Gaze

green eyes

Source: here

Gaze. Sudah, nama belakangnya aku tidak tahu. Lagian tidak penting kok, aku tidak perlu tahu.

Gaze seringkali bercerita tentang beratnya hidup di negara ini, “kamu harus tahu berapa persen pajak di sini? Lima puluh persen!!” Aku dibuat melongo selama beberapa detik, membayangkan gajiku yang dipotong pajak hanya belasan persen saja membuatku teriak – teriak protes, tapi cuma berani dalam hati saja. “Setidaknya kamu melihat hasilnya, negeri ini menyediakan kenyamanan dan keamanan untukmu,” kataku, menghibur. Ah sudah tentu dia harus senang di sini, negeri ini begitu nyaman, negeriku juga – alamnya, tapi pemerintahannya… sebagai golongan putih aku lebih memilih diam.

Seperti namanya, Gaze memiliki tatapan yang mampu membuatku seperti perempuan genit yang tidak dapat menjaga matanya. Dia memiliki bola mata berwarna hijau jernih dengan pirang pada alisnya yang rapi. Pertama kali aku sadar ada Gaze pun juga terlalu konyol, hanya karena aku menatap matanya lebih dari 5 detik tanpa sadar saat dia sedang di ruang tunggu kereta dan aku enggan berjalan jauh ke depan, kami duduk berhadapan. Kata sapa pertama “Halo,” darinya membuatku tersadar bahwa aku terlalu brutal. Itu juga adalah kata pertama yang tidak bisa aku lupakan, karena pertama kalinya mata hijau teduh tersebut menatap langsung ke mataku – yang berwarna cokelat hazel , karena lensa kontak tapi –  dan senyumnya membangunkan ribuan Rhopalocera yang hibernasi belasan tahun di perutku. “Matamu bagus…” Kalimat tolol pertama yang aku lontarkan saat itu, dan Gaze hanya tertawa, “oh Gaze mempunyai mata yang bagus ternyata. Terima kasih.” Dia beranjak dari bangkunya lalu keluar dari ruang tunggu begitu saja.

Gaze toh namanya.

***

Karena jumlah warga di sini terlalu sedikit – atau aku yang kadang sengaja  menyamakan waktu dengannya, aku sering bertemu dengan Gaze, tapi terpisahkan gerbong yang berjauhan. Aku selalu memilih gerbong paling depan, aku  harus berjalan sangat jauh dan Gaze memilih untuk tetap di posisinya setelah turun dari tangga stasiun. Aku tidak mau ketahuan juga kalau harus duduk di gerbong yang sama dengan dia, tapi aku jadi tidak tahu dia turun di stasiun apa.

Di Jumat sore yang masih sama sibuknya, kita sama – sama berlari, karena masinis sudah meniupkan peluitnya tanda kereta harus berangkat, dan kita berdua berhasil.. berhasil ditinggalkan kereta tersebut. Tersengal – sengal karena tidak berhasil mencapai kereta tersebut, Gaze mengajakku menghibur diri dengan kopi, “kita  bisa menunggu kereta berikutnya sambil minum kopi, ikut?”

“Tidak” tentu saja bukan tipikal jawabanku untuk lelaki seperti dia, tentu saja aku mengiyakan.

Percakapan berlangsung saat sesi menyesap kopi senja itu, delapan belas derajat di peralihan musim semi ke musim panas, tetapi angin masih berhembus ganas, membuatku masih bertahan dengan jaket windproof bulukku ini. “Jadi Orang Asing yang Menatap Mataku, namamu siapa?” Pertanyaan pertamanya. Malu dengan pertanyaannya. Oh ya, dia Espresso, aku seperti biasa, Latte Macchiatto. “Salva.” Jawabku, “jangan taro ‘i’ di tengahnya, jangan pernah,” tambahku. Aku sudah biasa dijadikan bahan tertawa karena namaku, Salva… Salva.. Saliva… Ludah. “Tentu saja tidak,” katanya, menggeleng sambil menyesap espressonya. Aduh mata itu….

