A Guardian, A Perv and a Friend in Antwerp Station

Jpeg
Suasana Antwerpen Central jam 5 pagi

Indah kan? Oke, walau blur.

Percayalah, itu diambil jam 5 pagi dan 4 jam ke belakang betul – betul menjadi suatu pelajaran buat saya, saat dipertemukan oleh sosok malaikat, iblis dan netral di satu malam yang sama.

Iya, ini adalah Stasiun Antwerp. Bangunannya terkenal sangat indah dengan arsitektur lawas dan toko – toko berlian berjejeran di depannya. Memang Antwerp terkenal berliannya, jadi jangan heran kalau pesan bijak ayah saya adalah “Jangan gatel ngeborong berlian di sana.” Sementara itu saya juga bingung harus jelaskan ke beliau bahwa berlian tidak sama dengan kacang tanah.

Kali pertama saya mengunjungi ke sini saya membutuhkan waktu lebih dari sejam untuk berdecak kagum, decak waktu itu sekitar triple decak. Kali kedua ke sini tetap berdecak kagum dan kali ketiga juga sama saja kesannya. Ternyata kata orang kalau terlalu sering bertemu jadi cepat bosen ngga begitu berlaku di sini.

Tapi hari itu tujuan saya bukan ke Antwerp. Sayangnya Antwerp hanya jadi transit saya. Tujuan saya saat itu adalah ke transit saya. Tujuan saya saat itu adalah ke Ghent. Keberangkatan saat itu  dari Amersfoort dan karena sedang perbaikan jalur kereta di Belanda, membuat saya harus mengubah banyak rute dan menggunakan bus dari Intercity. Sampai akhirnya saya sampai ke Ghent terlalu siang dan untungnya semua destinasi di Ghent adalah jalan-able alias ke mana mana bisa jalan kaki.

Banyak sekali yang harus dieksplor walau semuanya berdekatan, seperti Gravensteen Castle, nongkrong cantik sambil makan Escargot di Graslei and Korenlei, atau ke Vridajmarkt sambil cari – cari cokelat yum yum atau aksesoris yang bikin khilaf.

Jpeg
Escargot Ghent Tu Yuro (2 EUR) bikin owek owek, amisss!!

Karena saya kesorean (begitu kesorean sekitar jam 20 dan memang masih terang banget musim panas), saya baru sadar kalau jalur kereta sedang berubah sehingga saya harus banyak nyambung bus – kereta. Karena tadi pas jalan dari stasiun Gent-Sint-Peters ke semua destinasi tersebut terlihat begitu dekat, maka pas kembali ke stasiun tersebut saya jalan kaki dan saya nyasar. Nyasarnya pakai banget.. ngga tau ke mana – mana hingga akhirnya saya jalan kembali ke arah Centrum dan mencari bus terdekat dari seberang Bibliotheque.

Pas cek Reisplanner (apps dari Belanda yang digunakan untuk cek jadwal kereta) juga bikin ngedown.  Akhirnya benar, saya harus turun di stasiun kecil bernama Watteren ngga jauh dari Ghent lalu naik bus, untuk busnya sendiri adalah shuttle sehingga ya mau ngga mau harus nunggu kereta lain yang ke arah Antwerp. Akhirnya kami diturunkan di stasiun maha kecil lagi untuk bisa ke Stasiun Antwerp. Panik? Iya! Udah jam 21an lebih dan saya benar – benar ngga cek kereta terakhir jam berapa yang ke arah Roosendal atau Amsterdam sekalian.

Jpeg
Aku tersasar dan tak sanggup jalan lagi~~~

Akhirnya saya sampai jam 22an dan pas cek di jadwal, kereta ke Amsterdam sudah berangkat dari jam 21. Mau cari ke mana aja, ngga apa apa walau Roosendal yang jauh tapi yang penting udah sampai Belanda, tetap ngga ada. Saya akhirnya menenangkan diri dulu di Starbucks stasiun Antwerp yang sialnya..

..udah mau tutup…

…dan ada pengumuman bahwa stasiun akan tutup jam 24 dan buka lagi jam 5…

Iya, stasiun tutup.. terus saya harus ke mana?

Karena pintu utama stasiun sudah digembok, kita harus keluar dari fiets parkeren (parkir sepeda). Panik sudah mulai melanda, gimana ngga? Antwerp begitu menyenangkan dan keberadaan Yahudi di sana terasa menyenangkan karena mereka tetap aktif ke luar, tapi mereka punya tempat tinggal,saya nggak.

Akhirnya saya keluar lagi dan mencoba mencari hotel dan hostel sendiri di sekitaran Antwerp. Sialnya hari itu Sabtu, peak day. Terima kasih. Dari sekitar 5 hotel/hostel yang saya datangkan, semuanya fully booked kalau adapun harganya benar – benar ngga masuk akal untuk saya yang sebenarnya Cuma butuh ‘aman’ (2 juta per malam). Saat itu jam 24 dan saya mulai merasa semakin asing di kota yang begitu menyenangkan saat terang. Karena mulai desperate saya masuk lagi ke stasiun dan menemui 2 lelaki yang masih duduk – duduk santai di stasiun, sambil charge ponsel, belakang – belakangan, baju hijau dan merah. Akhirnya saya bismillah  dan harus pilih 2 dari 1 lelaki, yang satu bisa jadi penolong saya tapi yang satu lagi bisa jadi penjebak saya.

