Love in Songkran Festival

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

 

Aku mencoret lagi lima kalimat yang baru saja tertulis lima menit lalu. Artinya, satu kalimat per satu menit. Aku membutuhkan satu waktu sampai satu menit untuk menuliskan satu kalimat – yang akhirnya aku hapus juga. Lima kalimat dari hasil lima menit berpikir aku hapus juga.Kertas papirus yang sengaja kubeli agar menjadi surat yang unik akhirnya harus kuremas juga. Betapa susahnya membuat kalimat – kalimat yang sudah ditentukan tujuannya dan terutama – untuk siapa. Belum lagi distraksi dari ponselku, delapan grup Whatsapp yang saling rebutan membunyikan notifikasinya dan seakan mencari perhatianku, 8 conversations dan ratusan pesan yang harus aku baca, atau kalau enggan, aku akan langsung menghapus tanpa membacanya. Aku menyingkirkan ponselku, kugeser ke tepian meja dan membiarkannya menempel ke tembok, tapi saat sadar bahwa panjang tanganku masih dapat mencapai benda seluler tersebut, aku berdiri dan memindahkan ke kamar adikku. Ini lebih baik.

Layar komputer di depanku masih menyala, 10 tabs yang masih terbuka, dari hasil pencarian google dengan kata kunci “love letter”, “how to make love letter?”, “puisi cinta”, “isi surat cinta”, dan pencarian lain yang sejenis. Hasilnya masih nihil, layar ini masih sepi, belum ada satu aksara pun yang menghampiri, belum ada inspirasi apapun yang mendatangi. Mesin pencarian tersebut tidak membantuku sama sekali. Kertas papirus tadi aku ambil dan aku remas sampai tidak berbentuk lembaran, kulemparkan ke langit – langit dan sialnya mengenai kepalaku. Semakin suntuk suasana hatiku.

***

Dua hari lalu..

“Pokoknya kamu harus ikut, Stel!!” Bujuk sahabatku mengenai festival tersebut.

“Tapi ngga di Bali juga, kan di Jakarta ada,” jawabku gusar, sahabatku mulai bertingkah menyebalkan jika sudah memaksakan sesuatu.

“Kasih surat cinta kamu di sana,” lanjutnya, tidak acuh terhadap jawabanku.

“Tapi festival itu kan di sini juga ada, kayaknya kalau ke Bali..”

“Ya festivalnya ada di Jakarta, tapi kan yang dituju bukan ‘apa’, tapi ‘siapa’ yang ada di sana. Pranaja Danuwerda.” Jawab Nyanyu tidak mau kalah, matanya mengedip penuh kemenangan. Iya, dia menang, aku kalah.

Dan aku sedang mengontrol degupku yang tidak santai setiap nama itu disebut lengkap.

Tidak perlu berkomentar lagi karena mataku langsung sibuk membuat suatu konstruksi di pikiranku, dengan Pranaja sebagai obyeknya. Pranaja Danuwerda, lelaki yang selalu sifatnya bertemu – lepas dalam waktu yang singkat. Pertama kali berkenalan di satu kafe saat acara Malam Puisi Jakarta, berbincang sedikit namun aku tidak bisa menyembunyikan rasa gugupku saat dengan Pranaja. Padahal, saat itu Pranaja bukan membacakan puisi di sana, tetapi menemani pacarnya yang aktif di komunitas itu. Tetapi rasa gugupku tidak gugur, tetap terpesona pada pandangan pertama, tetap susah lupa.

Sampai saat ini.

PLAK!!

“Kebanyakan bengongnya!!” Nyanyu menepukkan kedua tangannya dan mengagetkanku, bagai Walter Mitty yang sibuk melamun dan membentuk mimpinya saat mata terbuka, aku hampir saja membayangkan kejadian yang aku inginkan terjadi terhadap Pranaja. Yah, selain menjadi Walter Mitty aku sekalian saja membentuk dunia Inceptionku.

Berusaha kembali ke dunia nyata, aku berlalu meninggalkan Nyanyu, membuka pintu kaca kamarnya yang menyajikan pemandangan indah di selatan sana, pemandangan Gede – Pangrango yang bertudung awan putih tebal dari kejauhan, bagai jamur putih raksasa yang menghembuskan hawa sejuk ke kamar ini.

“Cinta pertama bukan ini namanya, Nyu?” Tanyaku, tanda tanya besar menetap jauh di dalam yang jawabannya mungkin bisa kudapat saat ini.

“Entahlah, Stella. Bagaimana perasaanmu memang?” Kami berdua duduk menghadap ke arah gunung tersebut, di kursi malas yang membuat kami ingin lama bermalas – malasan di sana.

