Sudut Mata yang Menangkap Pandangan

unduhan coffee gaze

Sumber gambar di sini

Saya jadi tahu kenapa Tuhan menciptakan bentuk mata seperti ini, agar kita tidak perlu menengok langsung saat sadar ada seseorang yang memperhatikan kita hanya dari ujung mata saja.

Malam ini – sebenarnya belum malam, karena masih jam setengah delapan, malamnya baru jam sebelas nanti itu juga masih kelihatan terang langitnya, aku masih asik ketak – ketik dengan laptop, sebenarnya bukan buat menulis cerita ini, ini adalah tambahan karena tiba – tiba ada yang bikin aku ingin menulis ini.

Ctrl + N langsung, aku langsung menuliskannya di sini, karena kalau ditunda pasti lekas lupa, efek dramanya jadi menghilang dan aku kurang suka kalau menulis saat dramanya berkurang.

Aku sedang mengerjakan laporan, tapi enggan melanjutkan di kantor, maka aku meneruskan di sini, Utrecht Centraal Station, yang cuma dicapai sekitar 18 menit saja dari Centraal Station Amersfoort, harga tikenya 2.60 euro sekali jalan, murah ya? Soalnya aku akalin pake tiket diskonan, 40% kan lumayan – kalau nggak kayak gitu jadinya 4.80 euro sekali jalan, kan mahal. Kalau mahal aku enggan ke sini, karena mahal iya tahu.

Nah,saya lagi ngerjain di franchise cafe yang terkenal itu, sebut saja namanya Starbak. Karena di Amersfoort bukanya cuma sampai jam 19, makanya aku senang ke sini, karena nggak tutup – tutup, makanya aku suka tidak tahu diri, berada di sini seringnya di atas 2 jam, 4 jam kalau lagi benar – benar nggak tahu diri.

Aku ngga tahu ada apa dengan sudut mataku tadi, tapi aku telah menghabiskan jam keduaku di sini, menghadap lalu – lalang orang yang terburu mengejar kereta sampai sepi lagi akhirnya, aku pun masih di sini. Kalau lagi menenggak kopi aku melihat ke depan, benar ke depan, kadang juga ke dasar gelasnya, pokoknya pilihannya ada dua, lihat ke depan atau lihat ke dasar gelasnya.

Tadi nih ya, nggak tahu kenapa, saat menenggak kopinya, aku melirik ke kanan, aku juga nggak tau kenapa malah ngga melirik ke kiri. Itu emang fungsi sudut mata, saat aku melirik ke kanan, tatapanku bertabrakan sama tatapan seorang lelaki yang juga sedang meneguk kopinya, tapi dia di luar – sebelah kanan, aku di dalam dan di tengah. Aku… aku salah tingkah, seriusan aku salah tingkah. Soalnya lelakinya tampan, rambutnya pendek dan pirang, dengan semu merah di kedua pipinya, memakai jas abu – abu dan celana khaki, duduk dan saling menatap saat saling menguk kopinya.

Aku malu!!

Aku langsung palingkan muka dan aku nggak tahu dia gimana, yang aku tahu dia tersenyum dan aku malah menatap ke tengah dengan pandangan kosong, syiok.  Sepertinya aku terlalu kampungan, nggak pernah dilihatin bule karena merasa mukanya nggak capable atau lirikable bagi bule – bule di sini.  Beberapa menit saat menulis ini – tepatnya saat mulai memijit Ctrl + N, aku menahan sikap atau menahan apapun biar nggak iseng lihat ke kanan lagi. Lalu sampai tulisan ini menuju tengah, lelaki itu beranjak dari duduknya, dan membawa gelasnya, melewati kaca depan ini lalu…ya dia nggak melihat lagi ke arahku, tapi tersenyum.

Aduh!! Aku salah tingkah… ternyata ganteng ya!! Haaa haaa haaa..

Ya udah, gitu aja. Aku masih mengagumi kekuatan ujung mata ini hebat sekali. Kalau aku bertemu dengannya nanti, pasti aku masih inget, soalnya semu merahnya itu sebenarnya jerawat tipis – pasti susah ilangnya dalam waktu dekat ini.

Aku Cuma menyesal, KENAPA TADI NGGAK BALES SENYUM AJA SIH?!?!?

Udah deh, nasib.

Jpeg
TKP gazing into eye

Salam Latte Macchiatto tanpa gula di Starbak Utrecht,

Anila Tavisha jam 19:47, liat – liatan sama cowoknya jam 19:40 kayaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s