Ada Ritter di Depanku

Jpeg

“Bagaimana kamu bisa menemuiku?”

“Kamu adalah buku yang mudah dibaca oleh siapapun…” Sesekali menyesap kopi di hadapannya.

“.. sedangkan aku tidak bisa terbaca olehmu.”

Tanganku mengepal, menahan kesal.  Kesal karena kalimatnya, atau karena perkataan dia benar.

Lalu Ritter Vonden – lelaki yang pernah kukirimkan surat daring melalui blogku, sudah ada di depanku. Padahal blognya terlihat mati, tidak ada aktifitas. Makanya, jangan salahkan aku yang meninggalkan jejak seakan tempatnya ada rumah kosong yang tidak berhantu.

Ternyata dia ada, rumah kosongnya masih berhantu.

***

Dua hari lalu

“Hai, aku Ritter. Bisa kita bertemu?” Sapa Ritter, dari ranah chat sosial media yang aku gunakan untuk hal tidak begitu penting.

“Bagaimana kamu tahu?” Balasku cepat, tapi hatiku berdetak tidak karuan. Bagaimana keisenganku menggunakan namanya membawaku sejauh ini ke sosok Ritter yang nyata?

“Kita bertemu di Skandinavian Coffee Jumat malam jam 20, tempat favoritmu mengerjakan tugas akhirmu. See ya, Anila.” Tutupnya. Pertanyaanku sama saja, tidak jauh – jauh dari bagaimana bisa, tapi sia – sia, dia hanya membaca tapi urung membalas.

Tapi, memang rasa penasaranku berada di tingkat tertinggi, toh aku ternyata tetap datang menemuinya. Hanya tidak tahu untuk apa.

***

Ritter yang sudah datang duluan, duduk di meja ketiga yang selalu aku gunakan saat mengerjakan tugas akhir lalu, mudah – mudahan kebetulan.

Tampilannya sama seperti bayanganku. Gaya tulisannya seakan seperti ramalan penampilannya, semua hal yang aku pikirkan tentang Ritter begitu akurat. Paracord di tangan kirinya, dengan dua – tiga gelang prusik buatan sendiri, kaos hitam, celana kargo ah apalagi, semua bayanganku tentang sosok Ritter ini pas.

“Hai… Ri..tter?” Raguku.

“Iya Anila, silakan duduk atau pesan kopimu dahulu.” Nadanya ramah, tetapi senyumnya pelit. Setelah aku pesan minumanku, aku segera duduk di depannya, melontarkan pertanyaan yang aku tahan dari dua hari lalu dia menghubungiku.

“Bagaimana kamu bisa menemuiku?”

“Kamu adalah buku yang mudah dibaca oleh siapapun…” Sesekali menyesap kopi di hadapannya.

“.. sedangkan aku tidak bisa terbaca olehmu.”

Tanganku mengepal, menahan kesal.  Kesal karena kalimatnya, atau karena perkataan dia benar.

“Kamu tidak menjawab pertanyaan,” ketusku.

Lalu dia beringsut maju ke arah wajahku, hanya sejengkal tangan dia berada di depanku.

“Sekarang aku tanya, apa yang membuatmu berkunjung ke blogku dan meninggalkan beberapa bait dengan namaku di situ – di ‘rumah’ku?” Selidiknya, tatapannya lurus ke mataku, tapi ada seringai kecil di sudut kanan bibirnya, seperti kebiasaanku.

Aku hanya bisa diam, karena aku tidak tahu. Benar tidak tahu jawaban apa yang harus aku berikan ke Ritter – sosok maya yang jadi nyata di depanku.

“See, kamu juga tidak menjawab pertanyaan.” Ujarnya mengulangi jawabanku, tanpa ketus.

“Jadi, perkenalan ini tidak membutuhkan jawaban, bukan?” Lanjutnya.

END

 

 

 

 

Anila Tavisha

22 06 2017

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s