“Bagaimana bisa seseorang yang baru kamu temui beberapa kali, bisa menjadi pengalih perhatian besar di hidupmu, menghentak jantungku saat orang menyebut namanya. Mengapa semudah itu jatuh cinta?”

Nyanyu tersenyum, matanya tidak berpaling ke pemandangan tersebut, semilir angin mulai perlahan membelai rambut kami, membuat kami ingin berlama – lama di posisi ini, “Maybe it’s called as first love. And why? Because it is the first, you have no idea how to handle your feelings, which are too strong at the first time for obvious reasons, and because you don’t have to experience to know how things really are, Stell.”

“Jadi.. temukan jawaban atas perasaanmu, ke Bali, dan kejar Pranaja.”

***

Dan di sinilah aku, Bandara Ngurah Rai Bali yang sedang berbenah diri, renovasi di mana – mana, tetapi tidak menyurutkan semangat para traveler untuk menjelajah Bali. Whatever you do in Bali,just stay in Bali, banyak orang mengatakan demikian. Ini mungkin hal tergila bagiku, mengejar seseorang sampai jauh ke belahan waktu tengah Indonesia.

“Kamu ngga bisa apa lepas dari aku sehari aja?” Suara Nyanyu di belakang menyadarkan kedatanganku di sini tidak sendiri dan suaranya gusar sendiri, aku nekat membelikan dua tiket saat Nyanyu selesai memberikan petuahnya, karena aku tahu Nyanyu tidak akan tega padaku yang punya sifat introvert seperti ini.

Keluar dari bandara, kami langsung keluar bandara dan menghentikan taksi yang memakai Argo, jarak ke hotel tidak sampai 30 menit. Sampai di hotel kami akan keluar makan dan menyelesaikan misi yang dua hari ini tidak kunjung selesai, menyelesaikan surat dari kertas papirus konyol itu.

“Ngga usah pake surat – suratan deh,” sembur Nyanyu di dalam taksi, saat melihatku menunduk menatap layar ponsel, apalagi kalau bukan mengulang pencarian Google dengan kata kunci yang sama dengan beberapa hari lalu.

“Ah, dia tetap harus menerima sesuatu dari aku!” Balasku sengit, tidak mau kalah. Padahal sampai sekarang aku juga bingung, kenapa harus surat? Kenapa alih – alih mengirimkannya surat, malah tidak berusaha untuk memperbanyak pembicaraan dengan Pranaja. Ah, ini masalahnya ada di diriku yang terlalu pemalu, jangankan dengan Pranaja, dengan orang lain aja aku enggan memulai pembicaraan. Dan, datang ke Festival Songkran di Bali ini, selain karena Pranaja menjadi panitianya (Nyanyu benar – benar informan yang bisa diandalkan), ini salah satu cara Nyanyu agar aku mau lebih membuka diri.

Setelah check – in dan beristirahat sebentar, Nyanyu membuka flyer kecil yang dia bawa dari Jakarta, Songkran Festival di Bali dan Jakarta, dan ini kali pertama diadakan di Bali. Aku merebut flyer tersebut, dengan warna – warni cerah khas ukiran dari Thailand, undangan pagelaran Festival Songkran di salah satu hotel di kawasan BTDC, Bali. Tanggal pelaksanaanya bersamaan dengan di Jakarta, namun di Indonesia hanya dirayakan satu hari, sedangkan di Thailand bisa dirayakan dua hari, bahkan di Chiang Mai dirayakan seminggu penuh.

Aku mengambil satu brosur yang Nyanyu ambil dari hotel di Jakarta, lahirnya Festival Songkran. Songkran adalah perayaan tahun baru di Thailand yang dirayakan di periode tanggal yang sama. Perayaan Songkran dirayakan di rumah, biasanya memercikkan air ke tangan orang yang lebih tua sebagai pembersihan jiwa dalam menyambut tahun baru, setelah itu ke wat/ vihara, lalu sampai terjadi perang di seluruh penjuru negeri. Keseruan inilah yang membuat Festival ini akhirnya diadakan di Bali, setelah beberapa tahun sukses diadakan juga di Jakarta.

“Wow..” Aku terkesima setelah membaca detail sejarah Festival ini, lalu aku mencuri lirikan ke arah Nyanyu, yang tertangkap mata oleh dia, “kenapa lihat – lihat?”

“Kok kamu tahu – tahunya Pranaja terlibat di festival ini, sih?” Tanyaku, ke sekian lagi, penasaran.

“Pirate Bay, makanannya enak, konsepnya bikin kamu jatuh cinta pasti. Yuk, berangkat!!”

Grrr… Lagi – lagi Nyanyu tidak menjawab pertanyaanku.

