Titik Geli

 

WhatsApp Image 2017-04-29 at 5.44.52 PM

Gambarnya Anila Tavisha

Nggak ngerti kenapa bisa – bisanya pikiran ini sampai ke aku yang badannya sedang rileks – rileksnya. Harusnya saat si Teteh masseur yang fokus terhadap badanku selama 100 menit itu mampu membuat otakku juga enggan berpikir ke mana – mana. Tapi semakin memejamkan mata ke ruangan yang remang – remang itu, semakin kencang pikiran absurd yang mendatangiku. Saat sudah bertemu terang dan terjaga total, pikiran absurd tadi mulai menghilang.

Jadi, lebih baik aku menuliskannya sekarang juga….

Ini semua tentang titik geli.

Iya, titik geli. Ini isu yang cukup besar saat aku kecil dahulu.

Waktu aku menginjak Sekolah Dasar, bercandaannya nggak jauh – jauh dari cie – ciean kalau satu bangku dengan teman lawan jenis, kata – kataan nama Bapak (dan bonus gede kalau tau nama Ibu) dan salah satunya kelitikan.

Sepertinya hal yang lumrah jika kelitikan dimulai dari pinggang. Karena semua orang, sepertinya setiap orang mempunyai titik geli di bagian itu. Kalau pinggang gagal, mereka akan mulai mencoba ke leher atau tengkuk, yang biasanya juga 100% sukses.

Sialnya saat itu, di semua titik yang pernah temanku coba, gagal semua. Aku tidak merasakan geli di pinggang, leher, tengkuk, kuping. Dari yang awalnya dikelitikin sampai akhirnya dipijat – pijat seluruh badan saking penasaran menemukan titik geli aku. Kalau semuanya sudah gagal, semuanya sama, mereka akan  menatapku aneh dengan ucapan yang sama, “ih ngga setia sama suaminya nanti.”

Entah karena terlalu termakan dengan statement teman – teman yang serentak itu, akhirnya aku sampai di titik pura – pura geli kalau seandainya dikelitikin teman saat itu. Cuma semuanya juga terbongkar dan gagal karena tingkat respon yang begitu lama.

Sepertinya hanya keluarga inti saja yang tahu titik geli saya. Sampai saat ini aku juga ngga tau hubungannya apa nggak punya titik geli dan ngga setia sama suami (atau apalah itu mitosnya).

Yang pasti aku cukup melegakan bagi para masseur atau tukang pijat yang memijat tubuhku, karena aku ngga akan terkikik kegelian dan begitu tenang saat mereka menjalankan tugas  mereka. Mungkin dalam hati mereka penasaran kok perempuan ini bisa ‘dipegang’ semuanya?

Atau mungkin tolong diberikan bukti nyata bahwa ada wanita yang sudah menikah nun jauh di sana, tanpa punya titik geli tetapi sudah lama masih setia dengan suaminya.

 

“We understand how dangerous a mask can be. We all become what we pretend to be.” – Patrick Rothfuss, The Name of the Wind 

 

Anila Tavisha

dari Zen Jalan Sunda sekarang di Barn’s Coffee

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s