Anila Mendaki: Ketika Lutut Menempel ke Hidung di Gunung Bongkok

coollogo_com-774566

Tingginya ‘hanya’ 975 mdpl. “Hanya”

Tapi kamu haram underestimate gunung ini, aku sudah memperingati dari awal.

Bertempat di Purwakarta tepatnya di Desa Cikandang, pesona gunung ini benar – benar di luar ekspektasi. Dari segi transportasi, semua reachable dan jarak relatif dekat walau harus bergonta – ganti transportasi sampai 4 kali.

Perjalananku dimulai dari.. kosan 😐 Iya, kosanku terletak di daerah Sadang, sehingga transportasi yang harus digunakan adalah 4x. Angkot 43 carry biru tapi yang ke arah Cikampek – Pasar Rebo (?), turun di Pasar Jumat terus nyambung naik angkot hijau ke Plered lalu naik angkot pink centil ke Terminal Citeko terus naik mobil kijang kotak sabun sampai parkiran Gunung Bongkok terus jalan sedikit ke Pos Registrasi. UPDATE per 14 Mei lalu, sebenarnya dari terminal Plered dekat Kelurahan ada mobil kijang kotak sabun yang stand by sampai jam 17 sore jadi tidak perlu nyambung lagi pakai angkutan pink centil – namun cobaan datang saat ojek bertebaran dan meyakinkan kelean – kelean bahwa ngga ada angkot yang langsung ke Bongkok, padahal ada.

Aku kurang paham kalau via Stasiun Purwakarta UPDATE per 14 Mei, dari stasiun Tanjung Priok ke arah Purwakarta tapi turun di Stasiun Plered aja lebih dekat, tapi menurutku sama saja sih, dari stasiun naik angkot apa aja ke arah kota baru naik angkot Hijau ke arah Plered, angkot Pink ke Terminal Citeko dan angkot kijang kotak sabun juga. Tapi temanku yang lalu carter angkot dari stasiun karena banyakan. Sedangkan aku? Sendirian.

Kenapa sendirian kayak jomblo ~baru putus~?

Lebih tepatnya karena saat itu aku tidak ada pilihan, tidak ada kawan di Purwakarta yang bisa diajak nanjak – tapi di sisi lain juga mau explore alam di Purwakarta. Jadi, akhirnya aku memutuskan untuk tetap jalan. Tapi, tidak dengan modal nekat, semua persiapan sudah dilakukan dalam kurun waktu 1 – 2 minggu sebelum perjalanan. Untuk persiapan perjalanan sendiri aku akan bahas di blog post  sebelah yaaa..

Aku sampai ke Pos Registrasi terlalu siang, jam 13. Hal ini dikarenakan terlalu asik ngobrol waktu pagi – pagi di Bandung sama teman baru sesama solo traveler di Chez Bon hostel Braga, akhirnya baru sampai Sadang jam 10an dan baru jalan jam 11. Dari referensi yang aku pelajari pendakian dan turun memakan waktu sekitar 3 – 4 jam, itu sudah sama lihat – lihat, berkontemplasi dengan alam di Pos Munclu atau berselfie ria di puncak. Jadi, estimasiku jam 17 sudah harus sampai bawah.

Bookmarked 5

Baru jalan dari setopan Bongkok ke pos Registrasi udah ngos – ngosan masa 😐

Tapi, masalahnya ada temen ngga ya selama nanjak nanti?

Bukan gimana, menurutku walau aku bisa mendaki sendiri, tapi keberadaan teman seperjalanan untuk ngobrol itu sangat berarti. Biasanya jadi bikin lupa waktu dan lupa betapa sulitnya perjalanan mendaki (dan menurun) selama menyusuri jalur di Gunung Bongkok.

Akhirnya setelah dari toilet, aku mendekati pemuda yang terlihat masih segar (jadi estimasiku dia baru mau naik, hehe). Ternyata benar, dia baru mau naik sama keempat temannya yang lain, lalu aku ikut bareng aja. Mereka rombongan dari Cikarang dengan tidak bawa apa – apa (sedangkan entahlah aku membawa keril 40 L sampe puncak aja gitu = = ). Aku sudah pasrah kalau mereka mau ninggalin ya silakan aja lah, mereka pakai sepatu keds, ngga bawa tas sama sekali pasti ngebut ke atasnya. Aku ditinggal aja ngga apa – apa asal tau ada teman searah.