***

Dan di sinilah kami The Pirates Bay di daerah The Bay yang tidak jauh dari tempat kami menginap, Rumah Pohon yang menentramkan hati. Bagaimana tidak? Konsep rumah pohon benar – benar literally rumah di atas pohon, karena sore itu sepi, maka kami dengan jemawa memilih Rumah Pohon seakan milik sendiri. Viewnya pantai, dan kalau aku beruntung, aku bisa melihat matahari terbenam yang indah. Tapi untuk saat ini, urusan perutku yang kuutamakan, Grilled Tuna sangat mengundang apetiteku.

Rumah Pohon

Sumber: The Bay

“Hei, bagaimana caranya memesan? Apa aku harus turun?” Aku melihat ke bawah dan tidak ada pelayan yang muncul, Nyanyu yang masih memilih menu menunjuk ke luar, sebuah kentungan.

“Ini?” Aku memukul benda tersebut, dan benar saja, pelayan langsung datang dan ramah menanyakan pesanan kami. Ternyata kalau mau memesan makanan di atas Rumah Pohon, cukup membunyikan kentungan.

cbk

Sumber: Google

 

image2

Sumber: http://bali-indonesia.com/

“Kamu pintar memilih tempat untuk memanjakan mata dan lidah, Nyu,” pujiku, tulus. Aku menikmati tempat ini, pemandangannya, makanannya. Di bawah Rumah Pohon terdapat konsep api unggun dan tempat yang tidak kalah serunya, andai bisa ke sini lagi dengan Pranaja..

“Nyanyu!!!” Bangganya dia sambil menepukkan tangannya ke dada, sombong.

 

Sore sampai malam di sana, kami sibuk menikmati semuanya yang ada di The Pirates Bay ini , lupa tujuan kedua setelah makan adalah membicarakan acara besok, lebih tepatnya isi surat yang tidak kunjung selesai. Sebelum aku mau membahas surat tersebut atau harus bagaimana aku besok (atau harus pakai baju apa), Nyanyu sudah terlanjur lompat ke ranjangnya dan tidak bergerak lagi, tertidur nyenyak.

Dan aku? Aku tidak bisa tidur sama sekali mengingat acara itu tinggal besok pagi.

***

ยินดีต้อนรั

Tulisan yang artinya adalah “Selamat Datang” menyambut kami berdua pagi itu. Suasana di hotel tersebut sangat ramai, turis asing dan lokal sudah bersiap – siap menggunakan pakaian yang tidak berat bahannya, siap untuk berbasah – basahan. Di bagian depan tersedia bazaar makanan khas Thailand, dari Thai Tea, Som Tam, Gai Yang.

Acara pagi itu dimulai dengan gerakan para penari Thailand memercikkan air wangi. Beberapa peserta sudah bersiap – siap, anak kecil melompat kegirangan dan raut mukanya tidak sabar untuk disiram air, bahkan ada seorang nenek dari Jepang yang paling terlihat semangat, sudah membeli pistol air buat ‘berperang’ nanti. Di mana Nyanyu? Dia menghilang setelah memborong makanan di bazaar depan. Mataku mengedarkan sekeliling, semua peserta ke arah yang sama, sekitar 100 m terdapat seekor gajah yang aku tahu ia didatangkan untuk apa, untuk menyemprot kami semua nanti. Aku memicingkan mata, mencari sosok Nyanyuk di keramaian, aku mulai merasakan gugup, tidak biasa di keramaian, aku harus menemukan Nyanyu, lalu aku akan..

Deg

Tatapanku terhenti di belakang panggung utama, sedari tadi aku menikmati tarian tapi tidak awas ada siapa di belakang. Pranaja, muncul dari balik panggung, sibuk dengan handy talkie, memerintahkan sesuatu. Matanya tajam mengawasi area acara. Pranaja Danuwerda, yang saat ini sudah cepak rambutnya, namun masih menyisakan pesona yang sama, alisnya yang tebal dan tatapannya yang tajam namun bisa berubah teduh di saat yang sama. Iya, matanya terlihat teduh saat dia melemparkan pandangan dan bersirobok dengan mataku, dia terkejut, aku tidak kalah terkejutnya. Pranaja melambaikan tangannya dari jauh, aku menundukkan kepalaku, gugup. Nyanyu, di mana sih kamu? Pintaku dalam hati, kehadirannya tiba – tiba ada di sampingku, menegakkan kepalaku agar berani menghadapi dirinya.

“Hei Stella, kamu di sini?” Entah sudah berapa lama aku tertunduk, tapi cukup untuk Pranaja menghampiriku duluan.

“Hei. Iya, aku sama Nyanyu ke sini.” Aku mengontrol semua reaksi di badanku yang mulai berulah, degup di dadaku, badanku yang menjadi rigid seperti ini.

Have fun ya, aku kerja dulu, seksi repot nih, seperti biasa.” Barisan gigi putih yang rapi dari tawa Pranaja membuatku tidak berdaya, dari yang malu untuk menatapnya, aku menjadi tidak mau melepaskan pandangannya dari mataku.

