Onrust?), tentu dengan pesanan kami berupa udang,baronang dan Cumi yang siap santap lengkapm dengan sambalnya yang sangat merangsang untuk disantap.Dengan sangat sigap kami meluluhlantakkan musuh tersebut dalam tempo kurang dari 30 menit, Uuuueeenakkkkk buangeeeet, mak nyoooosss.Tapi lihat waktu menunjukkan pukul 13.30, langit mulai gelap, angin mulai bertiup dan gelombang mulai menggeliat-geliat. Kami harus tanggap terhadap isyarat-isyarat tersebut. Dengan sedikit tergesa kami bergegas menuju dermaga untuk kembali menuju dermaga Muara Kamal, melewati deretan bagang-bagang yang dipasang hampir di sepanjang jaran antara Kamal dan Onrust.Pukul 15.00 tiba di Kamal selanjutnya menuju Gd.Nyi Ageng Serang dengan siraman hujan deras di sepanjang perjalanan. Jkt,25/02/09.

Artikel bersumber dari sini

1. Koreksi Judul

Judul terlalu umum, bagi saya, judul ini termasuk tipe artikel perjalanan yang tidak akan saya buka linknya atau saya sempatkan baca, karena kurang berhasil membuat pembaca penasaran. Maka saya akan mengubah judul tersebut menjadi, “Jelajah Tiga Pulau di Sudut Jakarta”

2. Koreksi Konten

a. Penulis bercerita secara ‘bebas.’ Bebas di sini dalam artian, tidak menunjukkan tulisannya sebagai artikel perjalanan, namun lebih ke pengalaman singkatnya saat berkunjung ke tiga pulau tersebut di hari kerja.

b. Menemukan kata yang missused. Seperti ‘alih – alih’ yang tidak tepat peletakan katanya dalam kalimat yang penulis buat.

c. Singkatan. Banyaknya tulisan dengan disingkat – singkat, seperti contohnya: krn,pg. Tentunya tidak diperbolehkan dong suatu artikel perjalanan penuh tlsn yg disgkt sgkt? 😀

d. Pengulangan dengan menggunakan tanda seperti ini contoh2nya.

e. Typo. Baik, ini adalah hal yang tidak bisa dihindarkan, terutama untuk jenis tulisan yang penulisnya tidak acuh dengan tata bahasa. Namun, diminimalisasi lebih baik untuk sebuah artikel.

f. Less information. Travel writing is not about explaining about price and budget for sure. Namun, hal ini yang membuat seorang penulis perjalanan menjadi lebih luas eksplor tentang keindahan tempat tersebut, tanpa harus menyebutkan detail harga.

3.Menulis Ulang

“Jelajah Tiga Pulau di Sudut Jakarta”

Setelah tertunda selama lebih dari satu bulan karena cuaca buruk, niat kami mengunjungi tiga pulau di Kepulauan Seribu tercapai juga. Yang lebih menyenangkan adalah, perjalanan kami dilakukan saat hari kerja. Kami bisa lebih bebas eksplorasi pulau tersebut.

“Walau cuaca buruk, masih banyak wisatawan yang nekat ke Muara Kamal dan ingin menyebrangi lautan untuk menuju ke pulau – pulau tersebut,” ujar Bapak Taryana, nahkoda kapal ‘Fajar Bone’ yang akan mengantarkan kami berempat belas menuju Pulau Kelor dan sekitarnya.  Menikmati  semilir angin dan warna laut yang mulai berubah jernih seiring dengan menjauhnya kapal dari dermaga, cuaca pagi hari di Jakarta sudah lebih bersahabat. Berbincang – bincang dengan Bapak Taryana menjadi pagi yang menyenangkan. Beberapa teman memutuskan untuk tidur di kapal, kelelahan karena mengalami perjalanan jauh dari Banten.

