Camping di Bukit Moko: Balada Kaki Kepelitek dan Kemalaman di Patahan Lembang part 2

Di mana episode sebelumnya di sini

IMG_20170525_065120-01-01

 

Aku males banget masak beras agar menjadi nasi. Karena selain membutuhkan skill mumpuni (kalau ngga mau jadi kerak beras krispi), butuh air yang banyak. Makanya di beberapa pendakian tahun ini aku hampir ngga makan nasi pas di atas dan substitusi ke pasta gigi. Pas banget Mawar juga anaknya lagi males makan nasi,  jadinya aku hanya membeli pasta dan bumbunya, Mawar dengan mie rebusnya, rendang instan sama keju yang kutemukan di tasku (baru buat masak satu minggu lalu kok hehe…).  Teh Vanilla aroma rose menemani late lunch kita. Ah enak banget emang masak di ketinggian.. walau lauknya sederhana…..

IMG_20170525_154717

Setelah makan selesai dan aku mencuci nesting  di toilet umum di bagian depan pintu masuk, ternyata pengunjung semakin banyak. Mereka mulai bersiap menunggu matahari terbenam – yang hammockan juga lebih banyak lagi, yang pacaran apalagi.. cih. Tetapi tinggal tenda kita yang berdiri.

IMG_20170525_154701

Ada pengunjung juga yang sengaja datang ke sana untuk leyeh – leyeh sambil ngobrol juga sama kita. Si Bapak emang sengaja datang hanya untuk hammockan selama beberapa jam, terus pulang. Emang beruntunglah yang tinggal di Bandung, pilihan untuk mencari stress reliever through nature banyak banget.

IMG_20170525_122346-01

SUNSET YANG GAGAL

Matahari terbenam akhirnya tidak dapat kami nikmati karena  cuaca berawan.. Matahari terbit gagal lalu matahari terbenam juga, huhu..

PATAHAN LEMBANG

Aku teringat perbincanganku dengan sopir taksi daring betapa rapuhnya Bandung. Bagaimana efek domino yang akan dihasilkan saat Bandung terkena gempa yang dapat berimbas pada lempengan di dalam tanah bergeser. Salah satunya Patahan Lembang yang dari segi jarak sangat dekat dengan pusat kota, yaitu 15 km. Patahan Lembang – seperti Patahan Opak di Yogyakarta juga, masih merupakan patahan aktif yang menyimpan potensi bencana yang harus diwaspadai jika tidak ada tindakan pencegahan dari awal.

Patahan Lembang sendiri membentang sampai jarak 22 km yang melingkupi daerah Jawa Barat – dari Timur ke Barat. (Sumber: Geologinesia)

Tempat ini menimbulkan penasaran yang berlebih buat diriku pribadi. Karena aku merasa kota Bandung yang indah ini menyimpan potensi bencana yang harus diwaspadai.

Jarak menuju Patahan Lembang adalah 1700 meter dari pos depan. Jarak yang sangat dekat untuk pelari imut macam aku dan Mawar. Tapi dasar emang Mawar yang lagi mager maksimal – padahal lomba semi maraton udah dijajal – , kita ujung –ujungnya jalan cantik bukannya lari. Padahal tracknya seru banget buat lari manjah..

Cuma mohon maaf kalau endingnya kurang seru. Karena kami gagal menggapai Patahan Lembang ini. Pertama, karena kita berangkat sesudah matahari terbenam, jadi sudah terlalu malam. Kedua, di tengah jalan kami ngga mau ambil risiko karena ini adalah track yang ngga kami kenal sama sekali. Headlamp Cuma satu, ngga ada minum ngga bawa jaket. It is too risky. Like I’ve told you before, wherever it is, hill or mountain, never underestimate it.

Maka di jarak yang Cuma ¾ lagi sampai, kami memutuskan kembali saja.

