Kelancangan Seorang Teguh Sudarisman di Bukunya

Travel Writer Diaries 1.0, begitu nama judul buku tersebut, ditulis oleh seorang Teguh Sudarisman, senior travel writer.

 

Travel Writer Diaries 1.0

Sumber foto: Anila Tavisha’s

 

Buku setebal 278 halaman sudah terbaca dalam kurun waktu yang cukup lama, menunda waktu, menduakan bacaan dan alasan lainnya. Dari dua puluhan buku dengan genre Traveling, mungkin ini buku paling lancang yang pernah aku baca.

  1. Buku ini menyajikan perjalanan dari seorang Teguh Sudarisman saat menjejak ke beberapa daerah wisata – baik yang populer maupun yang  belum terlalu terkenal di Indonesia.
  2. Jawa? Sumatera? Kalimantan? Oke, di buku ini pembaca akan disuguhi cerita Nusantara, mulai dari pengalaman naik gajah di Tongkahan, mendaki Krakatau, sampai mengunjungi batik di Little Nederland.
  3. Jenis pengalaman apa yang ingin pembaca inginkan saat melihat buku ini? Berburu air terjun? Melihat pembuatan gong dan lukisan terbalik? Mendaki gunung? Mengejar sunrise dan sunset di satu spot yang sama? Snorkeling? Atau.. berenang bersama hiu? Semua jenis petualangan yang dialami Teguh Sudarisman tersaji di buku ini, paket lengkap.
  4. Apa lagi? Banyak!!

 

Buku ini terdiri dari 27 cerita yang mengungkapkan perjalanan Teguh Sudarisman saat menjelajah Indonesia. Begitu banyak cerita di sini yang membuatku berdecak kagum – mungkin kalau tidak mau disebut malu sendiri. Bagaimana tidak? Teguh Sudarisman menceritakan perjalanannya tentang pembuatan gong yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi saat mengunjungi kota Bogor, lebih tepatnya di Pabrik Gong Pancahan. Satu tempat yang mungkin orang Bogor sendiri tidak tahu ada tempat seperti itu, namun Teguh Sudarisman menceritakannya dan membuat pembaca penasaran untuk berkunjung ke sana.

Ada juga cerita tentang Pendakian ke Anak Gunung Krakatau yang menjadi pengalaman pertama bagi Teguh Sudarisman saat mendaki gunung, bahkan istrinya sampai bertanya apakah Teguh Sudarisman sudah gila saat ia mengutarakan keinginannya untuk mengikuti trip ke Krakatau. Hahaha..

Seni Melukis Terbalik ala Trusmi adalah tulisan yang paling asing menurutku. Aku benar – benar (oke, ini perasaan malu dari diriku yang tidak mengenal Indonesia secara jauh). Teguh Sudarisman menceritakan pengalamannya mengunjungi daerah Plered di Desa Trusmi Wetan yang menjadi sentra lukisan kaca. Teknik melukis dia tas kaca yang sangat susah dan menggunakan dua warna saja, hitam dan putih. Butuh ketelitian dan juga kesabaran untuk bisa melukis di atas kaca, bahkan di cerita ini Teguh Sudarisman mencoba melukis di atas kaca dan tentu saja – gagal (pasti kalau aku coba juga bernasib sama dengan beliau XD ).

Lalu, 24 cerita lainnya? Sepertinya keseruannya akan berkurang jika aku ceritakan semua ringkasan di sini.

Dari semua cerita yang aku baca, semakin percayalah aku bahwa memang Teguh Sudarisman merupakan seorang travel wrtiter yang lancang. Bagaimana tidak lancang, aku yang kampong halamannya di Wonosobo tidak tahu menahu dengan pengolahan tembakau secara detail di Desa Pringapus. Bahkan Teguh Sudarisman dapat menjelaskan kualitas tembakau tersebut dari Totol Totolnya. Lancang!! (padahal akunya aja sendiri cuek sama hal itu kali ya, ngga perhatian 😛 ). Silakan baca “Desa – Desa Asap” agar tahu letak kelancangannya.

Lalu apalagi? Iya, Teguh Sudarisman juga semakin terlihat kelancangannya terutama setelah selesai membaca keseluruhan buku ini. Keinginanku untuk menjelajah Indonesia semakin kuat dan membuatku yakin bahwa (seperti pada blurb buku ini), “ternyata memang tak sulit mencintai Indonesia.”

Make Money from Your Journey, tagline yang sudah pernah kudengar saat mengikuti Seminar Travelnya tahun lalu, kutemukan lagi di buku ini pada bagian akhir, membuatmu semakin ingin menjelajah Indonesia. Silakan baca bagian “Travel Writer: The Best Job in The World?”

Lalu, apa kekurangan buku ini? Tidak banyak. Pertama adalah bagian ini,

 Image

 

 Sumber foto: pribadi

Kombinasi biru tua – hitam sangat tidak cocok. Aku sering kali skip membaca saat kutemukan tulisan ini, biru – putih lebih bagus seperti pada beberapa bagian. Jujur saja, bagian ini cukup membuat mataku tidak nyaman.

Foto. Foto memang sangat tidak jelas. Yeah.., what do you expect from two – toned book, eh? 😀 Tapi dokumentasi perjalannnya bisa ditemukan pada akun social medianya, seperti Facebook. Silakan berkunjung ke sana.

Overall, 4 of 5. Seriously, this book is very inspired. I always get nice and wise advice from him regarding my travel writing on my blog. Yeah this comment turns subjectively then :p

So, read it. Read my blog as well!! Ciao!!

 Image

 

Nih, “kompor” dari Mas Teguh, huh!!

 

Salam Lone Traveler,

 

 

Anila Tavisha

5 Comments Add yours

  1. nyapurnama says:

    Kalau baca buku traveling kayak gini suka jadi siriiikk.. berasa lagi dipanas-panasin… hahahaha =))

    1. Iya, apalagi kalo dipanas panasin sama quotes yang dia tulis untuk aku di bukunya, grrrr…

      1. nyapurnama says:

        ayoookk segera realisasikan! Biar nanti aku bisa dapet buku edisi TTD mu Ray, sekalian pakai kata2 mutiara juga.. 😀

  2. iyoskusuma says:

    Salah satu penulis kesukaan saya, dan saya belum punya bukunya. Haris beli! Haha.

    1. harus banget! dan kalau ketemu beliau juga ngga pelit ilmu, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s