Ramadhan Fasting during Eurotrip, hop on hop off 11 days 11 countries

Disclaimer: Ini bukan catatan seorang turis, yang senengnya foto – foto diri di tiap sudut bangunan dan lapangan lalu posting ke media sosial, bukan juga orang yang ikut wisata tur yang datengin ke tempat – tempat yang jadi must – visit – place – when – you – are – in. Ini kebanyakan catatan seorang sepesialis a.k.a ekspret yang ditempatkan di negeri kincir angin sesuai kebiasaan sehari – harinya kala di sini. Proost!!!!

Saya di… EROPAAAAAAA

Jpeg
Throwback Vianden – Luxembourg

Pertimbangan akan datang berkali – kali kalau seandainya kita ditantang untuk melakukan traveling saat puasa. Kuat nggak? Atau minimal bisa nggak mobile seharian ke mana – mana tanpa makan dan minum?

The more Northern you go, the longer fasting you will experience, and I knew the consequence.

Keputusan saya melakukan Solo Eurotrip bukan cuma final spontanenous decision, saya pun juga memikirkan beberapa barrier saat perjalanan itu akan dilakukan, salah satunya adalah waktu puasa yang semakin lama saat semakin ke Eropa bagian Utara saya ke tujuan.

Kalau di Indonesia, durasi puasa sekitar 14 jam, terlebih lagi Indonesia adalah negara tropis dengan dua musim setiap tahunnya, sehingga jadwal puasanya relatif stabil dari tahun ke tahun, tapi bagaimana rasanya berpuasa di negara empat musim, terlebih lagi negara yang sedang menuju summer saat itu?

Akhirnya satu minggu sebelum puasa, saya melakukan survey atau gladi resik selama 2 hari. Selama 2 hari saya mencoba berpuasa di Belanda, saat itu saya memang menetap selama 2,5 bulan di Amersfoort, 10 km dari kota Utrecht. Tidak seperti Indonesia yang dari siang ke malam berganti relatif cepat, negara empat musim mengalami pergantian malam yang cukup lambat. Saat itu malam baru gelap total di atas jam 22:00, tetapi Fajr sudah dimulai dari jam 3 kurang. Artinya paling tidak saya berbuka puasa jam 22 dan isya saat tengah malam dan jam 3 pagi saya harus mulai berpuasa. Saya mengalami 19 jam berpuasa di negeri dengan Muslim sebagai minoritas. Alhamdulillah, saat itu saya mampu melakukan puasa dengan lancar di saat sedang berkerja dan tetap kaki saya gatal untuk tidak jalan – jalan menyusuri Centrum Amersfoort sampai jam 22, istilahnya ngabuburit, LOL.

Screenshot_2015-06-07-23-14-47

Jadwal ibadah di Amersfoort

Puasa mulai pada tanggal 18 Juni 2015 dan akhirnya saya memulai perjalanan saya sebelum Ramadhan dimulai.

Saat sampai di Kopenhagen, cuaca saat itu mendung, puasa belum dimulai saat itu karena masih tanggal 18, tetapi bagaimana pun sebenarnya suasana puasa  tidak terlalu terasa terutama di negara Skandinavia yang sangat minim pemeluk Islamnya. Saya hanya semalam di Kopenhagen sebelum melanjutkan ke Stockholm, Swedia.

Swedia, negara yang hanya mempunyai sekitar 350.000 umat Islam (sumber: Islam Euro) dari 9.000.000 penduduknya. Setiap tanggal 21 Juni negara Skandinavia merayakan Midsummer, dan juga Midnight Sun – di mana di bagian utara negara tersebut hampir tidak pernah malam (contohnya: Tromso di Norwegie, Lapland Finlandia,Kiruna di Swedia dan daerah lain yang terletak di Utara). Lalu bagaimana jadwal puasa di Swedia? Berikut saya lampirkan di gambar.

Puasa yang dilakukan di Stockholm lebih dari 21 jam. Bila saya menuju Kiruna yang berada di Utara Swedia, maka malam hampir mustahil saya temukan, 24 jam bisa terang benderang tanpa malam.

Saat itu saya sedang berhalangan, sehingga untuk perjalanan ke Denmark, Swedia dan Finlandia hanya dapat saya tunjukkan jadwal shalatnya saja.

Screenshot_2015-06-19-17-00-26

Glek.. jam 2 kurang udah sahur di Stockholm

Screenshot_2015-06-20-19-04-26

Glek lagi.. maghribnya jam 23 kurang di Finlandia

Jpeg
Dense Fog in Vantaa, dan ini jam 2 pagi, masih belum terlalu gelap

Setelah dari Stockholm, saya bergerak ke Finlandia menggunakan pesawat terbang. Sebenarnya di Finlandia saya hanya transit sebelum sampai ke tujuan saya ke Praha.