Suasananya udah ngga asik banget – kalau ngga mau dibilang mencekam. Yang paling melegakan itu ya saat berpapasan dengan anjing liar (yang takut banget sama manusia) dan dua pengemudi trail yang lewat jalur yang sama. Sempat menawarkan tumpangan tapi kita tolak. Sumpah ngga kebayang nebeng di motor trail  yang gojlak gajluk ngocok perut gitu treknya. Enak jalan cantik aja, walau lama..  gelap pake banget.. batre headlamp mau abis, tapi lebih bermartabat.

Patahan Lembang, jangan ke mana – mana dulu, kami akan kembali.

***

MENUJU WARUNG KOPI KIWARI

Sepertinya sudah hitungan beberapa bulan lalu temanku merekomendasikan untuk menyambangi tempat ini bila berkunjung ke Bandung. Tapi ya gitu, ujung – ujungnya ngga pernah sempat karena lihat rutenya agak mendaki ke daerah Padasuka itu.

Senangnya, ternyata Kopi Kiwari searah dengan Bukit Moko. Makanya aku sudah planning banget mau mampir ke sini dulu sebelum Mawar kembali ke Jakarta dan aku ketemu sama teman – teman lain.

Jarak dari Bukit Moko ke Kiwari sekitar 6 kilometer kurang dikit. Dari awal aku sudah mempersiapkan diri pasti akan jalan kaki, karena ojek pasti akan matok harga gila untuk menuju ke sana. Ya benar saja, 50rb per orang sampai ke Kiwari! Omg ogah.. pertama tanggal tua belum gajian, kedua belum gajian. Lima puluh ribu bisa dapet berapa gelas kopi di Kiwari tuh, hik.

Akhirnya kita memutuskan untuk jalan kaki saja… dan terjadilan insiden itu.

Kaki aku itu memang terlahir flat feet (baru sadar juga sih), jadi yang namanya kepelitek di engkel kaki itu sudah biasa. Biasa sakit. Banyak yang bilang tidak akan sembuh, tapi bisa dicegah saja biar ngga makin parah. Oke, intinya.. aku mengalami lah kejadian laknat itu. Di sudut jalan aspal yang bolong – bolong, ada patahan aspal yang menyisakan lubang sempit di antara aspal tersebut. Kakiku terjebak di sana, bunyi “KRAAAK!!” bikin ngilu. I knew it would getting worse. Tapi ngga ada jalan selain memaksakan untuk terus turun. Karena gimana, ngga ada angkot ojek pun ngga ada. Memang harus jalan kan?

Tapi sepanjang jalan aku sudah merutuki diri sendiri, betapa cerobohnya.. betapa bodohnya.. kan nanti mau nanjak terus gimana. Sampai tulisan ini turun, aku sudah berada di perawatan keempat fisioterapi. Ternyata untuk yang satu ini separah itu kan? Ngga sangka. Aku juga.

Akhirnya di 4 kilometer terakhir aku banyak diam, karena mau berbuat apa – apa ngga akan ubah apapun. Ngga akan ada mobil nawarin tebengan, kawasan di situ juga bukan kawasan ojek. Ah sudahlah.. nikmati saja saat buka Maps dan akhirnya…

Kiwari Farmers ku menujumu..

…dan sampai…

IMG_20170525_203551 (1)

Uwaaa seneng banget!! Jalan jauh – jauh, sampai tergoda mau berhenti aja di Cartil makan jagung bakar dan akhirnya ngga digubris dan sampailah di sini.

Cerita tentang Kiwari Farmers akan ada di postingan selanjutnya.

Flash camp ke Bukit Moko refreshed banget, pikiran.. paru – paru.. semuanya. Munggahan paling seru tahun ini sebelum puasa.

Oh ya, cek vlognya yaa jangan lupa. Pokoknya harus cek ngga  mau tau (demanding orangnya dia mah).

Jangan lupa follow juga

Youtube               : Farah Soraya

Instagram            : @anilatavisha

Follow Blog ini tentunya….

 

 

 

 

See you,

Anila Tavisha di dataran rendah

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s