Oh ya biaya simaksinya sudah bukan 5000 rupiah lagi tetapi sudah 12.000 IDR. Sudah tidak meninggalkan KTP tetapi harus menuliskan nomor KTPnya di sana.

Ngenes momen saat itu tetap aja saat harus menulis nama siapa saja yang mendaki di kertas yang cukup panjang, aku hanya menuliskan namaku di sana = =

Menuju Pos Munclu

Bookmarked 7

Medan track didominasi bambu – bambu ta’ kuku~~

Dari bawah ke Pos Munclu sebentar banget, Cuma sekitar 15 menit jalan santai. Aku sudah sibuk sama tripod untuk mulai shoot perjalananku. Dari Pos Munclu viewnya sudah bagus, tapi malah semakin penasaran kan di Pos Munclu aja udah bagus gimana kalau sampai puncak?

Bookmarked 1

Pos Munclu, sempetin foto di sini buat update Instagram

Di Pos Munclu aku hanya ambil napas lalu rombongan Cikarang mulai melanjutkan perjalanan. Dari pengamatan ~sotoy~ku hanya satu orang yang pendaki, pemuda yang aku ajak ngobrol di awal itu. Soalnya sisanya kurang welcome  (elu maunya diwelcomein pake apaan?Karpet merah?) dan pemuda ini yang menawarkan diri untuk membawa kerilku. Eh, nee nee nee, emang kita cewek apaan? Aku menolah dengan halus (tapi memaksa dengan keras kalau nanti kepepet XD ).

Selepas pos Munclu udah benar – benar ngga ada ampun. Kalau di Ciremai (via Apuy) webbingnya sekali – dua kali, di Bongkok webbingnya sambung menyambung menjadi satu. Udah ketemu webbing warna merah terus lanjut ke webbing warna kuning, berharap dapat bonus eh dapet webbing warna hijau. Jangan harap ada bonus di sini, karena kepepet kadang aku melipir ke pohon besar terus bersandar di sana padahal ngga rata juga tanahnya.

Bookmarked 9

Nggak ada ampun ih jalurnya, bendera putih mana bendera putih?

Akhirnya ada satu titik di mana, aku memang melaju cepat dan mendaki tepat, tetapi aku tidak bisa memberi kesempatan satu tangan lagi untuk memegang tripod untuk mengabadikan perjalanan ini . Sedihnya, aku terpaksa menyimpan tripodku untuk merekam medan di Gunung Bongkok ini. Karena, saat menggunakan webbing aku harus menggunakan kedua tanganku – ini bahkan beda saat di Ciremai aku masih sanggup menggunakan satu tangan saja dan satu tangan lagi menggenggam tripodku. Satu hal lagi, kalau biasa dengkul ketemu dada, ini bisa – bisanya dengkul ketemu hidung selama beberapa kali.

Perjalanan dari Pos Munclu ke Puncak sekitar 1,5 jam. Selain medannya yang menantang, jam segitu sebenarnya sudah “arus balik” pengunjung dari puncak ke bawah, sehingga kita lebih banyak menunggu yang dari atas ke bawah. Ada perasaan kesal di tengah perjalanan kok bawaannya pada dikit – dikit banget sih, kalian letakkan di mana bawaan kalian? *yang baru aku tahu jawabannya pas turun, damn!

Sesampainya di Puncak Batu Tumpuk, Akhirnya..

Bookmarked 6

Gunung Parang dadah – dadah dari jauh 

Your fully effort paid with the view you wish to see. Pertama, aku ngga expect sama sekali bahwa Waduk Jatiluhur SEBESAAAARRRR itu. Areanya benar – benar luas… dan indah. Aku menghabiskan waktu lama untuk duduk – duduk di pinggir bebatuan tanpa pembatas itu. Area puncaknya sangat sempit ternyata. Tadinya aku pikir aku bisa makan siang di atas sana, modal beli di warung si Teteh di bawah (belum makan siang aduh laper banget), ternyata areanya sempit banget ya udah aku urungkan niat untuk makan di puncak.

