Bersyukur Terhadap yang Sering Terlupakan

Karena negeri atas awan benar adanya

Jauh ke belakang dari beberapa tahun lalu, aku pernah berada di kebimbangan untuk hal yang sekunder. Saat itu aku memutuskan untuk kembali lagi ke kampus, tapi di sisi lain aku harus berkerja dan berolahraga atau bersosialisasi – komunitas dan sebagainya. Aku bertanya kepada teman yang sudah mengalami duluan saat itu, ia mungkin membacanya saat ini jadi harusnya dia ingat. “Hey, kalau aku sekolah lagi tapi tetap harus berkerja dan ngegym dan ngumpul sama teman – teman komunitas. Bisakah?”

Jawabannya seperti hakim yang ketuk palu,”tidak akan bisa.”

Entah kenapa aku merasa jawaban tersebut unacceptable, maksudku bagaimana harus melepas satu atau beberapa karena satu aktifitas yang akan bertambah untuk beberapa tahun ke depan?

Iya, jawaban temanku benar, aku yang salah.. saat itu.

Minggu –  minggu pertama begitu berat. Padahal kelas yang aku ambil setiap pekan, tetapi artinya Sabtu dan Minggu tidak akan ada hari leha – leha. Kelas dimulai dari pagi sampai petang, pernah sampai jam 20 malam. Akhirnya setiap weekday aku tidak bisa berolahraga karena sudah kepalang lelah, tidur di bus sudah langganan (walau sekarang juga sama saja sih suka tidur), sampai rumah tidur padahal masih jam 20. Acara komunitas, hajatan nikah, pelatihan menulis atau apapun itu sering terlewat karena akhir pekan diisi oleh belajar. Dari situ, aku mengaminkan ucapan temanku saat itu, aku terpaksa harus menyingkirkan beberapa hal yang aku suka selama beberapa waktu. Karena menjalani semuanya begitu susah.

Tapi, rasanya susah untuk tidak melakukan hal yang aku suka saat itu, berolahraga, menulis, bertemu orang – orang baru. Entah butuh waktu berapa lama, hingga akhirnya tubuhku bisa menyesuaikan sendiri dan beradaptasi terhadap load  aktifitas yang aku inginkan.

Perlahan – lahan aku tidak merasakan kelelahan yang amat sangat setelah pulang kerja…

Tahun 2013, aku kembali memulai mendaftarkan diri ke fitness centre terdekat dan aktif kembali berolahraga..

Lalu mulai bisa menyesuaikan jam tidurku hingga kembali ke jam bergadang (tapi yang ini cukup buruk, jadi jangan ditiru ya).

Aku begitu amazed  dengan mudahnya tubuh perlahan – lahan menyesuaikan diri terhadap aktifitas jiwanya. Memang butuh waktu yang tidak sebentar, tetapi aku berhasil “membujuk” fisik agar bisa berkerja sama dengan si “semangat” yang masih ingin bergerak ke mana – mana. Sejak itu dan sampai saat itu, aku merasakan energiku terlalu berlebihan untuk diam saja.

***

Tidak selamanya badan ini sanggup menyalurkan energiku yang berlebih. Belum lama ini, aku merasakan fatigue  yang amat sangat. Aku tidak memanjakan badan ini dengan multivitamin, tetapi tidur pun seakan tidak bisa menyembuhkan rasa pegal dan lelah yang terlalu berlebih.

Aku selalu mengesampingkan umur adalah penyebabnya.

Banyak teman – temanku yang menyalahkan umur – sehingga menjadi pengecualian mereka cepat lelah, memberikan banyak keringanan  untuk berleha – leha lebih lama atau tidak meluangkan waktunya melakukan hal yang mereka suka. Jangan pernah menyalahkan umur sebagai penyebab lekas lelahnuya fisikmu, Anak Muda! Apalagi kalau kamu masih di range usia produktif (inget berapa tahun? 15 – 64 tahun! Sumber: ini ).

Entah kenapa dengan menanam mindset seperti itu, aku tidak ingin menjadikan umur sebagai kambing hitam. Aku masih butuh empat puluh tahun untuk sampai ke umur 64, kenapa harus bilang sudah ‘umurnya’ atau ‘faktor U’?

Januari - Bali

Oke, kembali lagi ke ceritaku. Saat itu pekerjaanku sedang banyak – banyaknya, mempersiapkan pra – sidang dan sidang di saat yang bersamaan. Bergadang sudah jadi rutinitas, tetapi parahnya lagi aku sampai tidak bisa meraih hobiku saat itu, entah olahraga, membaca atau bahkan sekadar menulis singkat.

Kelelahanku sudah bukan di fisik saja, tetapi di pikiran.

Ini menurutku yang sangat mengkhawatirkan saat itu, fisikku jadi lelah karena begitu banyak pikiran yang berseliweran dan menyita waktu tidurku. Aku tidak bisa berolahraga karena banyak hal yang dikejar. Rasa lelahku sampai ke fisik, ke punggung, pundak, mata yang tidak bisa ditutup saat jamnya sudah tidur.

Buruk sekali.

Akhirnya sampai akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diri bergerak, berolahraga. Walau sebenarnya hal itu aneh, kalau lelah ya istirahat, kalau capek ya tidur. Tapi menurutku saat itu aku harus bergerak, karena rasa lelah di pundak, punggung dan sekitarnya menjadi – jadi dan aku benci itu. Aku tidak mau melirik si U dan mulai menyalahkan dia.

Hasilnya lebih dari yang aku perkirakan.

Aku akhirnya kembali berolahraga, kembali menulis, kembali membaca. Saat bergerak, semua lelah hilang – sama sekali tidak bersisa. Aku kembali bisa bergadang lagi – ini jangan ditiru sekali lagi – aku bisa bahagia lagi dan bisa semangat lagi.

Ini mungkin yang namanya stress release, salah satu caraku adalah kembali ke hal yang menyenangkan. Mencoba tidak banyak berpikir terlalu jauh – terlalu buruk karena bisa mempengaruhi pikiran dan ke badan.

Aku berterima kasih sangat terhadap diriku sendiri. Atas kerjasamanya, atas kepercayaannya kepadaku sehingga bisa “dibujuk” untuk sembuh sendiri – tanpa medis atau ke dokter. Aku berterima kasih terhadap diriku sendiri atas semangatnya untuk sembuh.

Satu lagi, aku berterima kasih karena SEHAT begitu indah rasanya. Hal yang terlihat biasa tetapi rawan dilupakan padahal sangat penting.

 

Terima kasih, diriku.

 

 

Semua dokumentasi adalah milik Anila Tavisha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s