Kami berada di kereta berikutnya, duduk di tingkat atas kelas 2. Kami duduk berhadapan, sudah tidak banyak penumpang saat itu, karena tipikal penduduk di sini adalah pulang selekasnya agar bisa sampai rumah cepat dan mempersiapkan makan malam sendiri, dan kami yang sial – karena tambahan pekerjaan membuat kami harus menunda jam reguler pulang kami dan inilah hasilnya. Tapi kalau ini hasilnya sih aku nggak akan menyesal.

“Kamu  berhenti di mana?” Tanya Gaze, kopi kedua sudah di genggamannya.

“Pemberhentian terakhir, dan kamu?”

“Pemberhentian kedua,” ujarnya, gaze yang tidak pernah absen dari wajahnya.

Yah delapan belas menit lagi dong.

“Sedang apa kamu di negeri ini?” Kakinya yang panjang diluruskan ke sampingku, sedangkan kakiku bahkan tidak sampai bangku yang dia duduki, sebuah perbedaan tinggi yang menjulang.

“Kerja.”

“Aha..”

“Dan hari ini aku pulang ke negaraku…” Aku tidak tahu kenapa aku harus menambahkan informasi maha tidak penting ini, tetapi aku ingin mengatakannya. Mengutarakan kesedihanku.

“Tapi barang bawaanmu tidak ada.” Wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun, seperti biasa, sial aku  terlalu kegeeran dia bakal sedih.

“Sudah aku simpan di loker bandara, kamu tahu, biar tidak susah gotong – gotong koper pas lagi jam sibuk.”

“Precies. Benar juga.”

“Kamu akan kembali lagi ke sini?” Pertanyaan tambahan, atas nama sikapnya yang friendly, aku lebih mudah mengontrol diri biar tidak terlalu senang.

“Bahkan aku yakin akan susah sekali melupakan negara ini.” Aku melemparkan senyum, sekadar memancing dia untuk memberikan senyumnya padamu.

“Tapi kamu tidak menjawab pertanyaanku,” senyumnya jahil. Iya benar aku tidak menjawab pertanyaanmu, saking sedihnya tidak bisa bertemu kamu lagi.

Hilversum. Gaze akan pergi, dan ini pertemuan terakhir kita. Ini bukan negara pertamaku berkerja sendiri di negeri lain, tapi ini kali pertamaku bertemu pria yang pandangannya mampu membuatku bertingkah aneh.

“Jadi..” Aku menatap ke luar, bangunan mesjid Hilversum yang menjadi penanda penumpang yang bersiap turun.

“Selamat tinggal,” aku memaksakan diri tersenyum saat tenggorokkanku sebenarnya tercekat.

Gaze bergeming. Mata hijaunya (yang bening itu) menatap ke luar jendela, lalu menggedikkan bahunya.

Well, never mind. I stay,” katanya tiba – tiba.

“Oh, maksudnya? Kamu berhenti di sini, kan?”

Jawabannya di luar ekspektasiku, “aku akan menemani kamu sampai bandara.”

Senja di Hilversum tidak pernah seindah Jumat ini.

* Stay a while, still gazing the way you move, from far
I’m taking it harder now I know, 
Shows coming to an end 
 
Stay a while, I’m taking my final gaze you see
Gonna look back this time
I will wander the woods again my dear – Gaze by Adhitia Sofyan

Amersfoort, 28 Mei 2015

11:53

2 Comments Add yours

  1. desywu says:

    Eh, dek Rayyyyy, romancisssss. Cobalah kau temukan Gaze kau di sana. Atauu….itu memang nyata? *wink

    1. Tulisan ini menyiratkan harapan biar bisa ketemu sosok Gaze itu kyaaa XD XD XD Semoga :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s