Mistletoe dan Cerita Lima Menit

“Ini cerita lima menitku, dimulai dari… sekarang,” Ilyana memutar pergelangan tangannya, mencari tombol stopwatch di jam digitalnya dan menyalakannya. Nit nit.

“Oke.” Jawabku singkat, mencoba fokus dengan ceritanya nanti, aku menyingkirkan cangkir kopi di depanku, meletakkan ponselku. Multitask adalah hal yang paling menyiksa bagi lelaki, lebih baik kusingkirkan semuanya.

“Aku masuk ke satu taman dengan gerbang yang terbuat dari tumbuhan rambat yang dirangkai indah dengan mistletoe di tengahnya. Aku, dengan gaun hijau – dan mungkin..” Ilyana memejamkan matanya selama beberapa detik, mengingat ceritanya.

“.. aku sedang mengenakan gaun yang terbuat dari daun yang lembut sekali, membalut tubuhku dengan halus, tidak gatal. Aku terkesima dengan gerbangnya yang indah, aku terdiam selama sepuluh.. dua puluh.. tiga puluh detik karena terhipnotis oleh gerbang itu, tetapi aku harus lekas – lekas masuk ke dalam, aku sudah mendengar riuh rendah orang – orang di dalamnya. Ada banyak sekali suara di dalam sana, mungkin ratusan.”

Ilyana melihat jamnya, lalu tersenyum dan menunjukkan waktu yang tersisa kepadaku, masih ada tiga menit lagi. Aku menganggukkan kepala, mempersilakan gadis manis di depanku melanjutkan ceritanya.

“Lalu, aku petik mistletoe tersebut, aku bawa ke dalam sana. Semua orang di dalam sana mengalihkan kegiatannya dan memperhatikanku jalan, aku tidak merasa canggung, aku merasa senang mereka melihatku.”

Tangannya sibuk bergerak ke sana – sini, mengilustrasi apa yang dia alami beberapa hari lalu.

“Sepertinya aku pengantinnya, aku berjalan di tengah alas lembut berwarna merah dan semua mata terarah kepadaku, aku menggenggam mistletoe itu lebih erat lagi, jangan sampai terjatuh.” Tangan Ilyana seperti menggenggam sesuatu, membayangkan tumbuhan tersebut benar ada di genggamannya.

“Lalu sampai di ujung jalan, aku sendirian dan..” Ilyana mengeluarkan sesuatu dari tasnya, mistletoe yang entah dia dapatkan dari mana, aku menatapnya heran. Lalu aku dan Ilyana yang sedang duduk berhadapan, Ilyana tersenyum dan mengangkat mistletoe tersebut ke atas, antara aku dan dia.

“Aku harus mencium seseorang saat di bawah mistletoe.”

Aku mendekati Ilyana dan mendekatkan wajahku ke wajahnya, Ilyana tetap memegang mistletoe tersebut saat kita berciuman lama.

“Sudah pas lima menit?” Tanyaku.

Nit nit nit nit, alarm jam Ilyana berbunyi di menit kelima.

“Apa yang kamu harapkan dari mimpimu tadi?” tanyaku kembali.

“Menjadikan mimpi itu nyata bersamamu.”

 

 Image

Sumber foto

 

 

Office, 4 4 2014, 13:21

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s