Anila Mendaki: Pendakian Gunung Lembu yang Uwuwuwu di 792 mdpl

coollogo_com-6681250

Iya, font judulnya kelabu ala – ala seperti pendakian 14 Mei 2017 lalu, abu – abu. Udah dibela – belain nanjak malam (padahal anti banget nanjak malam – mana tau ada 2 petilasan (makom) lagi ngga bercanda deh), tidur secepet – cepetnya (padahal emang ngantuk berat) – pas jam 2 kebangun mau gelar sleeping bag– hujan aja gitu ngga berhenti sampai jam 6. KZL.

Setelah stress dan penuh tekanan mendaki gunung Parang (bukan Via Ferrata, tapi jalur pendakian yang puncaknya di Tower 2) – ngerasa cemen banget dikalahin sama 3 bocah yang lincah – lincah ngga ada remnya. Akhirnya aku memutuskan untuk slow hike di Gunung Lembu. Kenapa Parang – Lembu dulu bukan Lembu – Parang? Karena enakan bersakit – sakit dahulu baru bersenang – senang kemudian, engap – engapan dulu baru senang – senang kemudian.

Seperti biasa aku mencari referensi dulu karena belum pernah ke sana sama sekali, walau sekomplek sama gunung Bongkok – tapi karena waktu pendakian ke sana terlalu mepet dan ngga bisa ngecamp, akhirnya baru 13 – 14 Mei sempet ngecamp dan susur dua gunung sekaligus. Jadi, tiga atap Purwakarta checked. Yeay!!

Turun dari Parang persis sebelum maghrib, akhirnya harus menunggu maghrib dulu sebelum ke Lembu. Sampai di pos registrasi sekitar jam 18:30 – dan.. mandi dulu, uwahahaha.. keringetan cin abis dari Parang alaihim rutenya mending mandi kan. Pendaki sudah banyak yang datang dan sudah duluan 😐 Sempet khwatir aja ini mereka pada ngecamp di mana ya? Soalnya di puncak katanya terbatas daya tampungnya, jadi palingan harus di Pos 1 atau Camping Groundnya. Ya tapi masa’ baru pos 1 udah camping? 😦

Gerbang Gunung Lembu

15.000 IDR untuk Pendakian Gunung Lembu

Pembayaran SIMAKSI 15.000 IDR per orang dengan briefing singkat dari petugas di Gunung Lembu. Jangan entengin, dengerin! Walau dari 3 gunung lain di Purwakarta – Lembu merupakan jalur dengan trek yang paling mudah, tapi yang namanya faktor X bisa aja bikin kamu nyasar atau amit – amit jatuh ke jurang. I never bored to say this to you, never underestimate mountain by its height.

Okeh, jadi begini kira – kira rute di Gunung Lembu.

Map Gunung Lembu

Ngintip rute si Bapak petugasnya, di Pos Registrasinya juga ada lebih jelas

Ada 3 pos di Gunung Lembu: Pos 1, Pos 2 dan Pos 3 (ngana piki?).

Total pendakianku (pendakian malam) saat itu sekitar 2 jam sampai puncak dan tenda didirikan di sana. Kenapa harus di deket puncak? Soalnya tanggung ternyata. Pos 1 mempunyai lahan yang sangat luas – karena ada di dekat Saung Ceria Pasirompang dan di Lapang Kapal yang luas juga dengan view kota yang indah banget. Oh ya, liat gambar rute tadi – jadi gini.. kemarin dibilangin sama Bapaknya, kalau ada pertigaan menuju pos 1, ambil jalur kanan jangan lurus. Lebih tepatnya disarankan sih. Alasannya kenapa? Jalur kanan lebih landai dan nyaman (ngga landai juga sih tapi okelah). Ngerasa ragu? Coba aja, heuheu.. Aku udah nyobain pas jalur turun dan emang mantep kalau naik pakai jalur lurus itu. Oke, perjalanan kita teruskan ke Pos 2.

Pos 2?

Ngga tau di mana.

Ini seriusan.

Kalau kata si Bapak sebenarnya ada di dekat Petilasan pertama (Petilasan Mbah Jonggrang Kalapitung), tetapi memang papan petunjuknya ngga ada saat itu, Tiba –tiba udah ada papan yang terpotong tulisannya “PUNGGUNGAN LEM…..” – mungkin lanjutannya Lembut, Lembiru atau apalah.

But you need to stay here…

Emang sih agak horor karena dekat petilasan. Tapi tepat naik setelah papan petunjuk punggungan tersebut, benar ada satu spot yang Subhanallah indah banget buat liat keramba – keramba yang nyala di Waduk Jatiluhur. Indah banget sampai berkontemplasi di sana dan tiba – tiba, “gue kangen tim Papandayan 2014 dulu. Abis ini gue akan langsung hubungi junior gue.” *iya bener, saat di bawah langsung hubungi salah satu juniorku di pendakian lalu. Dilan, aku rinduu.. à ini dari novel Dilan, bukan nama juniornya Dilan.

Sampai lupa mengabadikan, tapi beneran deh, kalau kamu melakukan pendakian malam – ini indahnya pemandangan saat malam. Tempatnya tidak menghalangi pendaki lain, kamu tinggal naik sedikit terus bisa duduk dengan view magis itu. Aaaakk mau lagi ke sana.

