Mengkritik Alokasi dalam Hati

WhatsApp Image 2019-10-15 at 10.53.51 AM

“Bisa coba lagi?” Pintanya lagi. Sudah enam kali aku coba menyelesaikan transaksi tersebut, tapi tetap saja belum ada uang masuk di rekeningnya.

“Hhhh..” Aku menahan napas dan mencoba mengeluarkan perlahan kekesalanku seiring karbondioksida yang kuhembuskan.  Bukan gimana, aku akan jauh lebih sabar jika transaksi gagal ini dicoba beberapa kali untuk hal yang baik untuk badannya.

Tapi, ini alkohol dan rokok.

Aku berjuang menyelesaikan transaksi dari tiga wanita yang menggunakan tunjangan mingguan dari pemerintah untuk sebungkus rokok dan beberapa kaleng alkohol.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh tepat, berarti jam dua belas tengah malam waktu Canberra, sumber dana dikucurkan ke rekening mereka.

Tiga wanita dan satu pria sudah datang dari pukul sepuluh kurang dua puluh menit.

Mereka mulai panik, karena akan pulang dengan tangan kosong – tanpa alkohol dan rokok di tangannya. Salah satu wanita mencoba menghubungi layanan dari pihak tertentu dan menanyakan kenapa tunjangannya belum masuk. Tapi tidak ada yang menjawab, “coba lagi ya, harusnya sudah masuk.”

TRANSACTION DECLINED

Dananya masih kosong. Tapi, mereka bersikeras menunggu.

Segitu tidak bisa ditahankah semalaman tanpa alkohol dan rokok? Ujarku dalam hati.

Pukul sepuluh lewat satu menit, tidak boleh ada alkohol yang dibeli dari tempat ini lewat dari jam sepuluh, atau tempatku berkerja akan mendapatkan sanksi bahkan penghapusan lisensi.

“Sudah ya, kalian pulang. Besok ke sini lagi,” atasanku yang berkerja denganku mulai memberikan instruksi ke mereka. Seperti biasa, kami harus menggunakan kalimat asertif – karena kita tidak pernah tahu bagaiman perilaku seseorang di bawah pengaruh alkohol.

Restoran dan bar sudah bersih dan bangku sudah dirapikan. Tugasku sudah selesai dan aku seharusnya sudah menyelesaikan shiftku, tapi aku harus bertahan lebih lama karena mereka masih bergeming di sini.

***

“Sebentar.. beberapa menit lagi pasti masuk. Coba lagi yaa… please..” Aku melihat ke atasanku, menanti instruksi, dia menganggukkan kepalanya, “very..last..one.. No more.

Sudah pukul sepuluh lewat lima belas menit, aku takjub menyadari mereka bisa mengulur waktu di tempat ini sampai lima belas menit lamanya.

Aku memasukkan empat puluh dua dolar di mesin transaksi, harga yang gila hanya untuk sebungkus rokok. Kali ini, berhasil. Uang tunjangan sampai ke rekening mereka. Terpekik girang, mereka mulai meneruskan transaksi ke minuman. Sudah terlambat, tidak ada alkohol keluar dari gedung ini pukul sepuluh.

Mereka mulai menawar, “kemarin sama dia bisa..” Salah satunya mulai menyebut pemilik bisnis ini, karena pemiliknya sudah tidur. Tetap tidak bisa.

Pada akhirnya, mereka meninggalkan tempat ini – masih beringsut karena kesal tidak bisa membawa pasangan serasi dari rokok, alkohol.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s