Travel Article: Pemberian Sedekah Biksu di Minburi

Image

(Mungkin) Bacanya Pasar Kwan Riem xD

“Kamu harus bangun pagi, maksimal jam 6 kamu harus sudah berangkat dari sini.” Tegas staf concierge hotel di Ramkhamhaeng 44 tempatku menginap selama di Thailand, pemuda cheerful yang selalu tersenyum adalah staf yang benar – benar helpful, selama tiga hari, aku selalu bertanya ke mana destinasi yang wajib dikunjungi selama traveling di Thailand, lagi – saat itu aku pun melakukan solo.

Aku tidak direkomendasikan untuk mengunjungi Floating Market yang di Ratchaburi, karena terlalu jauh dan makan waktu. Lalu staf tersebut merekomendasikan satu pasar terapung di daerah Minburi, masih di jalan Ramkhamhaeng  (yang memang panjang sekali seperti Jalan Daan Mogot di Jakarta), namanya Kwan Rim Floating Market. Mengapa aku diharuskan untuk datang pagi – pagi sekali? Karena ada ritual yang diadakan saat itu – weekend, yaitu pemberian sedekah (alms) terhadap para biksu di sepanjang sungai. Maka, momen langka itu tidak bisa aku lewatkan, setidaknya selama ada di Thailand.

(Kata siapa kalau traveling kamu bisa bebas bangun siang? Berhari – hari di Thailand aku selalu sudah keluar hotel jam 7 kurang TT_TT )

Jam 7 Minggu pagi di Thailand, cuaca cerah pagi itu. Perjalanan menuju Kwan Rim dengan menggunakan taksi, karena ternyata cukup dekat. Dan memang, argo taksi tidak sampai 50.000 rupiah aku sudah sampai ke Pasar Terapung Kwan Rim.

Saat masuk ke dalam Kwan Riem, kamu akan menemui pasar yang bersih, seperti pasar tradisional (kalau di Indonesia namanya sudah pasar modern, hehe..), aneka pernak – pernik, makanan, jajanan, buah dijual di sana, tapi tempat ini belum di pasar terapungnya. Aku harus berjalan lagi melewati jembatan kayu yang cantik sebelum akhirnya ke venue, proses pemberian sedekah untuk para biksu.

Image

Pasar Kwan Riem yang bersih

Tidak ada wisatawan asing di sini. Hanya beberapa warga lokal yang memang bertujuan untuk memberikan sedekah, dan satu – dua warga Thailand yang datang membawa kamera untuk mengabadikan acara tersebut. Saat aku datang, doa – doa dari para biksu menyambutku, para biksu duduk di satu titik dan berdoa dengan menggunakan mikrofon. Walau aku tidak mengerti artinya, tetapi beberapa hari di sana aku seperti sudah hapal nada yang dikeluarkan dari doanya, menenangkan. Karena doa ini selalu diputar dan diucapkan selama aku berkunjung ke Grand Palace dan kuil (Wat) di sekitar sana.

Warga pun sudah rapi duduk dan ikut berdoa di pinggiran kali, memenuhi setiap pinggiran kali, tidak ada yang kosong tempatnya. Keadaan tempat makannya saat itu bahkan sepi, semua warga berkumpul – yang tidak kebagian tempat bahkan tetap berdiri rapi, di dekat kumpulan biksu tersebut.

Image

Image

Jam menunjukkan jam 8 kurang, para biksu mulai berpindah dari tempat duduknya ke perahu kecil. Masih sambil melafalkan doa – doa, para biksu tersebut menampung sedekah dari warga di sana. Belum sampai ujung, makanan minuman dan sebagainya sudah memenuhi perahu tersebut, sampai dikosongkan dahulu lalu kembali berjalan lagi sampai ke ujung sisi yang lain. Dari semua biksu, aku terpesona sama biksu yang masih muda, ck!!

Image

Prosesi Pemberian Sedekah (alms) ke Para Biksu

Image

Ritual tersebut berjalan hampir setengah jam, dan aku tetap di pinggir kali, mengabadikan tanpa harus menjadi pengganggu di sana. Aku kagum dengan cara para warga yang benar – benar hormat dengan para biksu, anak kecil yang berebutan menaruh sedekah agar sampai di kapal. 

Saat para biksu turun dari kapalnya, para warga mulai membubarkan diri, sebagian dari mereka pulang, atau belanja di pasar modern di dekat pintu masuk, yang lainnya mengunjungi kafetaria di dekat kali.

Kafetaria tersebut ada yang mengapung – memang di kapal (sayang sekali makanannya kebanyakan dari olahan babi, jadi aku tidak bisa merasakan sensasi makan di kapal), ada juga yang di bangunan. Aku pun memesan nasi ayam Hainan.

“Indonesia?” Tanya Bapak penjual nasi ayam tersebut, aku menganggukkan kepala dan tersenyum, si Bapak tidak kalah lebar senyumnya, karena tebakannya benar. Aku pun dalam hati mau tersenyum lebih lebar dari bapaknya, karena akhirnya ada orang Thailand pertama yang tebakannya benar tentang dari Negara mana aku berasal.

Setelah tandas makananku, aku memutuskan untuk mengelilingi kafetaria Kwan Rim, jenis makanan yang dijual memang tidak jauh dari makanan Indonesia. Ada yang berjualan putu mayang – tentunya namanya beda kalau di Thailand, creepes namun dalam bentuk gulungan yang panjang (30 baht dan enak sekali), kue pancong dan lainnya.

Setelah asik berjalan di sekitaran kafetaria, aku memutuskan untuk pulang, melewati pasar modern yang bersih, kura – kura yang umurnya sudah ratusan tahun, dan babi yang besar sekali, sayangnya untuk babi ini tidak sempat kuabadikan, padahal staf concierge hotel tadi mempromosikan Kwan Rim karena ada babi yang ukurannya besar sekali.

Image

Kura – kura dan kelinci yang akur :3

Sebelum kembali ke hotel menuju perjalanan berikutnya, jangan lupa membeli jus buah atau buah potong yang terkenal segarnya. Untuk ke jalan raya, disediakan kendaraan gratis yang mengantarkan sampai sana, bentuknya seperti bentor (becak motor) yang dapat mengangkut sekitar 4 orang. Tempat mangkal transportasi tersebut cukup terlihat kok, dan ada tulisan dengan bahasa Inggris juga, sehingga kamu tidak perlu kesusahan mencari tahu apa isi tulisan yang dipampang di bentor tersebut.

Image

 

Bentor for Free

Melanjutkan ke Ramkhamhaeng Street 44, aku menggunakan bus dengan nomor 202 (10 baht). Transit di hotel sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke daerah Sumkhumvit.

Image

 

Khop Kun Krap/Ka*

Salam (late) Lone Traveler,

Anila Tavisha

 

 

 

* terima kasih

 

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s