“Oh ya, semangat ya, Pran.”

Pranaja tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkanku, tapi belum lama dia melangkah, sosok ini membalikkan badannya, “Stel, abis acara ini, kamu jangan langsung pulang dulu ya, kita ngobrol – ngobrol.” Aku hanya bisa mengangguk, badanku lemas lagi melihat senyumnya, dan juga ajakannya. Nanyu masih saja belum menampakkan batang hidungnya.

***

Tidak lama waktu berselang, tiba – tiba sudah banyak orang menyiramkan air ke kepalaku, bukan hanya satu arah, tapi dari berbagai arah. Semua peserta berteriak riang dan menjadikanku obyek empuk untuk diserang, karena aku tidak membawa pistol air sama sekali. Lalu aku menemukan satu wadah menganggur dan aku jadikan senjata untuk membalas menyerang. Acara semakin seru karena sang gajah menyemburkan air dari belalainya, semakin membasahi para peserta. Aku merasa lepas di acara ini, tidak ada Stella yang tertutup dan pemalu, aku menikmati acara ini, aku merasa dekat dengan mereka semua. Pertama kalinya aku mengikuti acara yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang lain yang tidak aku kenal.

Kuyup sudah badanku, tidak ada satu helai rambutku yang masih kering, benar – benar basah. Saat aku melihat sekeliling, aku melihat para panitia masing kering! Mereka benar – benar tidak kebasahan, tidak ada satu peserta pun yang menyerang para panitia, mereka terlihat sibuk mengawasi jalannya acara, di pinggir area. Dan entah pikiran dari mana, aku tiba – tiba membawa wadah yang penuh air dan menyiram ke arah.. Pranaja!

BYURRR!!

Pranaja yang berada di pinggir area daritadi terkejut, tidak menyangka akan mendapat siraman dari peserta. Aku merasakan ada yang salah, karena panitia lain terlihat terkejut dan para peserta melihat ke arahku. Aku gigit jari, mulai merasa gugup.. aku menghancurkan acara ini!!

Aku menyesal kenapa tidak bertanya ke Nyanyu apakah boleh menyerang panitia.

Tapi tiba – tiba keadaan berubah, peserta lain mulai menyerang para panitia yang masih kering. Panitia lain seakan tidak keberatan akhirnya bisa basah juga, mereka mulai menyatu dengan para peserta, sibuk mencari wadah untuk menyiram. Dalam waktu sekejap saja, panitia dan peserta mulai bergabung di satu area. Aku menghelas napas lega, aku tidak salah.

“Kamu nakal ya, Stel,” seseorang memegang kepalaku lembut, lalu menjawil hidungku, Pranaja.

“Memang sebelumnya belum ada yang menyerang panitia?” Tanyaku, penasaran. Pranaja sudah kuyup juga, tapi masih tetap terlihat penuh pesona depan mataku. Pranaja menggeleng, “kamu si pengacau, Stel.” Ujar Pranaja, tanpa ada nada memojokkan, dan dia menyiramkan banyak air ke kepalaku, lalu berlari ke dalam area, menghilang. Aku kembali menikmati acara itu sampai lupa waktu dan tidak sadar bahwa ritual sudah berhenti dan saatnya berganti pakaian kering dan menikmati makanan khas Thailand.

Aku tetap belum menemukan Nyanyu, sepertinya dia satu – satunya peserta yang masih kering.

***

Di dalam lobi hotel..

“Curang banget lo, peserta kok kering sendiri!!” Pranaja melemparkam handuk basah ke seorang wanita yang sedang duduk santai di lobi hotel. Yang dilempar handuk hanya tersenyum iseng, “gue ngga suka basah – basahan, anaknya mana?”

“Lagi jajan di bazaar dan…” Pranaja tidak sanggup menahan senyumnya, “dia lagi berinteraksi sama peserta lain, Nyu.”

“Misi gue berhasil kalo gitu, yeay!” Nyanyu memekik senang.

“Itu misi gue, buat bawa dia ke sini,” Pranaja tidak mau kalah, karena membujuk Nyanyu agar Stella mau ke Bali adalah permintaan Pranaja dari awal.

“Nyu, gue seneng banget lihat dia bisa senyum lepas gitu, dan keisengannya tadi itu. Terima kasih, ya.”

“Belum ditembak sih belum diterima rasa terima kasih lo, Pran.” Nyanyu tersenyum menyeringai, dan terbahak – bahak saat melihat Pranaja berubah rona mukanya, memerah.

“Iya, nanti malam.. Semoga.” Pranaja lirih, menatap ke arah stan bazar, Stella yang sedang tertawa lepas berbincang dengan turis lain.

 

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s