Camping di Bukit Moko: Balada Kaki Kepelitek dan Kemalaman di Patahan Lembang

IMG_20170525_065120-01-01

Bukit Moko adalah alternatif saat pendakian ke Guntur ditunda karena jalan cuma berdua tapi orang kedua pun cancel. Ya hancurlah distribusi barangnya. Huh!! *lalu kesel lagi

Cuma kekecewaanku sedikit demi sedikit hilang karena ada wanita ‘murahan’ juga yang akhirnya mau substitusi dan aku hire  menjadikan camping mate. Serunya, ini semacam doa yang terjawab karena waktu pendakian di Lembu aku berjanji untuk kontak tim Papandayan 2014 dan akhirnya selama lebih dari 3 tahun – aku bisa ketemu sama kita sebut namanya Mawar.

Mawar ini termasuk junior dan terakhir bertemu saat pendakian rasa berdosa di Gunung Gede via Jalur Cibodas,sejak itu kita asik sendiri sama aktifitas kita dan ya sudahlah.. baru mulai keep in touch saat aku mulai mencari teman – teman pendakian yang berserak (dan sudah males mendaki karena sudah nikah, heuh…).

Karena langsung pendakian dirasa terlalu mendadak, maka kemping ceria aku tawarkan ke Mawar. Bukit Moko pilihannya, karena rekomendasi dari teman pendaki di Bandung – juga karena mau aja *apa sih. Hilal turun, kami berdua setuju, maka kami berangkat dan bertemu di tempat andalan masa kini saat kuliah dulu: Depok. Wkwkwkw.

***

MENUJU BANDUNG

Padahal Cuma camping, tapi persiapannya juga ngga kalah ribet. Pulang kerja ngga bisa langsung ke Depok karena ada acara kantor (suka absen pula jadi untuk yang ini aku harus ikut), terus tuker keril dari 45 ke 70 L karena bawa  tenda, nesting, dkk di Depok. Baru berangkat dari Cipete jam 20 lebih dan sampai jam 21 lebih. Sama seperti pendakian, godaan kasur biasanya mulai muncul di perjalanan.

Ngapain sih capek – capekan lagi ke Bandung Cuma buat tidur buka tenda, enak kasur

Abort aja apa ya, pulang, tidur

Tidur.. tidur.. tidur..

Sampai akhirnya ketemu Mawar pun juga kayak males – malesan, menimang bener ngga sih kita mau pergi. Karena udah malem banget – bangetan, pasti udah ngga ada pendaki lagi dari Pasar Rebo karena kita terlalu malam. Apalagi saat itu pas ada kejadian pengeboman di terminal Kampung Melayu, benar – benar bikin gentar. Tapi ya sudahlah, akhirnya..

Kampung Rambutan..

Sampailah kita di terminal ini.

As we expected,  bus ke Bandung sudah abis. Tapi masih ada Karunia Bakti yang ke Garut dan kita bisa turun di Kopo. Okelah. Kita duduk paling depan dan bawaannya mau tidur. Tsapek!! Belum kebayang kita akan jalan kaki sepanjang 8 km dari Saung Udjo Bandung ke Bukit Moko, karena banyak teman di sana bilang ngga ada transportasi daring yang mau bawa kita sampai Moko.

Akhirnya ada teman pendaki juga sekitar empat orang naik, kalau ini sih beneran mendaki bukan kemcer kayak kita berdua.

Bus berjalan, ongkos sudah dibayar.

Ngga bisa tidur.

Crap!!

***

BUKIT MOKO

Sebelum subuh kami sudah sampai Kopo, ya gitu deh.. berhenti di pinggir tol, turun di jalanan yang curam banget. Satu mz mz membantu kami mengarahkan jalan yang lebih manusiawi, tanpa panjat sosial tanpa loncat dari ketinggian setinggi badan. Tapi tetep aja, harus turun curam banget ngga  ada pegangan. Sampai akhirnya mz tersebut menawarkan tangannya tapi aku masih risih tapi butuh.. akhirnya si mas nekat menggandeng tanganku dan aku berada di titik kepasrahan terendah… ya namanya juga curam dan lagi pakai sendal jepit, ngga gigit! Haha..

Setelah itu aku order  taksi daring ke arah Gor C-Tra. Kenapa harus ke sana bukan langsung Bukit Moko? Karena asumsi teman – temanku tadi bahwa ngga ada yang mau bawa penumpang sampai Bukit Moko karena treknya jelek. Jadi kami sudah pasrah jalan menanjak 8 km nanti ke atas. Karena di sana ada Mc D dan logistik juga belum beli, akhirnya kami putuskan.. makan McD buat sarapan. Haaa haaa apa – apaan itu, masih belum bisa meninggalkan kenikmatan dunia!

Lalu sambil malu – malu aku coba bertanya si Bapak berani ngga bawa kami ke Bukit Moko instead of Gor C-Tra, akhirnya si Bapak mau yeay yeay yeay! Terima kasih Pak.

*buka kaca mobil

*tak perlu AC

Kami berhenti di minimarket bawah untuk membeli logistik buat masak – masak cantik. Sebenarnya kita sih Cuma masak sekali doang di siang, tapi ngga tau tetep excited aja buat belanja.

