Pemberhentian Terakhir

“Sebentar lagi tujuanku sampai,” ucapmu, tanpa melihat ke arahku, memalingkan kepalamu ke luar jendela.

Selalu. Selalu kamu yang meninggalkanku lebih dulu. Aku hanya bisa memendam dalam hati, berdebat denganmu akan meninggalkan airmata di wajahmu.

“Jadi kapan hari terakhirmu di kantor?” Tanyaku, mengalihkan resahku.

“Besok. Besok terakhir aku akan melewati kota ini.” Kamu merapikan anak rambutmu yang tertiup angin dari jendela yang tak tertutup, biasanya aku yang membelai rambutmu, merapikannya.

Aku tetap memperhatikanmu, mataku tidak lepas dari dirimu. Begitu tidak inginnya membalas tatapanku, namun kenapa membiarkanku untuk duduk di sini?

“Kita tidak akan bertemu lagi ya, sepi deh makan siangku,” tawaku singkat. Aku melihatmu tersenyum sekilas. Aku ingin lanjutkan candaku tapi akan berbeda efeknya.

“Kamu datang kan tapi?” Akhirnya kamu memalingkan wajahmu dari jendela dan menatapku tajam, matanya yang sudah memerah, berlinanglah sesuatu di pelupuk matanya yang tidak pernah tega aku lihat.

“Aku..”

Tujuanmu sampai sudah. Tanpa menunggu jawabanku, kamu melewatiku.

Hari terakhirmu kerja besok. Ini pertemuan terakhirku denganmu.

Tujuan terakhirmu sudah juga jelas. Menikah. Meninggalkanku.

Dan aku masih di tempat kerja yang sama, masih berharap bisa tetap di tujuan yang sama. Kamu.

 

 

 

14 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s