Pulau Kelor

Perjalanan menuju Pulau Kelor hanya memakan waktu 35 menit, Benteng Mortello merupakan tujuan utama para wisatawan yang berkunjung ke sini, selain – tentu saja, hunting foto dan snorkeling yang membuat wisatawan ramai berkunjung ke sini. Pulau Kerkhof, yang merupakan nama asli dari pulau tersebut, berhasil membuat kami terpesona dengan pesona benteng yang sudah  berumur ratusan tahun tersebut. Dari kejauhan, benteng dengan struktur bata – bata merah tersebut masih berdiri tegak.Begitu kontras dengan pasir yang putih dan gradasi laut yang menyejukkan mata mampu membuat kita ingin berlama – lama di sana. Keindahan yang misterius.

Image

Sumber foto: di sini

Namun seperti namanya, pulau tersebut memang hanya “selebar” daun kelor. Maka kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, Pulau Onrust.

Pulau Kelor

Unrest, begitu orang menyebutnya. Memang, Onrust berasal dari bahasa Belanda yang artinya pulau tanpa istirahat. Pada  masa kekuasaan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), Pulau Onrust digunakan sebagai galangan kapal, sehingga pulau ini seperti detak jantung, tidak pernah beristirahat.

Berbagai kejadian di pulau ini begitu beragam, kami mendengar Pak Gatut,  yang menceritakan kejadian yang terjadi di Pulau Onrust ini. Pulau Onrust dikondisikan sebagai pusat bongkar – muat barang, namun fungsinya juga diubah menjadi karantina haji, sampai tempat eksekusi mati dari Raden Sekar Maji Kartosuwiryo pada tahun 1962.

Image

Sumber: di sini

Tidak kalah dari pulau pertama, kami disambut oleh pemandangan yang eksotis, angin yang membawa asin dari laut yang ikut masuk ke saluran pernapasan, rimbunnya pepohonan, dan keeksotisan puing – puing benteng dan penjara. Komplek Makam Pribumi dan Taman Makam Belanda ditemui di pulau ini. Sejumlah makam Belanda membentuk prasasti yang bisa dibaca sejarahnya, seperti contohnya makam Maria. Selain itu, terdapat icon Pulau Onrust yang berbentuk batu dan berisi informasi tentang Pulau Onrust.

Belum ada kata lelah, kami  menuju pulau terakhir, Pulau Cipir.

Pulau Cipir

Pulau Khayangan adalah nama lain dari Pulau Cipir – atau Pulau Kuiper saat masa pemerintahan Belanda. Di pulau ini, masih tersisa barak – barak karantina haji yang lebih utuh dibandingkan Pulau Onrust yang lebih banyak sudah berbentuk puing – puing. Bahkan beberapa bangunan tersebut mepet dengan bibir laut karena abrasi.

Keindahan Pulau Cipir juga tidak kalah indahnya dengan pulau yang lainnya. Beberapa orang saya temukan juga sedang asik memancing, karena beberapa spot di pulau tersebut sangat sempurna menjadi tempat memancing ikan. Saya bersabar menunggu teman – teman lain asik mengabadikan dirinya di pulau ini, saya mengelilingi pulau tersebut tidak jauh dari mereka, melihat meriam peninggalan zaman Belanda yang sudah berumur ribuan tahun, dan bangunan – bangunan bagi para jamaah Haji saat abad ke-19.

Image

Sumber: di sini

Karena belum begitu sore, saya juga menyempatkan diri melihat satu benda yang berbentuk seperti fondasi jembatan. Katanya, fondasi tersebut merupakan jembatan yang menghubungkan antara Pulau Onrust dan Pulau Cipir, tetapi bentuknya sudah tidak utuh lagi.

Senja mulai menggurat di langit Barat, kapal kembali bersiap menuju Muara Kamal. Perjalanan kami merupakan perjalanan tertunda yang akhirnya terlaksanakan. Di Jakarta, ternyata masih banyak potensi wisata alam yang masih bisa dicapai dalam waktu singkat dengan pemandangan yang indah dan mengenang.

Sore itu, perjalanan diisi oleh kesunyian, kami begitu lelah, namun guratan senyum tercetak jelas di bibir teman – teman saya, yang sedang asik mengenang petualangan satu hari tadi, di tiga pulau kecil Kepulauan Seribu.

Salam Lone traveler,

Anila Tavisha

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s