There is no girl named Ajeng in OstiC House Jogjakarta! part 1

Disclaimer           : This post is genuinely written based on my review after staying there. No sponsored or buzzing here.

IMG_20170602_042133_HHT-01

Kalau kamu sudah nyaman di sana, saat kamu kembali.. kamu akan menganggapnya pulang alih – alih datang

“Ini pasti yang namanya Ajeng!!” Kataku berseru terhadap mbak – mbak berjilbab nan ramah yang menyambutku di jam 1 dini hari.

“Nggak ada yang namanya Ajeng, Kak Farah.” Balasnya.

“Oh jadi mbak siapa?”

“Raras.”

“Wuih.. udah ganti namanya.” Seruku, ngeles. Padahal mikir keras, dari mana nama Ajeng itu berasal.

***

Sudah menjadi kebiasaanku untuk istiqomah mencari hostel saat aku berkunjung ke Jogjakarta – alih – alih menginap di rumah saudaraku. Bukan bagaimana, kadang jam plesiranku nggak jelas. Seperti kedatanganku di OstiC House ini, check in jam 1 pagi, jam 4 subuh sudah berangkat lagi. Khan maen!

Tapi, aku hampir tidak pernah menginap di tempat yang sama. Banyak rekomendasi hostel di Jogja, baik dari saran teman maupun dari internet.

Namun kali ini, aku menginap di lokasi yang benar – benar berbeda dan aku menikmatinya!

IMG_20170602_002618-01

***

Aku mulai melihat – lihat hostel dari pencarian sederhana  di mbah gugel, hostel in Jogjakarta”. Sederhana banget, kan? Iya.

Tetapi pencarian berakhir dengan hasil yang ajaib, semua hostel yang aku datangi tidak masuk ke hasil pencarian teratas maupun Ads Gugel. Pertama kali muncul adalah di sini, Ostic House yang terletak di  Jalan Suryodiningratan – yang notabene dekat dengan Jalan Prawirotaman, yang serupa Sabang di Jakarta atau Kuta di Bali. Melihat ratingnya di beberapa website, aku semakin dibuat penasaran karena nilainya nyaris sempurna untuk hunian sekelas hostel (9,4 di booking.com dan 4,8 di Google Local Guide). Pas melihat – lihat review – aku hampir mengesampingkan dokumentasi hostel tersebut saking amazed dengan nilainya, aku melihat harga dan oh  my..cukup murah! Aku akhirnya memesan satu hari untuk inap di OstiC House.

Dari awal pemesanan aku mendapatkan email perihal jam kedatanganku di hostel tersebut. Karena hujan, kedatanganku tertunda dari jam 20:30 sampai akhirnya baru datang jam 00:30, phew. Lokasiku menurutku memang tidak terlalu strategis, tapi yang bagus adalah tidak berisiiikkkk!! Padahal beberapa puluh meter dari sana adalah jalan besar dengan pub yang nokturnal, tapi nyatanya dua hari aku menginap di sini, aku tidak terganggu dengan kebisingan apapun di sini.

Staff yang Perhatian

Ini poin pertamaku, karena stafnya sangat perhatian untuk mengirimkan email duluan mengenai kabar kedatanganku. Dari email itulah mataku siwer, karena kupikir namanya Ajeng lah yang kirim (padahal Aulia, terus Raras).Sampai pagi, aku masih yakin bahwa ada makhluk di ujung sana bernama Ajeng..

Tidak Ada yang Namanya Ajeng, Serius

Saat check in, aku bilang ke mbak Raras tolong bangunkan sahur karena aku mau puasa. Cukup pengertian (nilai plessss lagi buat OstiC) karena mereka bersedia menyediakan sarapan sahur untuk aku. Jam 1 pagi dan aku harus bangun jam 3 pagi. Malam pertama aku menginap di sana, ada tiga traveler cowok semua dari Belanda yang akan jadi teman tidurku malam itu, teman tidur, literally ya jangan mikir cem – macem. Halo, halo, apa kabar? Tidur ya. Minimal sudah basa – basi. 2 jam lagi aku harus bangun!

Oh ya, handuk dan selimut dipinjamkan dan tidak dibebankan biaya apapun, yeayness!

 

 

Belum, ceritanya belum selesai. Silakan cek lanjutan review aku di sini yaaa…

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s