Namanya Sapta

Sapta Satria Anggara. Setidaknya itu nama yang akhirnya aku dapatkan, setelah lama hanya berani melihatmu diam – diam, dari cermin di kelas angkat beban, dari curi pandang di lobi, atau dari tatapan sekilas saat berpapasan di koridor menuju lift.

Lelaki itu yang menarik perhatianku setidaknya lima bulan lalu. Workout outfitnya hampir selalu sama modelnya, atasan slim fit dengan tipe Climacool, biru, hitam, oranye sesekali, hijau muda. Ah aku sampai hapal. Kita selalu berada di kelas yang sama, entah RPM, body pump, sesekali body combat. Tetapi sampai di sini keberanianku, melihatmu dari jauh, atau menatap lama – lama, jika punggungmu yang menghadapku.

Itu selalu berkali – kali aku lakukan dan sialnya aku tidak pernah bosan. Dan berkenalan denganmu, bersalaman adalah secuil impian dari irisan impianku yang  besar yang tidak pernah ingin aku raih. Karena tidak ada celahnya.

****

Yah.. akhirnya aku tahu namamu. Namamu yang begitu indah, Sapta Satria Anggara. Aku selalu mengiramu bernama Boy awalnya, dari cara teman – temanmu memanggilmu. Aku tidak pernah mendengar nama depanmu atau bagian dari nama panjangmu disebutkan.

Bagaimana awalnya aku bisa tahu namamu?

Bukan karena aku menghampirimu seperti ksatria, bukan juga aku  menyogok pegawai sasana ini agar aku bisa mendapatkan akses dari finger printmu.

Tapi karena kebodohan yang kau buat sendiri lima hari lalu.

Aku di sana saat itu, kamu seperti biasa asik bermain alat – alat berat sambil bercanda dengan teman – temanmu. Dan entah kenapa kamu menyanggupi tantangan dari salah satu temanmu, aku tidak mendengar jelas, tetapi hanya kalimat “lima kali, lima kali!!” yang aku dengar saat itu, aku melihatmu mengangguk, kejantananmu terusik di sini, sehingga kamu mengangguk dengan terburu.

Lalu aku melihat seseorang menambahkan banyak beban di kanan kiri alat tersebut, entah sepuluh, dua puluh atau tiga puluh kilo beban berada di kanan kiri alat tersebut. Lalu kedua temanmu membantu mengangkatnya, tetapi tidak kuat, maka dua temanmu lainnya membantu. Kamu berdiri di tengah – tengah, seakan siap terhadap beban yang harus kamu tahan. Lalu aku paham apa arti “lima kali” dari temanmu tadi.

Kamu mengangkat beban squat yang lima kali lebih berat dari benan yang biasa kamu gunakan. Setelah alat tersebut sempurna berada di posisi yang tepat di bahumu, mereka berempat melepaskannya, memberikan kesempatan untuk kamu sendiri yang mengambil alih beban ini.

Mereka salah.

Kamu juga salah.

****

Di sinilah aku, Sapta Satria Anggara, yang masih belum beranjak dari tempatmu berada saat ini. Mengingat saat itu membuatku ngilu. Aku hanya bisa teriak, dan keempat temanmu tertahan selama beberapa puluh detik hingga akhirnya membantu mengangkat alat yang menekan keras kepalamu selama beberapa puluh detik tersebut.

Terlambat. Sangat terlambat.Kamu tidak terselamatkan.

Setidaknya aku berhasil menghampirimu duluan, walau tujuannya ke pemakaman,

 

arnold-squats

Sumber: di sini

 

 

Starbucks Teraskota

2 Agustus 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s