Titik Kritis

WhatsApp Image 2018-11-25 at 3.18.11 PM

“Ini nasi Padang terenak yang pernah aku coba!” Seru Niana. Di depannya tersaji nasi dengan ayam rendang, daging rendang dan sayur nangka. Tidak puas dengan menu dua daging, Niana menambahkan satu perkedel kentang. “Tamak,” seloroh Dirga.

Niana tidak merespon, acuh tak acuh. Empat belas dolar dan lima puluh sen untuk satu porsi. Cukup mengobati kerinduan Niana yang sudah satu tahun tidak pulang ke tanah air.

***

Masih pukul tujuh, tapi langit Sydney masih terang. Bunga di pohon jacaranda masih rimbun, belum siap untuk gugur. Warna ungunya masih terang. Indah. Di luar restoran Padang, langit masih menyenangkan. Sama menyenangkan dengan Dirga yang menghabiskan waktu dengan Niana.

“Dirga”

“Ya,” sahut Dirga, masih sibuk menggigit daging rendang, tidak perlu bersikeras, karena dagingnya sangat empuk.

“Dari 24 jam hidupmu sehari. Pagi, siang, sore, malam, apakah ada waktu yang tidak kamu suka?”

Jatah makan Niana habis, tandas tanpa sisa. Menghindari pesanan kedua karena toh perutnya sudah tidak dapat menampung, Niana membuka percakapan dengan Dirga.

“Maksudnya?” Kepala Dirga miring ke kiri, tipikal Dirga saat kebingungan dengan pertanyaan Niana yang terkadang ambigu. Niana sudah hafal benar kebiasaan sahabat di depanya.

“Hmm.. begini..” Mata Niana melirik ke luar, langit Sydney di pukul tujuh lewat lima belas. Ia mulai sedikit tidak nyaman di waktu sekarang, maka berbicara dengan Dirga adalah salah satu cara melupakan rasa tak nyamannya.

“Dalam satu hari perputaran waktu, ada satu titik di mana aku merasa tak nyaman dengan sekelilingku. Saat lampu jalan mulai menyala, langit mulai gelap – persis beberapa menit setelah matahari terbenam, aku menamakannya titik kritis.”

“Titik kritis? Kenapa?” Dirga sudah menyelesaikan makanannya, ia bisa fokus seratus persen terhadap Niana.

“Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya ini kebiasaanku waktu kecil. Orangtuaku selalu berkata, pulang sebelum matahari terbenam, kembali ke rumah sebelum lampu jalan menyala. Itu selalu berdiam di pikiranku dan sampai sekarang aku menyadari. Aku tidak suka titik kritis itu.”

Dirga melihat langit, mulai gelap. Titik kritis Niana mulai sebentar lagi.

“Niana, sebentar. Kita pindah tempat duduk dulu yuk. Kita kan sudah ngga makan lagi. Kasihan yang lain.” Tunjuk Dirga ke meja dengan dua bangku, karena sebelumnya mereka duduk di meja dengan enam bangku.

Niana patuh.

***

“Jadi bagaimana kamu menghadapi titik kritis itu setiap hari?” Dirga melanjutkan.

“Aku hampir tidak mengalami titik kritis itu setiap hari. Aku banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan untuk berkerja, jadi saat pulang sudah kepalang gelap dan aku merasa nyaman. Tapi saat aku berpapasan dengan titik kritis tersebut, aku merasa tidak nyaman. Apalagi.. jika aku sedang jalan di satu kawasan yang belum pernah aku datangi. Aku bisa gelisah.”

“Jadi, kamu butuh pengalihan hingga akhirnya kamu berhasil mengalihkan diri dari titik kritismu?”

“Betul sekali. Kamu punya titik kritis?” Niana balas tanya. Di sekeliling mereka, banyak pengunjung tempat makan tersebut untuk makan malam. Riuh rendah, kecemasan Niana berkurang.

Dirga menggeleng, “tidak punya. Aku tidak pernah terlalu memperhatikan perputaran hari, hanya terang dan gelap.”

“Beruntung kamu.”

“Atau aku yang tidak peka dan kamu terlalu sensitif”

Niana mengangguk, “betul!”

Percakapan mereka terhenti. Rumah makan tersebut memutarkan radio dari Indonesia, membuat mereka semakin rindu pulang ke rumah.

“Aku menyesal melewati konser Sheila on 7 dua bulan lalu,” gumam Niana, matanya terpejam saat mendengarkan lagu yang diputar saat itu. Sungguh hatinya ingin kembali ke rumah saat itu juga.

“Aku punya videonya, mau lihat?”

“Tidak. Ngga usah!”

Dirga menyeringai iseng, “ya udah kalau begitu aku ceritakan jadi kemarin konser tersebut..”

“Jangan, jangan ngga usah. Aku siap menunggu tahun depan mereka kembali ke sini. Tidak usah cerita darimu.”

Please Niana, kamu harus tahu.”

Percakapan mereka berubah menjadi candaan. Satu tidak mau mendengar dan satu sisi ingin sekali didengar.

Dirga berusaha mengalihkan Niana dari titik kritis yang sedang terjadi di luar sana, menurut Niana, beberapa menit setelah matahari terbenam.

Setelah titik kritis itu terlewati, mereka siap untuk pulang.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s