Bookmarked 8

Nggak bercanda indahnya.. view Waduk Jatiluhur

Akhirnya aku berani untuk mengeluarkan tripod dan merekam semuanya. Keril udah aku letakkan di mana tahu sembarang saja (kalau ada yang nyolong juga keliatan orang lahannya sempit banget) dan sibuk mengabadikan baik foto  maupun video.

Bookmarked 3

Saatnya berkontemplasi, hak prerogatif para jomblo~~ 

View dari puncak Batu Tumpuk benar – benar susah dideskripsikan dengan kata – kata. Sinar matahari senja yang menembus serat awan besar di atas Waduk Jatiluhur, lalu pantulan sinar matahari ke waduk yang membuat airnya mengilap, sosok Gunung Parang yang gagah di seberang sana dan beberapa jejeran gunung dan bukit nun jauh di sana. Aku merasa Tuhan benar – benar dalam keadaan bahagia saat sedang menciptakan lukisan ini.

Aku ingat komentar temanku terkait gunung Bongkok ini, dia menuliskan seperti ini:

Mt Bongkok and the other tops in the neighborhood makes Waduk Jatiluhur looks like it is really a caldera from an ancient much bigger volcano, do you think that is so, I have not found any information about it just looking at the map seeing similarities to the Taal volcano in Phillipines.

Dari asumsi singkatnya akhirnya aku penasaran untuk mencari tahu secara technical. Tapi belum ketemu, ada yang bisa jelaskan tentang Tiga Atap Purwakarta dan Waduk Jatiluhur ini?

Oke selanjutnya ini hal yang paling penting. Rombongan Cikarang sudah terlihat memisahkan diri dariku, artinya kontrak jalan kita mungkin sampai sini saja. Aku udah puas mengabadikan alamnya.. terus mengabadikan diri sendiri gimana caranya *isu jalan sendiri. Pertama, untuk meletakkan tripod sangat mustahil karena di atas adalah tumpukan batu yang membulat semua, jadi hampir dipastikan tidak rata – kecuali mau gambling tapi risikonya ponselku bisa menggelinding ke bawah dan tidak akan pernah bisa ditemukan lagi. Jadi, memang satu – satunya jalan adalah.. meminta tolong orang XD XD

Setelah scanning sana – sini mencoba mencari siapakah yang bisa mengabadikan dengan bagus dan angle  yang pas (alias tidak asal foto) akhirnya aku sksd dengan seorang pendaki. Bagai barter saat zaman Hindia – Belanda, karena aku minta fotoin maka dia juga minta fotoin dia dan juga.. bersama teman – temannya = = Oke, daripada tidak ada pilihan.

Bookmarked 2

“Permisi Mas, boleh minta tolong?”

Bookmarked 4

“Yang tadi udah kece Mas, tapi boleh minta potoin lagi? Hakhak”

Serunya , rombongan ini terlihat lebih ramai ~berisik~, lebih friendly, lebih welcome. Maka saat pulang aku memutuskan untuk bareng mereka.

Dari situ aku sadar (selalu ada pelajaran baru saat kamu berada di dalam proses perjalanan, bukan saat kamu sudah sampai ke tujuan), betapa aku membutuhkan teman saat perjalanan. Rute saat menuruni gunung dari puncak udah ngga main – main lagi, karena harus lebih hati –  hati saat medan menurun (titik kelemahanku memang di turunan dibandingkan  tanjakan). Selingan bercandaan saat turun, ledek – ledekan antar mereka dan tentunya ada obyek buat minta tolong fotoin kan XD X D

Aku  juga tahu bahwa aku tidak selamanya bisa sendiri, aku mungkin bisa naik  turun gunung sendiri, tapi proses perjalanan itu yang kadang sulit dilupakan. Kadang aku tetap butuh bantuan orang, saat terperosok, saat tergelincir bahkan saat terjatuh (ini beneran terjadi, aku jatoh pakai gedebug, sakitnya iya malunya juga iya XD XD ) – ada yang menolong.

