Gadis yang Tidak Bisa Bersendawa

boy-i-adore-you

Source: here

 

Nasi liwet, pecel pincuk dan tiga bungkus rempeyek kacang. Iya, 3 bungkus dan kami tetap tergoda untuk menambah  menjadi yang keempat. Maksudnya, 3 bungkus itu untuk masing – masing kita, artinya di depan meja kami sudah  terdapat 6 bungkus kosong rempeyek, tapi plastik yang masih ada rempeyeknya pun tidak kalah banyak.

Mau bagaimana lagi? Hanya di depan sosok inilah aku bisa berlaku sepuasnya, tanpa harus mencari jalan sakit untuk terlihat anggun – atau terlihat sempurna. Di depanku ini adalah seseorang yang bisa kupercayakan untuk menyimpan erat – erat selera makanku yang tidak karuan – walau badanku tetap segini aja.

“Eeeeeeee…..” Sendawa lagi, untuk belasan kalinya. Aku tetap tidak bisa.

“Jadi, kamu kemanakan angin – angin itu jika kamu tidak bisa bersendawa?” Ledek Duna sekali lagi. Aku sudah kebal ledekannya dari belasan tahun lalu saat kami masih sama – sama kecil, tapi tetap saja melihatnya sendawa begitu nyaman sepertinya rasanya.

“Eeeeee…” Bagi orang lain mungkin dianggap tidak sopan, tapi bagiku melihatnya sendawa aku  menjadi semakin penasaran bagaimana rasanya bersendawa itu. Maksudku, aku benar – benar belum pernah bisa.

Kamu juga tahu kan, apapun yang orang – yang kamu cintai – lakukan, semuanya terasa benar dan baik – baik saja.

***

Meja yang dilapisi taplak meja plastik kotak – kotak biru sudah dipenuhi dengan sisa – sisa makan kami – yang sebenarnya tidak bersisa. Entah mengapa makan di tempat sesederhana ini masih lebih nyaman dibandingkan dengan makan di kafe kafe dengan kekuatan wifi super cepat. Bagiku hanya berduaan dengan Duna, aku tidak perlu jaringan internet. Aku hanya perlu berhadap – hadapan dengan orang yang aku sukai, Duna juga tidak perlu tahu, tapi inilah kesederhanaan yang membuatku nyaman dengannya.

“Jadi mau aku ajari lagi caranya bersendawa?”

Aku menggeleng untuk kesekian kalinya, “tentu saja tidak. Akan gagal lagi seperti dulu – dulu.”

Duna menyerupus es teh manisnya, gelas ketiga, lalu tersenyum, “aku sih belum menyerah ngajarin kamu.”

Aduh, senyumnya,,, kakiku serasa tidak menapak dari lantai karena melihat senyumnya dan matany ke arahku.

“Mungkin aku harus mengalami keajaiban agar bisa seenak jidat sendawa sepertimu.”

Duna tergelak, “hanya sendawa saja kamu butuh keajaiban? Banyak hal penting di hidup ini yang perlu keajaiban, tapi bukan agar bisa sendawa.”

Iya, contohnya agar kamu sadar perasaanku ke kamu, Duna. Butuh  keajaiban, kan?

“Atau mungkin…” Lanjut Duna, “kamu bisa sendawa di depan orang yang kamu sangat cintai nantinya. Eeeee…., maaf lagi.”

Aku memukul lengannya, “doamu jelek. Masa’ aku bikin ilfil  orang yang aku cintai?”

“Loh, mungkin aja orang yang sangat kamu cintai juga mencintai kamu dan ngga masalah kamu bersendawa berkali kali di depannya?”

Iya sih, kayak kamu berkali kali sendawa di depanku.

***

Walau konyol percakapan ini aku tetap saja memikirkan apa yang Duna katakan. Mana tahu nanti aku benar – benar bisa sendawa di depan orang yang aku cintai.

Duna sudah berkali – kali menjelaskan enaknya bersendawa, membiarkan kelebihan angin di perutmu keluar melalui mulutmu.

Tiba – tiba aku merasakan efek aneh di perutku. Biasanya kalau bersama Duna, aku selalu merasakan kupu – kupu di dalam perutku, tapi aku belum pernah merasakan bahwa kupu – kupu ini harus dimuntahkan, Perutku merasa bergejolak hebat, aku merasakan banyaknya gas di dalam perutku. Aku tidak tahu apa yang harus lakukan, rasanya tidak nyaman, tapi otomatis aku membuka mulutku. Lalu kumpulan gas tersebut langsung berebut naik ke saluran tenggorokanku, menakan di pangkal tenggorokanku dan…

“Eeeeeeeee..”

“Eh, Tria?” Duna melotot ke arahku, benar terkejut. Aku tahu itu, karena sudah lebih dari lima belas tahun aku tidak bisa melakukannya saat dia mulai mengajarkanku.

“Eeeeee….”

“Kamu sendawa??!?”

***

 

 

 

Anila Tavisha

T3 Ultimate 22:00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s