Puisi di Tiga Agustus Dua Ribu Empat Belas Dini Hari

Dan ini adalah rindu ke sekian yang hanya mampu diucapkan hanya melalui aksara

Dan aksara tersebut bergeming, enggan bergerak ke pusat rindunya.. Malu, katanya. Gengsi, tambahnya

Lalu si pusat yang dirindukan tidak merasakan apa – apa, maka acuh tak acuh, lalu menanam rindunya ke pusat yang ia tetapkan

Ini pesanku pada akhirnya, ini efeknya, jika rindu tidak segera kau ungkapkan, langsung. Iya, langsung

Kecuali kamu yakin bahwa doa adalah isyarat terkuat yang mampu tersampaikan melalui campur tangan malaikat dan Tuhan…

 

 

 

 

Anila Tavisha

Dini hari di tanggal 3 Agustus 2014

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s