Patah Hati yang Sederhana

Disclaimer: Iya, tulisan ini memang berdasarkan kisah nyata layaknya majalah Hidayah. Tapi, tujuanku menulis cerita ini bukan untuk menjelekkan usaha temanku sendiri – tapi lebih melihat dari sisi diriku yang saat itu sedang ingin merentangkan kenangan masa lampau untuk bernostalgia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di luar biru atau out of the blue, aku lagi ingin kembali ke tempat itu. Satu atau satu setengah tahun, kurang paham – mungkin bisa lebih. Tapi, aku sudah lama tidak berkunjung di kedai kopi itu. Terakhir ke sana, malam puisi kota tersebut. Ramai, seperti biasa. Kopi hitam juga, pesanan yang sama. Hanya saja, aku baru merasakan kalau kopi itu ya memang hanya pahit.

Dengan pengalamanku yang sekarang terhadap pengecap kopi, kenapa tidak mencoba lagi?

Maka, aku putuskan untuk kembali ke kedai kopi tersebut. Bedanya, tidak seperti kunjunganku yang dulu, aku tidak mengenal orang – orang yang saat itu di sana. Bahkan pemiliknya pun – yang notabene teman kecilku, belum sampai di sana. ‘Paling pas mau tutup,’ kata barista di sana. Jelas sekarang perbedaan, selama lebih dari 2 tahun membuka usaha – ia berubah. Sekarang dia lebih banyak monitor, kalau dulu dia banyak terjun juga ke lapangan dan meracik kopinya. Hebat! Begitu senangnya aku bisa melihat jalur seseorang yang ia tata menjadi lebar dan maju. Bagaimana dengan aku sendiri? Oke, skip.

Aku memesan manual brew, V60, lalu aku bertanya, “bisa dibuat Japanese*?”

“Bisa,” katanya.

“Maksud gue, kalau ngga bisa ngga apa – apa, dibuat panas aja.”

Baristanya lagi – lagi meyakinku bahwa dia bisa. Oke. Pemilihan biji kopi dan tinggal menunggu.

Tempat ini sudah berubah, lebih tertata. Ada food display, yang saat itu nyatanya malah berisi buku. You know what? It is even better than food! Haha.

Penyajian di dekanter 400 mL, ‘eh apa ini ngga terlalu watery ya jadinya?’

Pikirku saat itu. Dingin, esnya banyak, tapi penyajiannya juga banyak.

***

Sesapan pertamaku, patah hati dalam hitungan milidetik. Aku ingat sekali 2 tahun lalu berkunjung ke sini dan aku menikmati setiap proses menyesap dalam kopi ini. Beda metode, beda jenis kopi. Apapun itu, tapi yang aku tahu hanya pahit – tapi aku menikmati.

Hanya saat itu aku tidak menikmati sama sekali. Kopinya terlalu hambar dan bercampur terlalu banyak dengan air (watery) – apalagi saat es batunya sudah mulai mencair semuanya menjadi ke mana – mana.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan dan memesan kopi yang lain (itu lebih baik menurutku).

“Sori, gue mau pesen lagi.”

“Terlalu watery yang kopinya?” Dia sudah bisa menebak dari reaksiku – dan mungkin kopi yang sebenarnya masih banyak tetapi tidak dihabiskan. Aku mengangguk tapi tidak banyak bicara, paling tidak dia tahu memang ada yang salah dengan kopi tersebut.

“V60 aja, panas ngga apa – apa.” Aku tidak mengubah biji kopinya, biarkan tetap sama biar aku bisa membedakan.

Oke, aku masih merasakan ada secercah harapan agar aku bisa merasakan kopi (i call this feel as spiritual needs) tersebut.

Pesanan kedua pun datang..

Sama saja. Tawar, hambar, seperti kebanyakan air, bahkan after taste kopi tersebut tidak ada, kecuali asam.

Patah hati itu sederhana.

Mood aku seharian ke mana – mana, obatnya satu. Tidur.

Lalu mencari kopi yang syahdu di hari berikutnya.

 

 

 

NB          : Dokumentasi ditiadakan karena ponselnya hilang. Ini adalah foto lawas dua tahun lalu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s