Warna hijau.

Akhirnya saya memilih untuk mendekati lelaki yang memakai baju warna hijau, ngga tau kenapa saya benar – benar putus asa dan bilang “hai, stasiun ini akan tutup dan kita akan diusir. Kamu mau di sini sampai kapan?” Good thing is.. dia bisa bahasa Inggris dan saat tau dia balas pakai bahasa Inggris akhirnya saya merepet ke mana – mana, cerita saya butuh teman buat nemenin saya sampai jam 5 subuh karena kereta pertama ke Rotterdam jam 5 pagi dan saya ngga dapat tempat nginap.

Namanya Amir Hassan, lelaki berkaus hijau itu. Sialnya, rumah dia ternyata dekat dengan stasiun dan dia memang mau pulang. Tidak sialnya, dia mau  nemenin saya sampai jam 5 pagi karena kasihan sama saya.

Jpeg
You are the chosen one, Green Shirt!! *bajunya bener ijo, lihat deh ke depan. Tahrik jangan cemburu~~~ XD XD XD 

Amir Hassan adalah sosok yang sangat baik, genuine,  dia benar – benar mau nemenin saya dan merasa bersalah karena tidak bisa membawanya inap ke rumah karena ayahnya yang Muslim pasti tidak akan mengizinkan wanita asing inap di rumahnya. Akhirnya kami menuju ke toko kebab tidak jauh dari stasiun yang 24 jam. Kami akhirnya banyak mengobrol, dia seorang IT yang memang bisa berbicara 6 bahasa,  tapi menceritakan itu semua tidak dengan pamer. Benar – benar teman yang asik untuk berbicara, membunuh waktu. Tapi saat itu saya begitu lelah akhirnya saya memutuskan untuk tidur selama beberapa menit – 30 menit. Amir menjaga bawaan saya, saya juga charging ponsel saya di kasir kebab.

Saat melek, masih jam 3. Jam 5 begitu lama dan akhirnya kami memutuskan untuk JJS (Jalan Jalan Subuh, bukan jalan jalan Sore), sekadar liat orang – orang hangover di jalan atau prostitute yang berada di pinggiran jalan. Kota Antwerp begitu berbeda di kala terang, seakan shifting terjadi di sini, saat terang adalah untuk wisata dan saat gelap adalah untuk sesuatu yang terlihat tabu.

Amir adalah orang yang menyenangkan, hingga akhirnya saya memberikan email saya dan berharap kita bisa korespondensi setelah kami bertemu.

Jam 4.45 pagi,

Stasiun sudah dibuka sehingga Amir mengantarkan saya ke stasiun tersebut. Saya tidak bisa mengucapkan apa – apa selain rasa terima kasih yang banyak dan berkali – kali. Saya ngga tau 5 jam akan jadi apa tanpa ada kehadiran Amir. Sebagai seseorang yang tinggal di sekitar sana, Amir tahu harus ke mana, Amir tahu harus duduk di mana, Amir tahu harus lewat mana. Saya melihat mata dia sudah sangat merah, sebenarnya sangat mengantuk, saya tahu itu tapi dia memaksakan untuk menemani saya.

 

Amir adalah sang Penjaga saat itu.

Jpeg
Ya.. kalau ditotal saya hampir 24 jam lah ngga mandi XD XD Semoga Amir tahan aromanya

 

Tapi baca lagi cerita saya setelah bertemu Amir…

Akhirnya saya sudah membeli tiket pertama ke Rotterdam, jam 5:45. Tapi saya sudah stand by membeli di mesin terdekat dan berharap sambil menunggu saya bisa tidur dulu di peron. Saat sedang duduk – duduk dekat gerbang Antwerp yang terkenal itu, ada pemuda yang entahlah lebih muda atau lebih tua tapi dia masih pemuda pokoknya – yang menyapa saya. Dia bilang bahwa ada bercak merah di belakang rok saya *f***k! Emang saya lagi halangan saat itu*. Akhirnya dia mengantarkan saya ke toilet terdekat untuk membantu saya membersihakn noda tsb *what?*

Dia mengantarkan saya ke toilet yang sepi dan lampunya masih mati. Saat saya cek bagian belakang saya pas di dalam toilet tersebut, ternyata bener ada noda merahnya alias tembus *cry*. Karena saya bingung akhirnya saya mulai membersihkan dan pemuda tersebut memegang gagang pintu dari luar, agar saya bisa mendapatkan cahaya dari luar.

Lalu tiba – tiba dia masuk ke dalam, untuk membantu saya membersihkan noda itu. Saya akhirnya bilang ngga usah dan dia keluar lagi.

Saya pun akhirnya putus asa karena noda tersebut ngga bisa hilang, tapi saya akali dengan ganti dressnya , jadi bagian yang tembus saya kedepanin, di situ saya meminta pemuda tersebut pegangin knop pintu dari luar tapi saya juga pegangin dari dalam – sebagai jaga jaga.

