Seni Meminta Oleh – oleh

Aku sudah pernah menerbitkan artikel yang sejenis di akun Hipwee, tetapi tidak ada salahnya menyajikan kembali di akun pribadiku.

***

“Oleh – oleh yaaaa..” pinta seseorang yang baru aku kenal satu bulan. Baru.satu.bulan.

“Tapi kan gue stay di sana, bukan liburan.” Belaku, masih sopan dan senyum.

“Yaa pokoknya pas kembali ke sini langsung bawa oleh – oleh.”

Oh oke, toh aku tidak akan kembali lagi ke komunitas ini. Walau aku sempat kembali ke rumah selama beberapa hari.

***

Meminta oleh – oleh bukan budaya Indonesia, bukan budaya kami. Minta oleh – oleh adalah kebiasaan buruk yang bisa dimulai dari kamu, untuk mulai menghilangkan kebiasaan ini.

Kenapa?

  • You never know how they struggle saving up money for traveling. Coin per coin, small amount savings on daily basis, while they need to fulfill main invoice like electricity, phone, internet, etc.
  • And yes, if they are SINGLE DOESN’T MEAN THEY KEEP THEIR MONEY FROM THEIRSELVES of you have SHALLOW mind thinking they must be rich having their salary as their main income and spending from themselves. In certain cases, single can struggle a lot because they have dependant(s) to responsible for.Parents, siblings.
  •  “Kan cuma gue doang yang minta oleh – oleh, paling berapaan sih?” That ‘paling berapaan’ words sounds so selfish from those who asks compared with much people in traveler’s mutual asking for the same ‘ paling berapaan’. Some travelers – at the end- give you something, and you dislike it, then you complain. Ha! Funny.
  • Asking for specific souvenir. This is just so selfish on so many levels.

 

Untuk pengemis oleh – oleh (too harsh? sounds fit on you), coba pikirkan faktor – faktor di atas. Belum pernah traveling? Then start and explore. Dari rute domestik bila rute luar negeri tidak memungkinkan.

Belum bisa traveling karena keterbatasan dana dan ingin tahu barang – barang spesifik dari negara tertentu?

Kamu bisa cari jasa titip dari website tertentu atau kalau kamu punya teman yang mau berpergian, kamu bisa tanya apakah bisa menitip sesuatu.

Adapun, ini etika menitip – baik ke teman maupun ke orang yang menawarkan jasa titip:

  • Tanyakan ketersediaan untuk membelikan item tersebut.
  • Fee. Walau teman sendiri namun tidak ada salahnya menanyakan fee, karena saat mereka membantu mencarikan barang titipanmu, mereka mengeluarkan tenaga dan mungkin biasa transport.
  • Pembayaran. Beberapa penitip selalu menyarankan untuk membayar sesuai harga barang (mungkin fee), tapi ada juga – terutama teman – yang memilih untuk bayar belakangan. Pertanyaan ini juga harus diajukan sehingga tidak akan ada dispute ke depannya.
  • Kurs. Tidak ada salahnya membulatkan lebih tinggi dari kurs yang berlaku. Apalagi jika temanmu atau jastiper melakukan pembayaran visa kartu kredit di mana mata uangnya lebih tinggi.

 

Jadi teman – teman, yuk biasakan untuk tidak meminta oleh – oleh dan mendoakan agar perjalanan mereka lancar dan sehat – sehat saja. Perlahan – lahan kita hapus kebiasaan ini dari diri kita.

20180505_151240

Lokasi: Cape Tribulation, Queensland, Australia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s