Satu Piring Cireng Panas, Kopi Celebes dan si Lelaki Kaos Hitam

Rumah Kopok

Mbak dan mas ini sudah hapal betul kedatangan kita berempat saat weekend. Sumber foto: ohaiarti

 

Sejak awal  tahun 2016, banyak hal ‘pertama kalinya’ yang aku rasakan, aku alami, aku datangi. Pertama kalinya ke pasar modern, pertama kalinya lari pagi setiap Sabtu dan/atau Minggu  bersama – sama, pertama kalinya mikir harus makan apa buat siang atau malam, pertama kalinya bingung mau masak apa ya kalo males ya jajan pastinya –dan emang banyak jajannya-.

Ada satu tempat yang akhirnya menarik rutinitasku untuk selalu mampir ke sini setelah lari dan sarapan. Rumah Kopi namanya. Bukan fancy coffee shop yang ada program upsize  pakai CC atau 50% off with tumbler. Tanpa pendingin, area terbuka, tapi biji kopi pilihannya mantap – mantap (Gayo tetap megang! Bajawa kopinya light dan kalem).

Kalau kesiangan, selalu keduluan sama geng bapak – bapak yang abis berolahraga, paling ideal jam 10 pagi. Saat kecapean lari dan sarapan, duduk memesan kopi mau pakai krim atau kopi Celebes biasa, sembari menunggu yang lain membeli sayur buat kelincinya.

Ada dua lelaki berkaos hitam  disinyalisasi kakak – adik – yang selalu menarik perhatian – sekadar bikin segar mata – , mendatangi Rumah Kopi dengan minuman yang tidak pernah berubah, kopi hitam panas, atau cireng goreng panas yang masuk ke menu baru – baru ini, walau akhirnya sudah tidak ada lagi. Kami juga sedih makanan serenyah itu ngga ada, lain kali kita akan coba win – win solution dengan membawa cireng sendiri dan menggoreng di sana.

Sudah satu tahun ini, kebersamaan yang sederhana begitu menyenangkan di Rumah Kopi tersebut. Menuju ke Rumah Kopi tersebut adalah titik awal kami akan membuka percakapan serius, dari gosip sampai akhirnya  benar – benar hal yang terdengar begitu ‘kayak orang bener aje lu.’

Waktu begitu cepat berdetak saat berada di tempat tersebut, kadang merasa kesal kalau keduluan sama rombongan lain, tapi ngga tau kenapa selalu ada tempat untuk kami berempat mau apapun bentuk bangkunya saat itu.

Ada yang nyaman dengan kopi hitam panas Gayo, yang satu lagi hampir tidak pernah minum di situ karena tidak suka kopi, ada yang memesan kopi Celebes krim tanpa gula sama sekali,ada juga yang sukanya eksplorasi rasa kopi, jadi setiap minggu selalu ganti pesanannya. Kamu tebak aja siapa. Seseru apapun percakapannya, waktu akan habis sebelum azan dzuhur.

Karena, masih banyak agenda yang harus dilakukan selepas pagi berakhir.

Ada yang harus pulang untuk bantu ibunya berjualan, ada juga yang harus berkerja dengan deadlinenya, mulai pikir harus makan apa untuk siang dan malam sampai menjadi baby sitter  bagi para keponakannya.

Tapi kebiasaan ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat ini, setidaknya selepas lelah berlari dan bakmi ayam kesukaan kami, akan ada satu orang yang mulai bosan dan berkata, “pindah yuk, waktunya ngomongin isu dunia.”

 

 

 

Anila Tavisha

22 Maret 2017, 14:08 waktu Eropa,  tapi orangnya di Indonesia

2 Comments Add yours

  1. Thanks for the sanity on weekend morning :3

    1. ritual paling khusyuk adalah Mie Agus dan minum kopi sambil menatap ngkoh ngkoh kaos item…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s