Oke lanjut,

Setelah Punggungan Lemb.. itu, treknya  lebih landai dan santai. Pokoknya ngga berasa tiba – tiba udah POS 3 dan puncak.  Puncak pertama bisa menampung sekitar berapa yah.. 10 tenda mungkin bisa. Ada lagi dekat sama puncak Batu II tapi selalu penuh (dan saat itu sudah penuh), jadi akhirnya aku memutuskan inap di Puncak Batu I dan tidak sabar menunggu sunrise (maklum cin 4 gunung di 2017 ini ngga pernah ketemu sama matahari terbit hikhik).

Siap – siap tidur dan sok – sokan ngga pake sleeping bag (ngga dingin njir), tapi tiba – tiba jam 3 menggigil parah wkwkwk. Karena out of the blue hujan…

…. sampai pagi…

….sampai jam 6 pagi..

Ngerjain.

Bye sunrise.. so loooong…

View dari Puncak Batu 1.jpeg

Puncak Batu 1 yang tidak mendukung cuacanya

Karena lagi – lagi ngga ketemu matahari terbit, jadi makin mager keluar tenda (ceritanya ngambeg – eh ngga boleh ngambeg sama alam). Jam 7 akhirnya ke puncak Batu I yang cuma beberapa langkah dari tenda (kalah sama pacar 5 langkah – mang situ punya pacar?). Viewnya? Bagus.. tapi mendung 😦 Jadi kurang genic buat diabadikan – silakan cek Vlog di bawah ini dan subscribe nggak mau tau!

Tapi bisa berjam – jam di sana karena ada pendaki yang terlalu synced ­hingga saling transfer kegilaan masing – masing 😐 Cek vlog aja cukup bisa merepresentasikan tingkat kewarasan mereka.

Mager.

Mager all day long.

Bayangkan saja, tenda – tenda sudah terlipat dan hengkang dan aku sampai jam 16 masih ada dengan tenda terbuka. Lagi, efek ngobrol dan bercanda, sampai mau batalin niat ke Puncak Batu II karena dirasa cukup, tapi akhirnya ke Puncak II juga tetapi ngga turun ke batu datarnya.

Puncak Batu 2

Puncak Batu II

Btw, Puncak Batu II ini juga bagus viewnya, karena sudah siang – sore, jadi pemandangannya lebih bagus dan lebih genik. Penghuni asli gunung Lembu yaitu monyet – monyet lucu juga seliweran di mana – mana, mereka masih takut sama manusia tapi suka banget sneaking kalau ada makanan nganggur. Makanya, tutup tuh tenda kalau ngga mau kecolongan makanan.

Food from Lembu

Masakan di gunung emang genic banget kalau di atas gunung

Kembali ke bawah, mandi – mandi lucu, terus ngariung di rumah Kang Suher (pengelola Parang ViaFerrata) sampai jam 20 malam.

Ah alam memang begitu manisnya, bikin lupa waktu saja *gebuk – gebuk manja*.

IMG_20170514_153201

35 meter menuju Puncak Batu II

So it’s wrapped! Pendakian uwuwuwuwu di Lembu. Ada catatan yang sudah ditulis juga di vlog (follow Farah Soraya di Youtube nggak mau tahu) yang harus kamu perhatikan saat pendakian ini.

  1. Di mana pun, gunung mana pun, jaga mulutmu. Mulut jangan sompral, atau ngomong macem –macem. Di gunung Lembu ini ada 2 Petilasan (Makom) untuk ziarah, jadi tempat ini cukup disakralkan.
  2. Plisss bawa sampahmu!! Sumpah kesel banget liat banyak yang ninggalin sampahnya di atas sana, padahal papan perintah untuk membawa sampahmu kembali ke bawah di mana – mana. Gunung ini termasuk sudah terawat dengan banyaknya papan petunjuk dan peringatan yang mengingatkan. Bukan gimana, di sana kamu mudah loh bertemu monyet – monyet penghuni asli Gunung Lembu – ngga kasihan apa mereka mengais – ngais makanan dari sampah kamu?
  3. Boleh lah bawa kertas ala – ala “Hai Deva, ada salam dari Gunung Lembu” ya tapi abis itu disimpen dulu di kantong terus dibuang ke tempatnya. Masa’ ditinggal gitu aja di gunung, waras ngga sih situ?

IMG_20170514_090414

Tenang, ini bukan pelakunya, ini model aja yang disewa spaghetti gratis. Haha

Rute ke Gunung Lembu, bisa baca sih sebenarnya yang di Bongkok, he.. *males banget kopi pas doang ye*

Screenshot_2017-05-27-23-35-13-374_com.nike.plusgps

Patokan rute gunung Lembu menggunakan Nike Run Club, padahal nggak lari. Hikhik. Pokoknya pas ada belokan ke kanan itu, artinya nanti ketemu 2 jalur, kanan sama lurus. Ambil saja yang kanan yang lebih landai walaupun lebih jauh. Okeh?

Merah tanda menanjak banget, oren yaa sedang sedang deh, kuning datar uwuwuw gitu.

Tonton Perjalanan Anila Tavisha di Youtube, ncussss….

Oke sekian tulisan dari Anila Tavisha

Sampai bertemu di ketinggian selanjutnya!

Anila Tavisha di Dataran Rendah

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s