Mencerna Kata

Bila satu hari ini diciptakan untuk kamu, tentu saja aku mau menjadi bagian dari harimu.

IMG-20180214-WA0023

***

“Ngga ada yang sangka loh kamu kembali ke Australia,” tepian walking track Cairns Esplanade pemandangannya terlalu biasa, tapi cukup menyenangkan untuk menghabiskan percakapan sederhana dengan orang semenyenangkan Bastiaan.

Dia hanya menyeringai, “aku menunggu adikku sampai umur 18 tahun dan berakhir dengan keinginan dia untuk langsung move in dengan pacarnya.”

Aku ingat beberapa tahun lalu Bastiaan ingin kembali ke Australia dengan adik bungsunya lalu mengadakan road trip berdua bersama. Apa daya, tahun ke tahun berselang, rencana seseorang bisa berubah.

“Paling tidak kamu merayakan ulang tahunmu di sini, Cairns yang tidak pernah dingin.”

“Kota dua musim yang paling menyenangkan se- Australia,” sambung Bastiaan.

“Eh bukan Darwin?”

Hell fuckin’ no.”

Gelak tawa kami berdua membuatku sungguh lupa kalau kita berdua tidak sendirian ke tempat ini. Aku tidak sendirian di sini.

***

Gnaash belum selesai berenang apa?” Bastiaan mengecek pergelangan tangannya, matahari sudah hampir terbenam, namun sepertinya kekasihku Gnaash masih menikmati aktifitasnya di kolam renang umum di Cairns.

Aku menggedikkan bahu, tanda meragu bahwa Gnaash rela selesai sedini ini. Dua jam perjalanan menuju kota tentu tidak sepadan dengan aktifitas renang yang hanya satu jam.

“Ngga apa – apa, kita tunggu saja.Duduk di situ, yuk.” Saranku sambil menunjuk satu bangku kosong yang tepat menghadap matahari terbenam Cairns.

Beberapa menit kami hanya menghadap matahari yang bersiap pamit kala itu, aku menikmati semilir angin dan udara yang mulai beranjak dingin, “kamu punya keinginan apa di hari ulang tahunmu?”

Aku membuka pertanyaan, penasaran. Aku tahu Bastiaan, sebelas – dua belas dengan Gnaash, ulang tahun selayaknya hari biasa. Tidak spesial.

“Anehnya, aku punya keinginan di hari ulang tahunku tahun ini,” jawabnya. Matanya tidak lepas dari ufuk Barat – tidak menatapku. Tapi caranya memandang membuatku leluasa menikmati sorot matanya, gurat wajahnya, membuatku hampir luluh.

Membuatku mengingat kembali kenapa dia dulu yang pertama.

***

I want a copy of you.” Jawabnya, lirih. Tanpa menatapku sama sekali.

Aku takut salah dengar, atau memang salah dengar, “excuse me? What did you say?”

I want a copy of you,” tatapannya beralih ke mataku. Tepat ke mataku dan aku merasa terjebak untuk mencerna kata – katanya, sampai aku merasa bibirnya sudah menyentuh bibirku.

 

 

 

Cairns Esplanade

2018

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s