Setelah saya selesai tukar posisi, saya pun terus menerus dipepet sama lelaki tersebut. Kenalan terus dia bilang dia juga  mau ke arah Belanda. Saya ngga percaya.

Kenapa? Karena dia tiba – tiba mengajak saya untuk cari kamar bareng sambil nunggu kereta pertama datang.

Lalu kenapa? Kereta juga dateng 1 jam lagi kenapa harus ngamar?

“We can separate the bed,” hah? apa!?!?!

Saya lupa saya pakai jurus berkelit apa  tapi karena saya terus menolak, dia tiba – tiba bilang lagi butuh kopi banget dan mau ke luar cari kopi sama roti. Dia juga menawarkan saya tapi saya bilang tidak. Lalu pemuda tersebut bilang “tunggu di sini ya, kita kan satu kereta” lalu ngomong lagi “pokoknya tunggu di sini, saya akan kembali ya, plis.” Setelah bilang OK dengan yakin dan menghitung waktu dia sudah turun tangga.

Saya kabur.

Saya kabur menggunakan lift, karena takut pemuda tersebut bisa melihat saya menuruni tangga – dan untuk mencapai peron tersebut saya harus menuruni tangga 2x. Akhirnya saya ke peron bawah dan langsung ambil angle  di antara 2 beton yang besar banget, saya duduk di tengah – tengah tempat duduk di belakang beton tersebut.

Campur aduk perasaan saya saat itu, di satu sisi beruntung dengan bertemu sama Amir tapi di sisi lain saya kesal dipertemukan oleh pemuda perv itu. Saya langsung mikir lagi betapa beruntungnya saya yang langsung usir dia keluar toilet saat dia coba ambil kesempatan – ngga tau buat apa tapi menurut saya mengerikan. Bagaimana pun walau stasiun tersebut sudah buka dari jam 4 lebih, tetapi petugas di sana masih sangat sedikit.

Jpeg
Ngumpet senyempil – nyempilnya biar ngga ketawan lelaki Perv itu

Pemuda itu adalah Penjebak

Lalu siapakah pemuda berbaju merah yang tidak saya dekati saat itu?

Ternyata saya bertemu di kereta, sama – sama menuju Rotterdam. Dia juga sibuk tanya ke petugas tentang Rotterdam, sehingga saya membantunya menjawab. Di tangannya ada tanaman kecil, wajahnya seperti India tapi saya salah, ternyata dari Portugal. Namanya Benjamin, ketawanya ‘Jajajajja’ kalau di Whatsapp XD

Akhirnya kita jadi banyak ngobrol setelah sampai di Rotterdam, karena saya terlalu capek terjaga berjam jam di jam yang saya harusnya tidur.

Benjamin adalah mahasiswa baru, Teknik Industri di Spanyol dan lagi visit teman di Belanda. Orangnya menyenangkan dan seru, makanya saya percaya dia ngga akan macem – macem jadi setelah sama di Rotterdam dan saya harus melanjutkan pulang ke Amersfoort saya kasih nomor Whatsapp saya.

Benjamin juga sama kayak saya, terlambat mengejar kereta dan bermalam di Antwerp. Tapi berhubung dia lelaki ya.. saya ngga begitu khawatir, dia bisa di mana saja. Benjamin ke bar terdekat, pesan satu minum, dan tidur di sana sampai jam 4.

Benjamin hari itu adalah Teman.

Jpeg
Sebelah kanan, serong belakang agak ke kiri di bagian sampingnya kanan ke arah depan itu ada lelaki yang megang bunga kering bernama Benjamin XD 

Akhirnya saya sampai jam 11 siang. Capek banget dan saya tidur seharian sampai jam 20 malam. Ngga pernah nyangka bahwa dalam 1 malam yang singkat saya bisa menemui 3 jenis lelaki, yang menjadi Penolong dan Penjaga, lelaki yang mengambil kesempatan dan lelaki yang menyenangkan.

Solo traveling tidak pernah selalu bahagia, foto yang kamu lihat dan kamu Like bisa jadi ada cerita kurang menyenangkan di belakangnya. Tapi percaya deh, saya share cerita ini  bukan untuk menakuti, tapi untuk kamu – terutama wanita yang pergi ke mana – mana dan berpetualang sendiri, harus percaya sama insting.

Insting saya kuat di Amir, lelaki berbaju hijau yang ternyata memang tinggal di Antwerp, jadi dia tahu celah.

Insting saya ngga kuat di lelaki baju merah yang ternyata ada benarnya, bisa jadi saya malah lebih banyak menyusahkan karena kita sama – sama nyasar.

Insting saya kabur dari pemuda tersebut dan menggunakan lift daripada tangga, karena saya tahu pemuda itu adalah orang sekitar, dia bisa mudah melihat saya menuruni tangga dan melanjutkan apa yang mau dia lakukan terhadap saya. Hiiiii

 

All documentations are genuinely taken from my camera, cite these pictures without put the source surely as a violation. Cheers!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s