Pada praktiknya, saat itu di Vaanta, saya hampir tidak menemukan gelap. Karena saat saya menatap luar bandara jam 12 sampai jam 2, terang masih benderang – yang membedakan hanyalah dense fog saat dini hari. Saya membayangkan betapa hebatnya orang – orang yang tetap berpuasa di negara Skandinavia ini, di mana berbuka jam 23 dan harus menunggu isya sampai setengah satu, padahal jam setengah tiga sudah subuh. Subhanallah..

Lalu saya bertolak ke Prague, di Prague saya sudah mulai berpuasa. Dan hampir tidak ada halangan karena juga karena saya sudah mulai agak ke Timur Eropa, jadwalnya mulai mirip seperti Belanda. Saat berpuasa di Belanda, saya menggabungkan buka dan sahur di satu waktu makan, karena jujur saja berat banget kalau terbangun di tengah malam saat perut masih penuh terisi makanan saat berbuka, jadi saya cenderung menggabungkan (dan beberapa teman yang tinggal di Eropa juga melakukan hal seperti itu) buka dan sahur.

Screenshot_2015-06-21-19-00-20

Jadwal Prague yang mulai “normal”

Jpeg
Astronomical Clock in Prague

Lalu dari Prague saya menuju Budapest. Di Budapest ini saya tidak merasakan puasanya – karena saya melakukan sahur di perjalanan dan saat berbuka saya sudah di Austria. Saya sekadar numpang lewat di Budapest sebenarnya. Perjalanan pun saya lanjutkan menuju Wina, Austria.

Screenshot_2015-06-23-02-39-50

Budapest mulai asik jadwal bukanya XD

Saat jam 19:30 saya menuju Wina, saya menyempatkan berbuka di sana sebelum bertolak ke Munich dan stay di Friesing.

Akhirnya di Munchen saya tinggal lebih lama. Jerman sudah berada di Selatan Eropa sehingga jadwal puasanya menjadi lebih masuk akal (tetap aja sih jam 21 baru Maghribnya, hehe). Cuacanya udah sangat summer saat itu, benar  – benar terik dengan humidity rendah. Phew… Tapi kalau ingat cuaca di Jakarta sampai 35 maka di sini hampir nggak ada apa – apanya karena hanya sekitar 27 derajat.

Screenshot_2015-06-24-09-04-43

Puasa di Friesing

Dari Munchen saya bertolak ke Ljublijana di Slovenia, tapi puasa saya lakukan selama perjalanan sehingga sahur saya baru lakukan di Ljublijana. Serunya, di kota ini mudah sekali menemukan makanan halal – sebenarnya hampir semua kota di Eropa yang saya kunjungi memang sangat mudah menemukan Doner Kebab, Masya ALLAH.. ini menunjukkan menyebarnya umat Muslim di negara – negara Eropa. Menuju Venezia yang merupakan tujuan final saya saat Eurotrip saat itu sebelum kembali ke Belanda selama beberapa hari. Suhu saat itu 31 derajat Celcius, sudah seperti Jakarta.

Screenshot_2015-06-25-23-05-43

Kena di sahur tapi ngga dapet bukanya di Slovenia

Overall, suhu di Skandinavia memang cenderung tidak panas dan lagi sering hujan, begitu juga saat mencapai Prague, belum lama mencapai 27 derajat lalu hujan tiba – tiba bahkan di Budapest juga mendung, cuacanya cukup nyaman untuk puasa. Teriknya matahari mulai dirasakan saat menuju bagian Selatan Eropa tapi jadwal puasa yang lebih pendek.

Lalu, bagaimana di Dubai?

Screenshot_2015-06-29-10-25-25

UEA

Berikut jadwal puasanya. Saat itu saya memutuskan untuk tidak berpuasa karena perjalanan dari Schipol ke Soekarno – Hatta memakan waktu 24 jam flight.

Ini adalah pengalaman yang tidak pernah saya lupakan, bisa berpuasa saat traveling,beberapa traveler enggan melakukan puasa saat sedang melakukan perjalanan – tapi percaya deh, ternyata seru!! (dan hemat LOL )

Salam Lonewalking,

Anila Tavisha

Update info mengenai puasa di Eropa:

Pada bulan Juni, Sheikh Hussein Muhammad Halawa, The European Council for Fatwa and Research (ECFR) mengeluarkan fatwa bagi yang berpuasa di negara Eropa.

Mengutip surat al Baqarah 185, ia mengatakan, ‘‘Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’

Di antara fatwa yang baru dirilis terkait umat Islam yang berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam, adalah agar mereka mengambil waktu di hari-hari yang siang dan malam sama panjang, sebagai ukuran menentukan waktu puasa dan shalat di bulan Ramadhan. Dengan kata lain, waktu-waktu ibadah puasa Ramadhan disesuaikan dengan bulan-bulan di mana durasi siang dan malam sama. (Sumber: ECFR)

Beberapa Muslim Eropa yang saya temui di Stockholm kala perjalanan saya saat ke Utara Eropa tidak melakukan puasa, namun akan menggantinya di lain hari karena waktu siang yang sangat panjang tersebut. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa kita bisa mengikuti jadwal puasa di Mekkah bila puasa yang dilakukan sangat panjang. Wallahualam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s