Bisik Harapan Dua BAZ di Spånga Kyrka

midsummer-sweden

Source: Shutterstock

 

Bintang Alzbeta Zdenka saat itu masih berusia 7 tahun. Gadis kecil yang tinggal bahagia di pinggiran Vltava River di kota Chesky Krumlov yang cantik di Prague. Tidak ada gadis yang lebih bersyukur dari dirinya, menjadi bagian dari sungai terpanjang di negara kelahirannya, Praha. Bintang pernah menorehkan mimpinya di satu pohon depan rumahnya, mengarungi 443 km sungai Vltava dari kampung halamannya menyusuri České Budějovice sampai Mělník. Namun selain itu, mengunjungi negara asal ayahnya adalah mimpinya saat ia sudah besar nanti, Bintang belum pernah sekalipun mengunjungi Indonesia, ayahnya terakhir menyambangi Indonesia tahun 1991. Jadi, ada 3 impian yang ingin Bintang kejar: susur sungai Vltava, mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan orang Indonesia di negaranya.

***

Spånga Kyrka pada 19 Juni 1999 di event Midsummer Eve, Swedia

Betapa beruntungnya Bintang hari itu , kedua orangtuanya mendapatkan cuti panjang yang bersamaan dengan libur spring break sekolahnya selama 3 minggu. Seakan membaca pikiran Bintang, kedua orangtuanya memutuskan untuk pergi ke negara Skandinavia, Swedia tujuan utamanya. Midsummer akan berlangsung pada tanggal 21 Juni, namun perayaan paling meriah adalah saat Midsummer Eve. Di sinilah Bintang sekarang, daerah Spånga Kyrka yang meriah. Gadis – gadis mempersiapkan bunga tujuh jenis dan disimpan di bawah bantal, memimpikan lelaki impiannya akan datang segera. Bintang masih terlalu kecil untuk melakukan itu, Bintang memilih untuk ikut berkumpul bersama  orang dewasa menyusun bunga – bunga di dalam kolam dan berdansa dengan saudara, turis, siapapun.

‘Nikmatilah hari ini Bintang, kamu akan mendapatkan pangeran kecilmu di sini tanpa mengumpulkan tujuh jenis bunga,’ bisik sang Ibu lembut. Bintang tersenyum lebih lebar lagi, matanya memejam beberapa saat, memohon dan merasa senang, Bintang tidak pernah merasa bersyukur seperti ini. Ini seperti hari untuk Bintang.

Di antara luasnya taman dan salib besar yang sudah dihiasi bunga – bunga, mata Bintang menatap seorang anak laki – laki yang tidak begitu jauh di depannya. Bintang mengenali dari mana laki – laki itu berasal, Asia. Rambutnya hitam keriting dan tidak terlalu tinggi – tipikal Asia, tapi Bintang bisa melihat warna matanya hijau cerah dan wajahnya terlihat bosan. Bintang terkikik pelan.

‘Kenapa kamu tertawa, Bintang?’ Ayahnya mengenggam bir dengan gelas sangat besar di tangan kanannya, tangan kirinya membelai lembut rambut panjang Bintang.

‘Papa, lihat anak laki – laki itu? Wajahnya terlihat bosan sekali.’

‘Yah… karena, pertama, dia belum cukup umur untuk menikmati midsummer dengan  bir, lalu yang kedua, karena terlalu banyak bunga di acara ini.’

Je m’ennuie!!” Suara anak lelaki tadi terdengar sampai ke tempat Bintang dan ayahnya duduk, tapi Bintang tidak paham artinya tapi dari nadanya sepertinya anak lelaki itu bosan sampai harus berteriak seperti itu.

Lalu Bintang dan Ayahnya tertawa, tapi mata Bintang melempar arah ke tempat anak laki – laki itu berdiri, dan sudah menghilang. Padahal Bintang ingin menghampiri dan mengajak ngobrol, atau mengajak main – apapun, asal bisa membuat anak itu senang.

Tanpa tujuh jenis bunga di genggaman tangannya, Bintang memohon lagi, agar nanti dipertemukan oleh anak tersebut.

***

Beuvais Astra Zein berusia 9 tahun saat itu. Harinya tidak pernah membosankan seperti hari ini. Baru tiga hari menginap di Kiruna yang berada utara Swedia, Astra rindu pantai Mediterania di rumahnya, Bordeaux, Prancis.

Astra benci melihat terlalu banyak bunga – bunga bertebaran di Spånga Kyrka siang itu, tempat ini menjadi terlalu wangi, keluhnya. Orangtuanya begitu antusias mengikuti event ini, karena Midsummer hanya dirayakan di negara Skandinavia. Tidak ada cerita yang lebih panjang tentang Astra karena dia benar – benar merasa bosan dan ingin segera pulang ke Bordeaux, mengikuti pamannya ke pabrik produksi wine milik pribadi, atau berenang di La Plague Le Porge di pusat kota Bordeaux.

‘Ma, kenapa kita nggak ke Indonesia aja?’ tanya Astra.

‘Tiket dan hotel pada bulan ini cukup mahal Sayang, kita akan ke sana saat Natal nanti, di sana sering hujan tapi tidak sedingin di sini. Sabar ya, Sayang’

‘Aku belum pernah ke Indonesia..’

You will, Son. Kamu harus lihat tempat lahir Mama di sana. Benar – benar indah,” Ibunya mengelus rambut Astra lembut.

