Mimpiku Mati di Sydney

20181229_172258

Selang bulan berada di Australia, aku bulatkan niat untuk bersaing dengan warga lokal, untuk mendapatkan lisensi dan siap bersaing di benua lain. Bukan biaya yang sama sekali sedikit, aku harus menabung jauh hari dan terbang ke Brisbane selama 2 minggu untuk melengkapi semua persyaratannya.

 

Semakin dekat dengan Sydney saat perjalanan panjang bersama sahabatku, Albane – semakin tidak sabar aku menjejakkan kaki ke kota besar tersebut. Membayangkan besarnya kesempatan yang akan datang karena aku sudah mempunyai lisensi yang dibutuhkan secara legal.

***

Aku salah.

Perlahan, hari demi hari aku menyematkan lamaran melalui surat elektronik jumlahnya ribuan – bukan hanya ratusan – hasilnya nihil.

Mimpiku perlahan dirobek menjadi bagian – bagian kecil. Kendala visa yang sementara, walau pengalamannnya mengagumkan – kata mereka.

***

Titik terbawahku berada di Sydney. Rencana yang dengan rapi aku susun dari lama, garisnya semakin menjauh dari garis yang aku buat.  Kalau semua orang menyukai kota besar karena keberadaan segalanya mudah, aku tidak. Tumbuh di kota besar, Sydney bukan suatu kenyamanan. Kita bisa mempunyai pendapat yang berbeda tentang kota ini, namun kalau dirimu mencari pengalaman Australia yang sebenarnya, tentu saja bukan di kota besar.

***

Mimpiku mati di Sydney.

Kota ini adalah pelabuhan untuk kembali ke negaranya, temanku yang berjuang di salah satu kota kecil di Queensland, teman seperjalanan dari Cairns ke Sydney hanya menginap di area caravan dan membuat tenda.

Kota ini juga titik tinggalnya kekasihku, kami berpisah di sini karena menyadari Sydney bukan untukku, aku tinggal terpisah 8 jam perjalanan darat dan dia menetap di kota ini.

Kota ini mengajarkanku untuk tetap mempunyai mimpi dan memberikan ruang hampa di antara kenyataan dan impian, sehingga saat garisnya tidak sejalan, aku tidak kepalang kecewa dan susah untuk kembali ke atas.

Kota ini mengajarkanku berjuang dengan jarak, aku dan dia terpisah benua dan lintang waktu dan bertahan lebih dari satu tahun.

Kota ini mulai sendu, karena beberapa temanku akan kembali ke negaranya dan tidak akan kembali.

Kota ini sesak oleh orang – orang yang berjalan tergesa dikejar waktu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s