Perempuan yang Tidak Pernah Bertanya Password Wifi

WhatsApp Image 2017-07-08 at 6.32.16 PM

Mungkin aku harus ke tempat seperti ini , agar tulisan – tulisan ini tidak berujung wacana atau rencana saja. Jauh dari kata fancy, barista yang menggelengkan kepala saat ada yang bertanya ‘passwordnya apa? Karena ketidaktersediaan jaringan nirkabel untuk nongkrong – nongkrong, atau memang enggan memberikan.

Di tempat ini, baristanya berkomitmen untuk tidak memberikan sandi wifinya ke diriku. Tempat ini punya wifi ternyata, tapi aku tidak pernah diberi tahu sandinya sama sekali.  “Aku masih bisa tether,” aku membela diri, “Tapi kamu akan lebih banyak pikir – pikir berapa kuota yang akan kamu habiskan saat kamu menggunakan kuota internetmu sendiri,” kata si barista, menyeringai. Aku kesal, bukan karena balasannya menyebalkan, karena dia benar.

Karena dia benar lagi.

***

Tempatnya begitu sempit, terlalu sempit menurutku.  Maksimal bangku yang tersedia adalah hanya untuk empat orang. Namun, ruangannya begitu compact, membuat siapapun mau tidak mau harus meluangkan waktunya untuk ngobrol dengan barista – baristanya. Kamu tidak akan merasa terpaksa melakukannya, karena mereka begitu ramah dan friendly – walau kadang – kadang banyak jahilnya.

“Aku tidak ingin menyebut tempat ini coffee shop, it’s too fancy,” gumamnya. Matanya sibuk memperhatikan sekitar, mengecek apa ada yang kurang – atau cela di ruangan mungil ini. Kadang bagiku satu – dua kelupasan di dindingnya masih dimaklumi, tapi tidak dengan si barista depanku ini. Keras kepala, I can say. Atau perfeksionis but in stubborn way.

Di hari Senin yang masih terlalu dini untuk menanti Minggu ini, pengunjung semuanya perempuan. Dengan sigap si barista mengganti lagu yang lebih chill, John Mayer – sangat wanita. Hal ini berbeda saat aku mengunjungi pada Sabtu malam, di mana mayoritas pengunjungnya adalah lelaki dan beberapa asik bergitaran menyanyikan lagu FourtyTwo atau mencoba menggapai vokalnya Danilla – yang gagal tentu saja dengan suara mereka yang ngebass.

Aku asik dengan tulisan ketiga aku. Pelitnya si barista memberikan sandi wifinya berujung menguntungkan bagiku. Ada banyak tulisan yang dapat kubagikan, ada banyak cerita yang bisa kusimpan dan kuunggah lain hari untuk dibaca.

Termasuk tulisan yang barusan kamu baca sekarang.

***

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas saat aku menyelesaikan tulisan ketigaku ini. Aku undur diri kepada seseorang yang pelit itu (tapi dia suka manas – manasin aku dengan cara setengah berteriak kepada pengunjung baru di warung kopinya “Hei kita ada wifi loh. Mau tahu passwordnya?”), lalu melirikku dengan jahil.

“Ritter, aku pulang dulu,” kataku kepada si barista – sekaligus pemilik warung kopi ini, bersiap – siap.

“Tidak perlu aku antarkan, kan?” Tatapnya, menyeringai.

“Tanya itu lain kali kalau tujuan pulangku kembali ke Belanda, Ritter.” Aku tahu pertanyaannya hanya basa – basi, mengingat jarak warung kopi miliknya  hanya lima menit berjalan kaki.

Ritter tergelak karena jawabanku, aku cium pipi kirinya tiga kali, “tot ziens, doei!*.”

“Iya, hati – hati, Anila.”

 

 

 

 

 

Jakarta, 10 Juli 2017 20:09

*= “see you later, bye” in Dutch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s