Lalu perjalanan dilanjutkan, dari Padasuka, Caringin Tilu sampai akhirnya Bukit Moko. Wah jangan ditanya city light viewnya (tanya aja ya), indah banget. Gabungan antara langit dengan semburat mentari yang mau muncul dan cahaya pemukiman penduduk yang masih menyala. Mungkin masih terlelap, atau masih begitu dini untuk memadamkan lampu.

Setelah kurang lebih satu jam kami sampai di parkiran Bukit Moko, selanjutnya kita melanjutkan perjalanan ke pos registrasi untuk bayar tiket berkemah. 20.000 IDR bagi yang mau berkemah dan 15.000 yang hanya mau visit saja.

Sesampainya di sana, sudah ada beberapa tenda. Tenda dengan kelompok besar – sepertinya ada acara (yang malah jadi temen ngerumpi sampai sore, cek cerita di bawah ini) – dan temanya glamping gitu, tenda keluarga dan satu tenda yang akhirnya kita putuskan untuk berkemah di belakang mereka.

Buka  tenda… Tungguin mataharinya kok ngga ada (ngga taunya kami salah spot. Gebleg)

Matahari jelas berada di belakang hutan cemara sedangkan kita nungguin di bagian depan tanpa lirik ke pohon cemara sama sekali.

Akhirnya jam 7  pagi.. kita..

Tidur…. lelap sampai jam 10 pagi.

Ngantuk, Cin!

***

IMG_20170525_063522-01

Jujur aja ini baru pertama kali aku berkemah di hutan pinus. Rasanya.. adem banget… Padahal matahari sudah terik tapi cahayanya ngga sampai ke bawah, sehingga tetap merasa dingin banget pas tidur. Walau emang ngga pake sleeping bag (malah buat bantal) dan ngga ada matras.

Tiga jam aku akhirnya benar – benar terjaga dan mulai keluar tenda. Tenda belakang sudah raib, tenda keluarga sudah siap – siap pulang. Tinggal tenda glamping masih sibuk dengan acaranya, seperti acara komunitas.

Kami berdua?

Malas – malasan banget!

Keluar tenda, ngulet – ngulet dikit, ngemil, ke kamar mandi, jalan dikit,lihat orang hammockan mulai pada datang, lihat orang pacaran makin panas aja pemandangannya.

Gitu aja sampai siang..  yang udaranya masih sejuk walau matahari sudah di atas pohon pinus.

Akhirnya  kami memutuskan untuk memasak air.. kopi Gayo hibahan tim Unikom di Gunung Lembu masih banyak dan mulai rebus – rebus. Tenda glamping sudah selesai berberes – beres dan siap – siap pulang. Yah.. sepi deh.

“Kak, kompor gue mana ya?” Tanya si Mawar. Tas – tas elu nanyanya ke gue, hiiiiihhhh..

Pas Mawar sibuk cari kompor aku tetap merebus air. Sebenarnya satu kompor juga cukup sih tapi ngga tau kenapa heboh benar.

“Kak apa kebuang ya? Atau jatoh? Masa ketinggalan di kantooor? Beneran Kak udah gue bawa…” Auk amat.

Kehebohan itu cukup menarik perhatian tenda yang tidak jauh dari kita.. dikira ada hal yang serius…

Ada 2 orang mendekati kita dan bertanya ada apa, kita bilang saja itu karena kelebaian Mawar, “yuk ngopi, Mas, Teh.. ini baru rebus airnya.”

Bergabunglah mereka berdua, nambah lagi teman kita. Yeay!!

***

Namanya Mas Unu dan Mamih (jadi ikutan manggil Mamih karena Mas Unu manggilnya itu)

Mereka eksis banget! Gabung komunitas di mana – mana. Mamih juga ngga kalah gaul, suka banget jalan – jalan ke tempat yang aku mostly  ‘pernah denger aja’ tapi dia udah pernah ke sana.

Glamping  tadi diadakan oleh mereka dalam komunitas Sadar Kawasan atau silakan cek IGnya Save Ciharus tapi jangan lupa juga ke Anila Tavisha. 

Ah pokoknya perbincangan mereka sampai ashar benar – benar menyenangkan dan ilmu kita bertambah. Dari perbedaan Cagar Alam, Area Konservasi, dkk. Sampai bahas fenomena pendaki – pendaki kekinian yang emang suka mendaki (aja) tapi ngga diimbangi sama awareness terhadap alam.

Kopi Gayonya enak, perbincangannya seru, udaranya sejuk. Ah sempurnaaaa…. Sebagai sapiosexual (pecinta sapi).. it’s been  long time I’ve never experienced such interesting topic.

Sayang banget kami cuma bisa menahan mereka sampai ashar dan mereka harus siap – siap pulang. Misi kami menahan sampai isya pun  gagal. Wkwkwk…

Anyway, thanks for lovely conversation! Never forget!

Terus ke mana lagi kita?

MASAK laaaahhh belum makan siang kami. Cek di bagian kedua ya..

Jangan lupa ditonton dong vlognya via Youtube Channel, berikut dengan SUBSCRIBEnya hehe

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s