Kilasan Duka Cita di Hari Suka Cita

Suka Cita saat Lebaran merupakan harga  mati bagi diri gue secara pribadi, walau di sisi lain, ada sedikit ketakutan yang menghampiri saat umur semakin bertambah: apa gue masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan penuh rahmat tahun depan? Atau lengkapkah orang tercinta yang biasa sama – sama menikmati Lebaran saat tahun depan? Atau ada yang berkurang?

Semakin ke sini gue pun malah cukup banyak memikirkan itu, tetapi tidak pernah mengurangi keriaan gue saat mendengar takbir pertama dikumandangkan oleh anak – anak pengajian yang berebutan mic mesjid agar bisa melantunkan gema takbir.

Yu Siti, adalah sosok yang baru gue temui 2 tahun lalu, sepertinya gue pernah bertemu beliau 4 – 5 tahun lalu tapi belum banyak interaksi terhadap beliau. Yu Siti adalah asisten rumah tangga dari Jid*  di Jogjakarta, sepertinya sudah puluhan tahun Yu Siti mengabdi kepada keluarga dari adiknya almarhumah Mbah gue. Umurnya sudah renta, walau tidak setua Jid yang sudah berumur 96 tahun, tetapi Yu Siti sekitar 70an mungkin umurnya.

2013, gue banyak berinteraksi sama beliau, karena gue nginep di sana (daerah Plemburan) selama sekitar 3 hari, waktu itu Jid ngga ada di Plemburan jadi rumah kosong, gue deh yang nempatin, bareng Yu Siti dan satu lagi asisten yang masih bocah, palingan SMP.

Hari ketiga, gue kesepian di rumah itu, gimana ngga? Bener – bener gue sendirian di sana, di rumah yang sebesar itu, jadi selama hari pertama dan kedua gue banyak pulang malem (emang suka pulang malem sih XD ), dan Yu Siti selalu nunggu. Ngga perlu mengetuk pagar berkali – kali, Yu Siti kayak tidur di belakang pintu persis, karena selalu sigap buka pintu dan menyambut dengan senyuman, ngga ada judgement eyes terhadap gue yang suka ngelayap malem – malem. Pagi – pagi bangun, udah ada minuman dan makanan, lengkap. Gue banyak ngobrol sebelum pergi saat pagi, tapi belum sampai mengenal jauh Yu Siti (yang ternyata malah baru tahu sekarang beliau dari Wonosobo).

Gue pindah, dan Yu Siti terlihat sedih, gue jelasin ke beliau kenapa gue pindah ke tempat Tante gue yang ngga begitu jauh dari rumah Jid, agar ada yang nganterin gue ke bandara, jadi ngga perlu repot – repot, selain itu rumah di sana lagi ramai, ada banyak sepupu gue yang pastinya enak buat ngerumpi, ngga kayak di rumah itu, di beberapa kesempatan gue sangat benci kesepian. Hehe..

Gue pamit dan memberikan gudeg dan uang jajan buat Yu Siti dan mbaknya. Gue janji akan kembali ke sini, walau ngga janji kapan, karena kalau di Jogja gue pasti lebih banyak mau mainnya, dan menginap di tempat saudara bukan pilihan yang bebas.

2014, Juni.

Akhirnya gue berkesempatan ke Plemburan lagi, mengunjungi Jid dan Yu Siti pastinya. Karena faktor usia (dan ini harus dimaklumi), Yu Siti sempet lupa sama gue. Tapi baru ngeh saat ada beberapa percakapan, baru Yu Siti mengenali gue “ooo yang pernah nginep lama di sini ya dan kasih duit itu ya” *krrr. Lalu Yu Siti dengan tidak enaknya minta maaf berkali – kali dan menjelaskan alasannya, salah satu alasannya yang sangat dimaklumi adalah, karena pangling gue makin cantik *pasang sunglasses, pose B-)

Lalu Yu Siti mulai kembali cerocos lagi, senang ketemu gue dan mulai menambatkan doa – doa yang panjang, yang semuanya gue amini dan agar tertahan amin-nya di bagian jodoh (hehe..). Tetapi doa yang baik – baik akan memantul, maka gue mengaminkan dengan lantang di bagian rezeki, agar rezeki Yu Siti mengalir juga bagai banjir bandang.

Tapi pertemuan kita lebih singkat, karena gue tidak menginap di sana dan gue bersiap pulang pada malam harinya, tentunya sama seperti tahun lalu, Yu Siti bertanya akankah kembali lagi untuk menginap saat Lebaran nanti, gue bilang “Insya ALLAH, tapi bukan Lebaran.” Karena gue akan kembali lagi ke sini bulan September, tapi gue akan menyempatkan waktu lagi ke sini.

Juli, 2014. Lebaran.

Lalu Om dan Tante yang baru datang ke rumah. Setelah bersilaturahmi dan berhasil menghindar dari percakapan “Kapan *****?” , Tante mulai membuka topik dengan Yu Siti, waktu di Jogja masih ketemu ngga sama Yu Siti? Masih. Masih? Kata ‘masih’ ini agak mengganggu gue, namun ngga membuat gue lama di rasa penasaran karena Tante langsung mengabarkan kalau Yu Siti sudah meninggal belum lama ini. Nyesss…

Umur cuma yang di atas yang tahu, gue kaget… aja. Karena hanya jeda sebulan dan gue melihat kondisi Yu Siti sehat walafiat saat itu, masih sigap, masih segar. Saat gue tanya kenapa meninggalnya, kemungkinan besar karena liver, karena beberapa waktu lalu beliau merasakan perutnya sangat sakit, tetapi namanya orang tua, agak mbandel kalau disuruh minum obat, jadi banyakan minum jamu, dan minggu kedua dan ketiga akhirnya kondisi tidak dapat ditolong lagi.

Gue pun tidak bisa menepati janjinya untuk menemui beliau bulan Sembilan nanti, dan juga gue ngga sempet berkunjung ke rumahnya, ah ya.. saat menuliskan ini, gue langsung inget, Yu Siti pernah kasih tahu kalau beliau tinggal di Wonosobo.

Mungkin, saat ini janji yang bisa gue tepatin satu: berkunjung ke rumah abadi Yu Siti di Wonosobo nanti.

Yang tenang ya.. di sana..

 

 

 

 

 

 

Kantor, 31 Juli 2014

 

*Jid/Jidah = panggilan untuk kakek/nenek di keluarga gue yang  masih turunan Arab.. Arab maklum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s