Kalimat lembut dari Ibunya belum bisa meredakan rasa bosannya, namun satu hal yang membuat rasa bosannya teralihkan adalah saat di seberang tempat Astra berdiri, ada anak perempuan yang sepertinya sepantar dengan Astra, tertawa ceria dengan ayahnya. Rambutnya hitam lurus sebahu, dan warna matanya sepertinya biru terang, seperti orang Indonesia, pikir Astra.

Aku baru tahu kalau malaikat ternyata ada miniaturnya, pikir Astra – asik memperhatikan anak perempuan tersebut dari jauh.

‘Ah, dia ternyata,’ Ibunya membuyarkan fokus Astra, yang sedang tersenyum dengan seringai jahil ke anak lelakinya. Astra malu bukan kepalang, wajahnya bersemu merah seperti tomat dan jadi kesal.

Je m’ennuie!!’ Teriak Astra, lari meninggalkan Ibunya. Dalam hati Astra sempat memohon agar dipertemukan lagi dengan malaikat ukuran mini tersebut.

***

Jakarta, 1 Agustus 2015

‘Okay, saya menyerah!!’ Bintang merajuk ke dua sahabatnya, kedua tangannya disilangkan ke dada, tanda tidak ingin mencobanya lagi walau disogok dengan apapun.

‘Ayolah, Baz. Kamu punya nama Indonesia tetapi mengucapkan dua kata saja kamu kepayahan,’ goda Ajeng dengan bahasa Inggris, karena Ajeng tidak bisa berbahasa Praha atau Slavic. Baz adalah nama panggilan Bintang sejak sekolah, hanya keluarganya yang memanggil namanya Bintang.

Ini sudah pertemuan Bintang yang kelima selama liburan musim panas kuliahnya, impian untuk mengunjungi negara kelahiran Ayahnya terkabulkan di umurnya sekarang dan memutuskan untuk berlibur di Indonesia selama 2 bulan. Menginap di apartemen Ajeng dan kadang – kadang di rumah Anita adalah pilihannya, selama itu juga Bintang mendapatkan les gratis privat bahasa Indonesia namun tetap saja gagal mempelajari sesingkat itu.

Let’s have some coffee first and continue,’ Bintang pergi dan menuju barista, mencoba mempraktikan bahasa Indonesianya.

‘Saya..pezen..dua…double espresso.. den.. es tea.zatu..’

Niatnya mempraktikan bahasa Indonesia terhalang oleh satu lelaki yang sepertinya juga mempunyai niat yang sama dengan Bintang. Rambutnya keriting acak – acakan, membuat Bintang berpikir untuk menyisir rambutnya sampai akhirnya lelaki tersebut menoleh ke arah Bintang, “sorry, I am just trying to practice my Bahasa and I think it is failed.Or can you help me to represent my order in Bahasa?”

Matanya hijau cerah dengan logat Prancis yang kental. Tidak butuh lama untuk Bintang menyadari siapa yang ada di depannya saat ini, pikirannya membawa jauh ke 16 tahun lalu, doanya tanpa tujuh bunga di bawah bantalnya, Bintang tidak ingin berbasa – basi lagi.

‘Kamu pernah datang ke Spånga Kyrka beberapa tahun lalu?’ menggunakan Bahasa Inggris adalah jembatan universal untuk memulai percakapan ini.

Oh no..you are that…miniatur angel..’ Astra tidak dapat berkata apa – apa, miniatur malaikat yang terlihat dari kejauhan 16 tahun lalu semudah ini ada di hadapannya, dan heran menjadi satu karena begitu mudahnya mengingat langsung sosok ini tanpa harus merecall memorinya.

Baz, keduanya mengenalkan diri dengan nama yang sama.

‘Karena nama saya Bintang Alzbeta Zdenka, teman sekolah saya dari SMP senang memanggil dengan inisial, BAZ’

‘Dan nama saya adalah Beuvais Astra Zein, teman sekolah saya dari TK memanggil saya dengan BAZ karena Astra terdengar asing di kuping orang Perancis sana’

Dan 1 Agustus itu, adalah harinya dua Baz, dua orang berkewarganegaraan asing keturunan Indonesia yang tengah berlibur ke Indonesia namun dengan harapan yang masih tertanam di masing – masing hatinya.

***

Jakarta, 3 September 2016

Paket yang dikirim dari pos internasional sampai di rumahku hari itu. Saat kubuka, ada berita indah dari negeri jauh sana. Kertasnya cantik, mereka membuatnya seperti undangan di Indonesia.

BAZ

&

BAZ

Aku ingat saat Baz – maksudku Bintang dengan semangat menceritakan pangeran kecilnya setiap saat, seakan – akan ada cerita baru mengenai pangerannya, padahal itu semua adalah recall kenangannya saat masih kecil dahulu.

Aku yakin, harapan yang Baz – ah maksudku Bintang –  bawa dari kecil dan diceritakan terus menerus dengan keyakinan yang kuat, membuat dia akhirnya sebahagia ini. Enam belas tahun menunggu, saat Bintang lupa menceritakan, aku juga tidak bosan mengingatkan, karena di titik itu aku melihat Bintang yang sangat kuat energinya.

Ah Bintang, aku akan datang ke pernikahanmu. Pasti.

 

 

 

 

 

Ajeng

Jakarta

 

 

Je m’ennuie = saya bosan, dalam bahasa Perancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s