So I am really grateful to have them as my partner to go down from Summit.

Pos Munclu Kembali ke Bawah

Di pos Munclu karena sudah perjalanan pulang, perjalanan lebih slow. Istirahat lebih banyak. Satu per satu mulai jalan menuju saung yang besar dan mereka… membawa keril mereka.

Awww snap!! Jadi ternyata di sini mereka menyimpan keril mereka. Lalu satu per satu mulai mengambil dan mengenakan daypack, keril berbagai macam ukuran. Ternyata mereka menitipkan tasnya di saung yang ada di Pos Munclu! Itu kenapa banyak yang terlihat naik tidak bawa apa – apa ya karena mereka sudah menitipkan di saung ini. Damnnnn… tau gitu kan aku.. ya sudahlah.

Di Pos Munclu kami bertemu dengan pendaki senior – senior benar yang mendaki bersama teman – temannya. Persahabatan yang longlast. How I really wish I will have partner in crime for hiking til I am getting old 😦

Total sekitar 4 jam untuk mendaki dan menuruni plus menikmati pemandangan di Gunung Bongkok ini.

Pesanku, jangan pernah underestimate gunung ini. Dari segi ketinggian memang terlampau rendah, bayangkan saja hanya 975 meter. Tapi medannya.. Ini cocok banget sama keadaanku saat itu kenapa mau ke Bongkok, melemaskan kaki pasca pendakian ke Ciremai tapi dengan waktu yang sempit. Kalau biasanya pelarianku ke Papandayan atau Gede, menurutku gunung ini bisa menjadi pilihan untuk short getaway melemaskan kaki.

Kapok?

Nggak sama sekali!!

 Rute Alternatif (sejauh yang aku tahu), dari Jakarta:

  1. Pasar Rebo – naik bus Primajasa yang ke arah Sadang Purwakarta – minta turun di Sadang Town Square (SDS) – naik angkot carry biru 43 ke arah Pasar Jumat – nyambung naik angkot hijau ke arah Plered – dari Plered naik angkot pink ke arah Pasar Citeko – dari Pasar Citeko ada mobil kijang kotak sabun sampai parkiran dekat gunung Bongkok.
  2. Stasiun Tanjung Priok – naik kereta ke arah Purwakarta – turun di stasiun Purwakarta – naik angkot apa aja ke arah kota – nyambung naik angkot hijau ke arah Plered – dari Plered naik angkot pink ke arah Pasar Citeko – dari Pasar Citeko ada mobil kijang kotak sabun sampai parkiran dekat gunung Bongkok. UPDATE per 14 Mei, gini aja yang asik:

Stasiun Tanjung Priok – naik kereta ke arah Purwakarta – turun di stasiun Plered –dari Plered ada mobil kijang kotak sabun sampai parkiran dekat gunung Bongkok sepuluh ribu aja sis.

  1. Dari Tangerang – bisa naik Arimbi atau Primajasa eksekutif 2 – 2 Kalideres – Leuwipanjang – turun di Leuwipanjang – naik lagi Primajasa Eko Leuwipanjang – Purwakarta minta turun di SDS – naik angkot carry biru 43 ke arah Pasar Jumat – nyambung naik angkot hijau ke arah Plered – dari Plered naik angkot pink ke arah Pasar Citeko – dari Pasar Citeko ada mobil kijang kotak sabun sampai parkiran dekat gunung Bongkok. Ngga ada ya yang dari Tangerang? Yodah, ini aku ngapalin ruteku sendiri kok ~drama~.

Kalau sudah sore mobil kijang kotak sabun yang ke Plered sudah ngga ada. Kalau rombongan bisa aja minta kontak sopirnya buat jemput lagi. Karena aku sendiri ya akhirnya aku naik ojek sampai kosan minta tolong si aa (istri teteh penjaga warung di Gunung Bongkok), harga nego. Hehe..

Eh jangan lupa diliat vlog di Youtube Farah Soraya di bawah ini, baru latihan lah jadi rada receh kualitasnya, tapi tetep harus dilihat, ini paksaan!

Salam kecup manja dari dataran rendah  Tangerang,

Anila Tavisha

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s